Gotta Have You #18 Date on Spring

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e6177732e636f6d2f776174747061642d6d656469612d736572766963652f53746f7279496d6167652f4b724237677055593851354d59673d3d2d3339323839313831312e3134623137633533

Title: Gotta Have You ( Chapter 17)| Author : 29Megumi (@0729yes) | Casts: Park Jinyoung (GOT7), Im Nayeon (Twice), Park Chanyeol (Exo) | Genre: Romance, school, fluff, drama | Duration: Chaptered (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)  (11) (12) (13) (14) (15)  (16)  (17)  …. | Rating : G

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik saya megumi. sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh utama, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

A/N : semua cerita dalam fanfiction ini murni hasil pemikiran author sendiri. Dimohon jangan meng-copy-paste atau semacamnya tanpa izin ya, Gomawo ^^, semoga kalian suka sama fanfictionnya ( RCL)

.
.
.
.
.
.

Park Jinyoung mendudukkan dirinya pada ranjang setelah selesai membersihkan tubuh. Masih dengan rambut yang basah, Jinyoung mengusap-usap handuk untuk mengeringkan rambutnya. Ia menoleh ketika ponsel nya bergetar.

Pemuda itu mengukir senyumnya mengetahui siapa yang mengiriminya pesan.

From : INY
“Pakai baju orange ya 😉

Jinyoung mengerutkan keningnya, ia tertawa kemudian memahami maksud Nayeon. Astaga, ini menggelikan. Tapi menyenangkan.

Tentu saja pemuda itu segera melesat kedalam almarinya, mencari baju yang cocok untuk ia kenakan dan sesuai dengan permintaan Nayeon. Maniknya, menangkap sebuah sweetear berwarna orange tergantung disana.

Jinyoung meraih sweetear itu dan mencocokkan dengan kaos putihnya. Ia pun tersenyum cerah dan segera memakainya. Sejak tadi, pemuda itu tak berhenti tersenyum. Entahlah, ia merasa seperti baru pertama kali pergi berkencan saja.

Seperti bunga sakura yang mulai bermekaran setelah musim dingin. Jinyoung merasakan hal yang sama, ia merasa dirinya seperti hidup kembali, berpijak kembali dibumi yang penuh dengan cinta. Jinyoung terkekeh sendiri memikirkan itu, ia akan mencoba lebih baik sekarang.

.
***
.

Nayeon mondar-mandir dibalik cermin besarnya, ia sibuk menata rambutnya tapi tak jua mendapat hal yang sesuai keinginan. Mungkin ia terlalu gugup. huh.. kenapa rasanya mendebarkan sekali, berkencan dengan seseorang yang kau tahu, dia mulai menyukaimu. Ah,  ada begitu banyak harapan disana.

“Sudah! Sudah! Kaca itu bisa pecah kalau kau terus berdiri disana”

Nayeon melirik Jaebum tajam, “siapa yang suruh oppa masuk kekamarku tanpa izin?”

Jaebum tertawa, “terserah padaku, rumah ini rumah ku”

“Tapi ini kamarku”

“Kamarmu ini bagian dari rumahku”

“Ishh”

Nayeon tak mau memperdulikan Jaebum, ia kembali sibuk memilih baju dan juga dandanan yang tepat. Ia tidak mau terlihat buruk didepan Jinyoung.

“Kau akan pergi kemana dengannya?” Tanya Jaebum

“Rahasia” ujar Nayeon mengerling.

Jaebum mendengus, “jangan pulang terlalu malam, kata Changsung hyung, kakek pulang nanti malam atau besok pagi”

“Iya iya”

Jaebum hendak keluar kamar, tapi Nayeon menahannya.

“Oppa”

Jaebum menoleh,

“Apa menurutmu, semua laki-laki itu tahu kalau ada seseorang yang menyukainya dan memperhatikannya diam-diam?”

Jaebum mengerutkan keningnya heran dengan pertanyaan Nayeon. “Maksudmu? Ya kalau yang suka brutal seperti mu sih pasti tahu, untung saja Jinyoung tidak kabur”

“Ish… aku serius… oppa Apa laki-laki hanya akan melihat wanita yang ia suka? Tanpa melihat wanita yang suka padanya?”

Jaebum menghela napas, “ia hanya akan berpura-pura tidak melihatnya”

“Ne? Kenapa begitu? Bukannya itu kejam?”

“Karena dia tidak menyukainya, itu lebih baik ketimbang ia terus menerima cinta dari wanita itu tanpa pernah membalasnya”

“Tapi kan, seharusnya laki-laki itu memberinya kesempatan”

“Itu mungkin, tapi hanya terjadi 0,001%, karena tak semua wanita mampu bertahan sampai laki-laki itu memberi kesempatan, jika ada laki-laki lain yang lebih baik pasti mereka beralih”

“Itu salah laki-laki! Kenapa merea terlalu lama menyadari dan sibuk menghindar?”

“Karena laki-laki hanya mencintai satu kali, kalau ia sudah menemukan tambatan hatinya, ia akan hanya ada pada satu hati itu”

“Benarkah?”

Nayeo  terdiam, apa mungkin Jinyoung sudah menambatkannya sebagai tambatan hati? Atau itu untuk chaeyeon? Karena Chaeyeon adalah yang pertama untuknya.

“Yang pertama itu tidak penting, bagi laki-laki, kepada siapapun dan yang keberapapun jika ia sudah menambatkan hatinya, maka ia tidak akan merubahnya, berbeda dengan perempuan yang lebih mudah mencari laki-laki lain”

“Tidak juga”

“Masa?”

Jaebum tertawa,

“Lalu kau sendiri? Apa oppa tahu kalau ada seseorang yang menyukai oppa diam-diam?” Tanya Nayeon memancing kepekaan seorang Im Jaebum.

“Entah, aku terlalu banyak penggemar, semuanya menyukaiku”

Nayeon mendengus, sifat narsistik Jaebum itu tak tertolong. Ya, walaupun itu memang benar, tapi setidaknya tidak perlu dibanggakan setiap saat. Jaebum tertawa dan melengos keluar kamar. Nayeon bingung, apa Jaebum tidak tahu kalau Jisoo menyukainya? Tapi mustahil, setahunya, Jaebum itu sangat pandai membaca seseorang. Walau ia hanya diam.

***

Tak ada yang lebih indah dari musim semi. Musim yang menggambarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang indah yang muncul setelah melewati berbagai musim sebelumnya. Sama seperti halnya sakura yang bermekaran ketika musim semi, mereka menambah indah musim yang identik dengan romansa itu.

Hari ini, awal april dipertengahan Musim semi, Jinyoung dan Nayeon memulai sesuatu yang baru diantara keduanya setelah tiga tahun saling mengenal. Bukan, bukan mereka sudah terikat sebagai sepasang kekasih. Tapi, mereka sama-sama maju satu langkah untuk memulainya.

Jika biasanya ketika Nayeon mengajaknya pergi kesuatu tempat, Maka Jinyoung hanya mengekori gadis itu yang sibuk berceloteh satu langkah dibelakangnya.

Tapi kali ini berbeda,

Jinyoung maju satu langkah untuk bersisian dengan Nayeon. Tidak hanya itu, pemuda itu bahkan menautkan jemarinya pada jemari Nayeon yang lebih kecil. Berjalan beriringan disepanjang jalan taman Yeouido.

Langit dan tanah Yeouido yang berwarna merah muda akibat sakura yang bertebaran dimana-mana itu membuat keduanya bak berada dalam sebuah dongeng picisan yang membuat siapapun terbuai akan manisnya cinta yang disuguhkan.

Kegugupan sangat amat melanda keduanya. Jinyoung sendiri sadar, jantungnya berdetak tak karuan sejak tadi. Dan hanya  Nayeon yang bisa membuatnya seperti ini.

“Ku kira kau tidak menuruti ucapanku” ucap Nayeon memecah keheningan keduanya.

“Apanya?” Tanya Jinyoung

Nayeon menunjuk sweetear yang dipakai Jinyoung. Sweetear yang sangat berwarna senada dengan mantelnya. Orange couple, haha itu sangat lucu.

Jinyoung mengangguk,

Ya,

Hanya mengangguk, dan setelahnya kembali memperhatikan pemandangan sekitar. Nayeon mengerucutkan bibirnya, ‘kapan sih, Jinyoung bisa lebih berekspresif’ batinnya.

“Jinyoung-ah.. kita duduk disana saja ya”

Nayeon menunjuk sebuah pohon yang terletak disalah satu bagian taman yang mana banyak pasangan berpiknik disana.

Jinyoung mengangguk kembali, lantas melangkah membawa Nayeon kesana.

Jinyoung meletakkan tas hitamnya, mengambil sebuah alas dari sana dan menggelarnya. Sementara Nayeon merapikan kotak bekal yang ia siapkan untuk piknik musim semi hari ini.

Satu lagi hal yang selalu Nayeon bayangkan ketika memiliki kekasih dilakukannya dengan Jinyoung. “Piknik berdua”

“Kau menyiapkan itu semua?”

Jinyoung menunjuk beberapa nasi kepal yang sangat lucu bentuknya itu. Ia sangat lapar, tanpa pamit pun ia meraih nasi itu. Tapi,

Plak

“Yak?”

Nayeon menepuk tangan Jinyoung. “Nanti dulu makannya” tegas Nayeon seperti ibu yang melarang anaknya.

Jinyoung mendengus, “aku lapar, lagi pula kau bawa itu untuk dimakan kan?”

“Iya tapi nanti dulu, aku foto dulu”

“Foto?”

Nayeon mengangguk dan meraih ponsel dari sakunya, ia bersiap memotret makana yang sudah ia tata diatas tiker tempatnya dan Jinyoung berpiknik.

“Ah.. posisinya bagaimana ya biar bagus” gumamnya sendiri dengan sesekali mengatur posisi makanan yang ia tata.

Jinyoung menghela napas, ia menangkup dagunya dan menunggu Nayeon yang sibuk sendiri.

“Bagaimana kalau aku beli permen kapas disana” tanya Jinyoung

Tapi Nayeon tidak menjawabnya, ia masih sibuk memotret dari angle sana sini.

“Nay?”

“Iya iya sebentar”

Jinyoung hanya pasrah,

“Jinyoung singkirkan tanganmu! Itu menganggu view fotonya”

Jinyoung terperangah, ia pun menyembunyikan tangannya.

“Tas mu juga”

“Tsk.” Jinyoung meraih tasnya dan meletakkannya jauh dari objek utama Nayeon.

Laki-laki dan perempuan memang memiliki DNA yang berbeda. Untuk apa juga harus di foto dulu? Sungguh, rasanya Jinyoung ingin menarik tiker disana dan menghancurkan semuanya. Ia tidak tahu, kalau bagi perempuan, memfoto hal indah bersama pasangan itu sangat menyenangkan apalagi bisa membaginya nanti. Menyampaikan pada semua orang betapa bahagianya mereka.

Jinyoung menopang dagunya kesal, Nayeon tak kunjung selesai dengan urusannya.

“Cah… cantik sekali, lihat Jinyoung-ah”

Nayeon akhirnya mendudukkan dirinya disebelah Jinyoung dan menunjukkan hasil jepretannya. Jinyoung mengangguk-angguk setuju saja. Tapi maniknya terus melirik Nasi kepal disana.

“Apa sekarang boleh dimakan?” Tanya Jinyoung.

Nayeon tersenyum cerah, gadis itu meletakkan ponselnya dan meraih nasi kepal pada kotak bekal dihadapan mereka.

“Aaaa”

Nayeon menyuapi Jinyoung, Jinyoung menerimanya tentu saja. Selain karena ia lapar, tapi ia juga senang. Nayeon benar-benar lucu. Walau ia tidak menggunakan bandana atau pita dirambutnya, Nayeon tetap cantik dan manis dengan surai gelombangnya yang polos.

Jinyoung mengulurkan tangan mengusap kepala Nayeon gemas.

“Lagi, Aaa”

Nayeon menyuapinya lagi.

“Kau yang membuatnya sendiri?” Tanya Jinyoung seraya meraih nasi ditangan Nayeon dan hendak memakannya sendiri. Karena ia sangat lapar.

“Tidak” Nayeon menunjukkan cengiran khasnya, “awalnya iya, tapi bentuknya tak karuan, jadi aku minta bantuan Jinhee eonni”

Jinyoung mengangguk dan memakan kembali makanannya. Nayeon meraih telur rebus, mengusap-usap itu dan, ia melirik Jinyoung usil,

TAKK

“Arghh… Yakkk!”

Nayeon tertawa senang, Jinyoung memegangi kepalanya yang kesakitan. Nayeon baru saja menggunakan kepalanya untuk memecahkan cangkang telur.

“IM NAYEON” Jinyoung tak terima.

“Aaaaa…” bukannya minta maaf, Nayeon justru kembali menyodorkan Jinyoung telur yang telah ia kupas untuk dimakan.

Jinyoung menahan tangan Nayeon. Ia memicingkan matanya tajam kearah Nayeon, gadis itu hanya terdiam menyesal.

Chup

Nayeon terkejut, Jinyoung mencuri ciumannya kembali.

Jinyoung tertawa, salahkan bibir Nayeon yang terlalu menggoda. Ia lantas meraih telur ditangan Nayeon dan memakannya sendiri.

“Jinyoung!” Nayeon masih terkejut dengan apa yang dilakukan Jinyoung. Sungguh, jantungnya mau copot.

“Wae?”

Jinyoung sendiri tak ambil pusing, ia justru merebahkan dirinya dengan kepalanya berada diatas kedua kaki Nayeon.

Nayeon makin terkejut, pipinya memanas karena malu dengan sikap Jinyoung.

“Suapi aku lagi”

Nayeon mengangguk perlahan menyembunyikan wajahnya yang memanas. Oh, pipinya bahkan memerah sekarang.

“Tidak baik makan sambil tidur Jinyoung-ah” ujar Nayeon

“Tapi aku maunya seperti ini, lihat aku bisa melihat wajahmu yang merah itu, lucu”

“Yaaa…!”

***

Im Jaebum memandangi Jisoo yang sibuk memakan sarapan paginya dengan lahap.

“Katakan padaku”

Jisoo melirik Jaebum, “apa?”

“Apa yang kau katakan pada Nayeon? Kenapa dia bisa menurut padamu?”

Jisoo menghela napas, “Dia bukan menurut padaku Jaebum-ah, aku dan dia itu sama-sama perempuan, jadi kami saling memahami, makanya dia mau menerima masukanku” tutur nya menjelaskan.

Jaebum masih tidak paham, entahlah, ia hanya cemburu, karena biasanya Nayeon akan menurut padanya, tapi sekarang justru tidak.

“Ada kalanya urusan perempuan hanya boleh diketahui oleh sesama perempuan, laki-laki tak perlu ikut campur” ucap Jisoo lagi memahami kegelisahan tak berdasar Im Jaebum.

Jaebum melirik Jisoo kemudian menghela napas, pemuda itu meraih hot choco nya dan meminumnya. Jisoo memperhatikan itu tanpa berkedip. Kalian tahu? Jaebum sangat-sangat Tampan. Huft~

Jisoo menunduk menyadari ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk memuaskan perasaannya. Berharap pun ia tidak berani.

“Dia pergi dengan Jinyoung tadi pagi”

Jisoo mengangguk menandakan ia tahu soal itu,

“Apa kau tahu mereka pergi kemana?” Tanya Jaebum

Jisoo mendengus, “tidak usah ikut campur urusan rumah tangga orang lain”

“Mwo? Rumah tangga?”

Jisoo hanya tertawa. Dan kembali melahap sarapannya. “Sudah cepat habiskan sarapanmu, dan secepatnya ke stasiun televisi”

Jaebum mengangguk, ia dan Jisoo memang keluar bersama untuk mengumpulkan Hasil film project mereka yang akan dilombakan. Seharusnya Jinyoung yang melakukan itu, tapi Jinyoung menyerahkan tugasnya pada Jaebum dengan alasan adiknya meminta diajak kencan. Cih, meski Jaebum kesal waktu tidur akhir pekannya diganggu, ia tetap melakukannya. Toh, ia tidak bisa tidak menuruti kemauan Nayeon.

“Musim semi ini, kau tidak berencana pergi kesuatu tempat Jaebum-ah?” Tanya Jisoo kembali membuka konversasi.

Jaebum menggeleng, “Tidur adalah hal yang sangat tepat dilakukan ketika libur”

Jisoo menggeleng tak percaya, “wah, kau melewatkan keindahan sakura kalau begitu, sayang sekali, padahal musim semi hanya datang satu tahun satu kali”

Jaebum mengadahkan bahu acuh, “mata ku hanya akan dikontaminasi pasangan muda yang sibuk kencan Jisoo-ah, lebih baik aku tidur”

“Kalau begitu, kau juga harus berkencan, supaya tidak iri”

Jaebum tertawa, “kencan? Iri? Hei! Aku tidak iri, dan kencan, aku tidak terpikir untuk itu”

Jisoo tersedak, “tapi kau suka perempuan kan?”

Jaebum melotot, “yak! Aku ini normal”

Jisoo menghela napas lalu tertawa, begitu juga Jaebum. Walau ini cuma sekedar atas nama tugas, tapi setidaknya labelnya tetap sama, akhir pekan Jisoo dihabiskan bersama Jaebum.

Itu lebih dari cukup.

Cinta yang sederhana.

Dibalas itu, Bonus.

Ya, bagi Jisoo seperti itu.

***

“Kenapa Oppa disini lagi?” Jung Chaeyeon menunjukkan kekesalannya melihat Chanyeol berdiri diambang pintu rawat inapnya.

Hari ini, Chaeyeon sudah diperbolehkan untuk pulang, dan karena Ibu Chaeyeon masih harus menyelesaikan berbagai pekerjaan menumpuk dikantornya. Chanyeol terpaksa membantu untuk mengantar Chaeyeon.

“Aku akan membantumu” ucap Chanyeol

Chaeyeon mendengus, “aku bisa sendiri” tegas nya dan bangkit dari duduknya. Membuktikan kalau ia bisa berdiri dan berjalan sendiri.

“Maksudku, membantumu membawa tasmu, kau berharap aku gandeng atau aku papah begitu?” Tanya Chanyeol geli.

Chaeyeon kesal, ia lantas berjalan lebih dulu meninggalkan kamar. Sementara Chanyeol mengekori dibelakangnya dengan membawa tas Chaeyeon.

Chanyeol menyetir mobilnya dengan tenang dan tanpa berucap apapun. Chaeyeon sesekali melirik Chanyeol, ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ia tidak berani. Ia takut, hatinya goyah lagi. Tapi, ucapan ibunya semalam membuatnya terus kepikiran.

“Dia anak yang baik, apa dia temanmu? Ini pertama kalinya ibu lihat kau memiliki teman perempuan, dia juga sepertinya sangat khawatir pada chaeyeon-ah, teman seperti itu harus dijaga, mencari teman seperti itu sulit ditengah kehidupan yang serba tipu daya sekarang ini”

Chaeyeon menghela napas, ia mengalihkan pandang pada pemandangan jalan diluar sana. Ia baru sadar, sepertinya Musim semi sudah memasuki pertengahan musimnya. Pasti menyenangkan kalau pergi melihat bunga sakura.

“Oppa?”

Chanyeol hanya melirik, tidak menjawab atau juga berdehem. Chaeyeon tahu, Chanyeol mendengarnya. Ia memejamkan matanya,

“Apa yang kau rasakan, ketika kau merelakan Nayeon pergi dengan Jinyoung?”

Chanyeol fokus pada jarak pandang menyetirnya, tapi ia tersenyum tipis mendengar pertanyaan Chaeyeon.

“Lega, awalnya memang sakit, tapi aku merasa lebih tenang, dan tidak gelisah sepertimu”

Chaeyeon melirik Chanyeol, “tapi, aku tidak bisa melupakan Jinyoung”

Chanyeol menghela napas berat, “bukannya tidak bisa, tapi kau tidak pernah mencoba”

Gadis itu hanya diam mendengar jawaban Chanyeol. Yang dikatakan Chanyeol memang benar, ia gelisah, selalu gelisah. Tak seharipun ia lewati dengan perasaan tenang. Ia selalu takut Jinyoung akan benar-benar pergi darinya dan mendekap Nayeon. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa melewati hari setelah itu,

Chaeyeon terlalu menginginkan Jinyoung. Dan memang benar juga, ia tidak pernah mencoba melupakan Jinyoung.

***

Senyum adalah hal pertama yang membuat seseorang menarik perhatianmu. Jinyoung mengakui itu, ia sangat menyukai senyum Nayeon. Senyum yang akan membuat gigi kelinci gadis itu terlihat lucu, mata yang akan berbentuk seperti bulan sabit, dan manik matanya yang memancarkan ketulusan.

Jinyoung suka itu.

Cantik,

Pemuda itu tak berhenti memotret Nayeon yang sibuk berceloteh tentang sakura, tentang taman Yeoidou ini, atau tentang mitos-mitos pasangan yang aneh.

“Jinyoung-ah, orang bilang, kalau kita bertemu dengan seorang pria diawal musim semi dan dibawah bunga sakura yang bertebaran, itu tandanya kita jodoh” ucap Nayeon sangat serius

Jinyoung tertawa, “hal konyol”

“Aku serius, seperti ini, kau berdiri dari sana, lalu berjalan kesini perlahan, aku akan berjalan dari sana dan kita bertemu disini, oke?”

Nayeon berlarian kearah seberang dan Jinyoung masih dengan tawa gelinya mengikuti perintah Nayeon dan membiarkan kameranya bergantung, menyudahi kegiatan memotretnya.

Jinyoung dan Nayeon sama-sama berjalan saling mendekat dari arah berlawanan. Nayeon tak berhenti tersenyum, sementara Jinyoung tak berhenti merekam semua itu dalam otaknya.

Lembayun angin musim semi membuat Nayeon makin terlihat cantik dan manis.

Keduanya bertemu tepat dibawah sebuah pohon sakura. Nayeon menunduk malu, dan berhenti tepat satu langkah dihadapan Jinyoung.

Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain, Jinyoung tak salah, ia melakukan hal yang benar. Seharusnya, dari dulu ia lakukan ini. Cara Nayeon menatapnya, ia tidak pernah lupa itu.

Dibawah langit sakura hari itu, Jinyoung kembali maju satu langkah mengikis jarak mereka seperti tadi pagi. Ia meraih Nayeon dan menariknya kedalam pelukannya.

Aroma jeruk khas Nayeon terkuar sangat memabukkan, Jinyoung membenamkan Nayeon didada bidangnya. Ia mendekap erat, dan sangat erat. Ia tidak mau kehilangan Nayeon. Nayeon berhasil menerobos masuk terlalu dalam kerelung hatinya.

Nayeon sendiri membalas pelukan Jinyoung. Ia melingkarkan tangannya dipinggang Jinyoung dan menyenderkan kepalanya damai dalam dekapan Jinyoung.

“Jangan sembunyikan apapun lagi Jinyoung-ah”

Ucapan Nayeon sedikit teredam karena pelukan mereka, tapi Jinyoung mendengar itu. Dan ia berbisik tepat ditelinga Nayeon.

“Ya”

Nayeon tersenyum senang, ia kembali mengeratkan pelukannya. Ia sangat bahagia. Oh Tuhan, tidak bisakah waktu berhenti disini?

***

“Selca! Ayo selca”

Jinyoung menggeleng keras dan menghindar, tapi Nayeon tak menyerah, gadis itu terus menarik-narik lengan Jinyoung.

“Ayolah… view itu sangat bagus Jinyoung-ah” rayu nya lagi

“Tidak mau!” Tegas Jinyoung.

“Jinyoung….”

“Kau saja, aku tidak”

“Mana bisa begitu”

“Aku tidak mau Nayeon-ah”

“Sekali saja… ya?ya?ya?”

Jinyoung berbalik arah dan meninggalkan Nayeon yang terus merengek. Nayeon menghentakkan kakinya kesal dan mau tak mau mengikuti Jinyoung.

Jinyoung sendiri berjalan menghampiri sebuah kedai kopi. Ia membeli kopi disana dan memesankan susu juga untuk Nayeon.

Nayeon yang masih merajuk karena keinginannya tidak dituruti pun hanya diam dan mengerucutkan bibirnya kesal.

“Kau tahu donal bebek? Wajahmu persis seperti itu” ungkap Jinyoung meletakkan segelas cup susu ditangan Nayeon.

Nayeon membelalakkan matanya, “apa kau bilang? Donal bebek?????”

Jinyoung tertawa, “ya dari pada aku bilang seperti bernard bear”

“JINYOUNG!” Teriak Nayeon kesal.

Dan laki-laki itu justru tertawa lebar lantas kembali berjalan mendahului Nayeon. Nayeon bersusah payah mensejajarkan langkah dirinya dengan Jinyoung.

Jinyoung melirik Nayeon, ia pun meraih tangan Nayeon yang bebas. Menggenggamnya dan kembali berjalan bersama.

Ketika angin melambai, dan bunga sakura bertaburan Jinyoung dan Nayeon sama-sama merasakan debaran yang tak biasa. Yang membuat keduanya saling mengukir senyum bersama.

Adakah yang bisa merusak romansa manis mereka? Sungguh, sangat menyakitkan dan kejam.

Kebahagiaan itu terlalu indah untuk dirusak.

***

“Terimakasih untuk hari ini” ujar Nayeon tersenyum hangat.

Ia dan Jinyoung baru saja sampai dirumahnya beberapa saat lalu.

Jinyoung tertawa, “aku benar-benar seperti berkencan sekarang”

“Memang iya kan?”

“Iya-iya” Jinyoung mencubit pipi Nayeon gemas.

Nayeon tidak protes, ia hanya tertawa senang. Tapi entah kenapa, Jinyoung justru teringat soal kejadian di bus waktu itu, dimana Nayeon mengigau soal Chanyeol. Jujur, ia terganggu soal itu.

“Okey, mana kertas stampnya?” Tanya Nayeon

Jinyoung merogoh saku celananya dan menyerahkan hal yang dicari Nayeon. Gadis itu menstempel kolom ke delapan disana.

“Stamp8: Complete”

Jinyoung tertawa, sebenarnya ia sudah tidak terlalu peduli soal stamp itu. Baginya, kapanpun Nayeon mau, ia bersedia pergi kemana saja.

“Mm… Jinyoung-ah”

“Ya?”

“Aku sudah punya sesuatu yang harus kau lakukan, stempel ke sembilan”

“Apa?”

Nayeon terdiam beberapa saat. Ia menggenggam erat kertas stampel Jinyoung dan memejamkan matanya. Setelah menghembuskan napasnya siap, Nayeon mengadahkan pandangannya menatap Jinyoung.

Jinyoung turut membalas tatapan Nayeon. Menunggu-nunggu apa yang aka disampaikan Nayeon,

“Berkencanlah satu hari dengan Chaeyeon”

Deg

Jinyoung membelalakkan matanya tak percaya, hei apa maksudnya?

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

To be continued

Iklan

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s