Gotta Have You #17 Nayeon Chose

cocoba-gottahaveyou

Title: Gotta Have You ( Chapter 17)| Author : 29Megumi (@0729yes) | Casts: Park Jinyoung (GOT7), Im Nayeon (Twice), Park Chanyeol (Exo) | Genre: Romance, school, fluff, drama | Duration: Chaptered (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)  (11) (12) (13) (14) (15)  (17)  …. | Rating : G

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik saya megumi. sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh utama, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

A/N : semua cerita dalam fanfiction ini murni hasil pemikiran author sendiri. Dimohon jangan meng-copy-paste atau semacamnya tanpa izin ya, Gomawo ^^, semoga kalian suka sama fanfictionnya ( RCL)

.
.
.
.

.

Herannya, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Dipikiranku, terus terbayang bagaimana caramu menatapku.

Aku harap, besok hubungan kita akan lebih baik dari hari ini.

-Park Jinyoung-

***

Park Jinyoung menutup rapat mulutnya. Ia hanya diam sejak ucapan Arin beberapa menit lalu. Mereka pun menghabiskan waktu hanya dalam diam selama berjalan menuju rumah Nayeon. Gadis Im itu sibuk dengan pikirannya yang tak menentu dan Jinyoung tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak mengerti bagaimana harus memulai frasa dengan Nayeon kini. Tapi dipikirannya terus terbesit ‘apakah harus dipermasalahkan hal seperti ini?’ Tapi sekali lagi, Jinyoung cukup tahu, kalau bagi perempuan perasaan itu yang paling utama.

Tak terasa, keduanya sudah menginjakkan kaki dihadapan rumah Nayeon. Nayeon yang sebelumnya menunduk pun kini mencoba untuk mendongakkan kepalanya dan bersusah payah menatap Jinyoung.

“Jin-

“Nayeon-ah”

Nayeon cukup terkejut ketika Jinyoung memotong ucapannya. Manik mata gadis itu pun menatap lekat manik Jinyoung yang juga menatapnya. Keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain. Entah apa yang mereka dapat dari tatapan itu, tapi bagi mereka, perasaan itu sangat terasa disana.

“Aku tidak tahu harus memulai bagaimana menjelaskannya, tapi aku rasa dan aku pikir bukan aku yang seharusnya menjelaskan, awalnya aku ingin mengatakan padamu soal itu tapi aku tidak tahu kalau kejadiannya malah seperti ini, dan aku..

“Cih.. selalu cari aman”

Jinyoung terdiam mendengar ucapan Nayeon. Pemuda itu menghembuskan napasnya, ia hendak memulai bicara lagi tapi Nayeon menyelanya.

“Memang kapan sih kau bicara sesuatu tentang ku? Maksdunya tentang hubungan kita? Ah bahkan kau tidak bilang kau menyukaiku, kau hanya bilang kata-kata yang aku masih harus berpikir dan menyerapnya. Kapan sih kau mau bersusah payah menjelaskan ini dan itu sebelum aku yang bertanya? Saat jisoo dan kau dirumorkan berkencan juga kau diam saja kan? Kau selalu seperti itu Jinyoung! Aku juga tidak mengharapkan penjelasanmu” tukas Nayeon

Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan gejolak emosi yang hampir membuatnya menangis. Seharusnya, Jinyoung memeluknya sekarang, menenangkannya dan mengatakan kejelasannya, bukan bicara seperti tadi. Oh bahkan pemuda Park itu hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang tak tahu seperti apa dijelaskannya.

Nayeon kesal, ia mendorong Jinyoung dengan sisa tenaganya yang sejak tadi terkuras karena menahan emosinya untuk menangis.

“Kenapa kau hanya diam saja???!!” Teriak Nayeon.

Jinyoung menahan lengan Nayeon yang terus berusaha memukulnya.

“Itu hanya masa lalu, tidak akan ada gunanya juga untuk dibahas, bagiku yang penting itu yang sekarang dan bagaimana kedepannya, bukannya yang telah berlalu Im Nayeon”

“Apa kau bilang?” Nayeon tak suka dengan ucapan Jinyoung

“Kalau kau mau hubungan kita berjalan dengan baik, berhenti membicarakan masa lalu dan cukup tata apa yang ada sekarang dan bagaimana menyusun rencana kedepan. Hanya begitu Im Nayeon” jelas Jinyoung dengan lembut dan mencoba agar Nayeon mengerti.

Tapi Justru sebaliknya,

Nayeon terperangah mendengarnya. Mungkin bagi Jinyoung ini bukan apa-apa. Tapi baginya, ini sangat menyakitkan. Karena ia tahu, bagaimana Chaeyeon sahabatnya memperjuangkan masa lalunya untuk kembali.

“Tidak bagiku Park Jinyoung!” Tukas Nayeon.

“Nayeon-ah”

“Bagaimana kita bisa berjalan jauh lebih dari ini kalau nyatanya kau masih memasang dinding tinggi dihadapanku” ujar gadis itu menggebu. Emosinya meluap dan air matanya tak terbendung lagi.

Rasanya sakit, apalagi mengetahuinya dari orang lain.

Jinyoung diam, ia menunggu Nayeon menjelaskan kalimatnya. Gadis itu menitihkan air matanya, ia mengusap itu kasar dan kembali menatap lekat manik mata Jinyoung.

“Kau tidak pernah memberitahuku siapa saja keluargamu, bahkan kau menyembunyikan fakta kalau Chanyeol Oppa adalah kakakmu! Dan kau sama sekali tak bertanya saat jelas kau tahu aku sudah tahu semuanya”

“Karena menurutku itu tidak penting, yang seharusnya mengatakan itu ya Chanyeol Hyung, bukan aku.. dia yang susah memberitahukan hubungan asliku dengannya” Jinyoung mencoba mengucapkan bagaimana kondisinya dan juga alasannya. Tapi sepertonya, ia memilih frasa yang salah.

“Bukan hanya itu, hal kecil apapun darimu juga aku tidak tahu, aku tidak tahu kau tinggal dimana, aku tidak tahu bagaimana rumahmu, seperti apa orang tuamu, atau temanmu, kau tidak pernah memberi tahu aku apapun tentangmu, kau tidak pernah memberikan jalan untuk aku masuk dalam kehidupanmu. Bahkan kau menutupi kalau chaeyeon sahabatku adalah mantan kekasihmu! Seharusnya kau mengatakan itu dari awal Park Jinyoung!” Ujar Nayeon makin emosi.

Jinyoung memejamkan matanya dan mengambil napas dalam, ketika ia membuka matanya Nayeon kembali menghujaninya dengan kemarahan.

“Seharusnya kau memberitahuku!!! Kenapa kau diam saja dan membiarkan aku begini!! Seharusnya kau menolakku saja! Kau suruh aku berhenti ! Bukannya diam saja dan membuat aku berharap Park Jinyoung!!!!! Kau kejam! Aku tidak percaya padamu! Apapun ucapanmu!” Nayeon terus memaki Jinyoung dan memukuli pemuda itu.

“Im Nayeon!” Jinyoung akhirnya berucap cukup tegas dan hampir berteriak.

“Kenapa kau yang membentak?” Nayeon menangis.

“Pertama, soal hubunganku dengan Chanyeol hyung, Hyung yang memintaku merahasiakannya darimu, karena dia menyukaimu! Kedua, chaeyeon.. kau pikir aku akan memberitahumu? Bagaimana setelahnya hubungan kau dengan chaeyeon? Kau sangat bahagia memiliki teman disekolah selain aku, bambam atau Jaebum. Apa kau pikir aku tega mengatakan segalanya dan menyakitimu? Apalagi aku tahu kau pasti akan menjauhiku karena mengalah demi chaeyeon? Iya kan?”

“Kau egois!”

“Ya! Aku Egois! Karena aku tidak mau kau berhenti menyukaiku! Aku mau yang kau suka itu hanya aku! Karena aku menyukaimu sangat menyukaimu, sangat menyayangimu dan aku rasa aku akan gila kalau aku hanya memendam rasa cintaku Im Nayeon!” Ujar Jinyoung tegas.

Nayeon terdiam, ia menunduk dan menangis. Kenapa harus seperti ini? Kenapa Jinyoung mengatakan perasaannya seperti ini?

Jinyoung meraih Nayeon, ia menarik gadis itu kedalam dekapannya. Jinyoung mengeratkan pelukannya, ia benar-benar tidak mau kehilangan Nayeon sungguh.

“Aku mohon, jangan berhenti menyukaiku, dan jangan suruh aku kembali padanya, aku tahu apa yang kau pikirkan Nayeon-ah” bisik Jinyoung disela pelukannya.

Nayeon menangis sejadinya. Jinyoung memejamkan matanya merasa sakit dan tak berguna. Kenapa selalu dirinya alasan dibalik air mata Nayeon yang mengalir?

***

“Kau sudah melakukannya dengan benar kan?” Tanya Chaeyeon serius seraya tangannya menyodorkan sebuah amplop cokelat.

Gadis lain yang berada diruang inap chaeyeon itu mengambil amplop tersebut dan tersenyum kepada cheyeon bangga. “Tentu saja, kau harus lihat bagaimana ekspressi gadis yang bersama Jinyoung tadi”

Chaeyeon tersenyum miring. Ia menghela napas lega, “bagus kalau begitu, kau boleh pergi, dan jangan hubungi aku lagi Kim Arin”

Arin mendengus, “aku juga tidak mau berurusan denganmu, toh kita juga bukan teman dan setelah kau membayar padaku ini semua selesai, semoga cepat sehat Chaeyeon, termasuk otak dan hatimu”

Setelah mengatakan itu, Arin melengos dan berjalan keluar ruang inap. Chaeyeon mendengus kesal melihatnya. Sudah cukup semua orang menasihatinya, itu tidak akan berhasil, karena baginya yang terpenting adalah Jinyoung.

Ia sangat merindukan Jinyoung. Biasanya, kalau dia sakit Jinyoung pasti menjenguknya. Menemaninya walau laki-laki itu tidak melakukan hal lebih yang lain. Tapi sialnya, kali ini tidak. Entah apa yang terjadi, justru Chanyeol yang hampir setiap hari kesini. Ia bosan, karena Chanyeol tak berhenti berkhotbah kepadanya tentang ini dan itu.

***

Jaebum panik, laki-laki itu tak berhenti mondar-mandir didepan kamar Nayeon. Sejak pulang tadi, gadis itu mengunci rapat mulutnya dan hanya langsung meloloskan diri kedalam kamar. Setelahnya pun, ia mengunci pintu kamar dan tak membiarkan siapapun masuk.

Jaebum takut terjadi sesuatu pada Nayeon, ia merasa ada aura gejala-gejala patah hati disini. Sesekali juga, ia mendengar suara isak tangis dari dalam kamar Nayeon. Sungguh, ia ingin mendobrak pintu itu sekarang.

“Nayeon? Kau baik-baik saja? Kalau ada masalah cerita padaku”

Teriaknya dari balik pintu kamar Nayeon.

Jaebum menghela napas, lagi-lagi sahutannya tak digubris Nayeon.

“Kau kenapa Nay?” Teriak Jaebum lagi.

Suara isakan dari dalam sana makin terdengar. Jaebum mengacak rambutnya frustasi. ‘Sebenarnya apa yang terjadi?’

Atau jangan-jangan?’

Jaebum membolakan matanya mengingat sesuatu. Ia segera beranjak dari sana menuju kamarnya.

Setelah Jaebum memutuskan kembali kekamar. Jinhee mencoba mengetuk pintu kamar Nayeon. Ia juga sangat khawatir dengan Nayeon, pasalnya seingatnya tadi pagi Nayeon pergi dengan sangat ceria. Lalu kenapa saat kembali ia justru menangis dan menyendiri dikamar?

Tok

Tok

Tok

“Nayeon-ah? Kau baik-baik saja? Ini eonni” ucap Jinhee lembut. Berbeda sekali dengan Jaebum.

Sepersekian detik tak ada sahutan, Jinhee menghela napas. Ia pikir, Nayeon butuh waktu untuk sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.

Nayeon sendiri kini tengah meringkuk dibalik selimut. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Yang jelas, rasanya sakit sekali. Terlebih kenyataan yang cukup mengagetkan.

Kau tahu rasanya?

Ketika kau disuruh memilih sahabat atau pacar? Mana yang akan kau pilih?

Mungkin, orang akan dengan mudah mengatakan ‘aku pilih sahabat’ . Tapi melakukannya itu sulit. Nayeon juga ingin begitu, tapi rasanya sangat sakit. Ia merasa apa yang selama ini ia perjuangkan terlepas sia-sia begitu saja.

Ia juga tidak yakin, akankah ia sanggup sehari saja tanpa romansa bersama Jinyoung?

Tapi, ia juga takut menyakiti Chaeyeon. Ia juga sangat tahu rasanya perasaan tak bisa memiliki hal yang paling kita sayangi.

Nayeon bimbang, ia ingin lari saja. Tapi itu tidak mungkin,

“Nayeon-ah, buka pintunya”

Setelah suara Jinhee eonni beberapa menit lalu telah pergi. Nayeon mendengar suara orang lain, suara Jisoo.

Gadis itu menghapus air matanya, tapi tidak mau membuka pintu.

“Aku tahu perasaanmu, aku tahu apa yang terjadi, tapi Nayeon-ah, jangan gegabah, kau harus tetap tenang, atau kau akan kehilangan keduanya. Kau bisa bercerita padaku, buka pintunya Nay”

Entah mengapa, perkataan Jisoo barusan menyentuh hati Nayeon. Ucapannya lembut seolah mengerti perasaannya. Nayeon juga berpikir, ia tidak bisa menemukan jawabannya. Ia butuh bantuan.

Cklek

Jisoo menghela napas ketika pintu kamar Nayeon terbuka. Gadis itu lantas memeluk Nayeon.

Dan Nayeon menangis disana. Mungkin, Jisoo bisa membantu Nayeon.

***

Im Nayeon berjalan cukup cepat sampai akhirnya memasuki rumah sakit. Setelah pulang sekolah tadi, ia bertekad untuk mencari rumah Chaeyeon dan bicara empat mata. Tapi ia tidak tahu kalau ternyata Chaeyeon dirawat. Ia menyesal sangat menyesal kenapa tidak mencari tahu sejak kemarin.

Ia merasa menjadi teman yang buruk yang bahkan tidak tahu kalau temannya sedang sakit.

Setelah mendapat informasi dari suster resepsionis perihal nomor kamar inap Chaeyeon. Nayeon berjalan lebih cepat. Ia menengok kesana kemari mencari nomor kamar yang disebut suster tadi.

Saat Nayeon sedang fokus mencari kamar Chaeyeon, tiba-tiba pandangannya terfokus pada Chanyeol yang baru saja keluar dari sebuah kamar. Ia pun mendekat, entah kenapa feeling nya mengatakan kalau itu kamar inap Chaeyeon.

Chanyeol tentu melihatnya. Tapi ia sangat terkejut dan hanya diam saja. Nayeon mengangguk paham ketika nomor kamar inap yang baru saja Chanyeol keluar dari dalam nya dengan nimor inap chaeyeon sangat cocok.

“Jadi, oppa juga tahu ya?” Tanya Nayeon langsung kepada intinya.

“Maksudmu Nayeon-ah?” Tanya Chanyeol masih kurang mengerti atau tidak yakin dengan maksud pertanyaan Nayeon.

“Jaebum oppa tahu, Kau juga tahu, apa hanya aku yang tidak tahu kalau Chaeyeon dan Jinyoung pernah berkencan dulu?”

Ucapan Nayeon serta merta membuat Chanyeol membelalakkan matanya. Ia memang sudah mendengar dari Jinyoung kalau Nayeon sudah tahu semuanya. Tapi tetap saja, ia tidak tahu kalau Nayeon akan kemari dan memergokinya.

“Itu hanya masa lalu Nayeon-ah, untuk apa aku memberitahumu?”

“Tapi oppa,

“Sudahlah, bukankah kau kesini ingin menjenguk Chaeyeon? Dia didalam. . Nayeon-ah, jangan berbuat sesuatu yang merugikanmu, dia.. lebih licik dari yang kau bayangkan” ujar Chanyeol

Nayeon membolakan matanya tak terima, “maksud oppa apa? Kenapa bicara begitu soal temanku?”

Chanyeol tersenyum. “Kau terlalu baik Nayeon”

“Aku tidak percaya padamu”

Setelah itu Nayeon masuk kedalam kamar inap. Membiarkan Chanyeol termenung mendengar ucapan Nayeon barusan. Apa Nayeon akan membencinya?

“Nayeon?”

Chaeyeon cukup terkejut melihat Nayeon tiba-tiba muncul masuk kedalam kamar inapnya. Ia melihat Nayeon tersenyum padanya dan mendekat, sebenarnya apa yang ingin Nayeon lakukan? Gadis itu mencoba menebak apa yang akan Nayeon katakan padanya.

Apa soal Jinyoung? Apa Nayeon akan mengalah?

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau masuk rumah sakit? Kenapa kau tidak membalas pesanku?” Tanya Nayeon

Chaeyeon tersenyum kikuk, “maaf Nayeon-ah, itu karena aku tahu kau pasti sedang menghabiskan waktumu dengan Jinyoung, aku tidak ingin mengganggu” ucapnya berdusta.

“Jinyoung?”

Nayeon menghela napasnya. Ia pun meraih posisi duduk ditepi ranjang rawat Chaeyeon. “Kenapa kau tidak bilang kalau Jinyoung mantan kekasihmu itu adalah Jinyoung yang sama dengan yang selama ini aku sukai?” Tanya Nayeon dengan nada lebih rendah.

Chaeyeon mengekspresikan rasa terkejutnya, ternyata Arin berhasil.

“Aku tidak mau membuat mu putus harapan Nayeon-ah”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau masih sangat menyukainya kan?”

“Aku bisa mengatasinya”

Nayeon menangis mendengar itu, ia merasa bersalah dan sangat kejam pada Chaeyeon. Ia pun memeluk Chaeyeon erat, “maaf kan aku Chaeyeon-ah..”

“Kenapa minta maaf Nayeon-ah?”

Nayeon melepas pelukannya, “aku..

Chaeyeon menunggu apa yang akan Nayeon ucapkan. Menunggu Nayeon mengatakan kalau ia akan merelakan Jinyoung.

“Aku tidak bisa berhenti menyukai Jinyoung Chaeyeon-ah, aku juga tidak mau menyakitimu, aku tidak tahu harus melakukan apa”

Chaeyeon kesal, tapi ia menahannya.

“Aku merasa buruk dengan ini, tapi aku pernah mencoba berhenti, dan aku tidak bisa, aku sangat menyayangi Jinyoung. Kurasa, akan lebih baik kalau Jinyoung yang memilih” lanjut Nayeon

“Aku yakin kau yang akan dipilihnya”

“Tidak Chaeyeon-ah, Jinyoung selama ini tidak membalas perasaanku karena dia masih terbayang masa lalunya. Dan aku tahu itu kau”

“Bukankah sangat lucu bersaing dengan teman sendiri?” Tanya Chaeyeon.

“Tapi akan sangat egois kalau kita yang memutuskan dan memaksa Jinyoung menerima, Jinyoung berhak memilih” ungkap Nayeon yang akhirnya hanya diberi senyuman kecil dari Chaeyeon.

***

“Kau bertemu Nayeon hari ini?”

Chanyeol mendudukkan dirinya disisi Jinyoung yang tengah asyik menonton acara televisi. Jinyoung hanya melirik kemudian menggeleng akan pertanyaan Chanyeol.

“Dia menghubungimu?” Tanya Chanyeol lagi

Jinyoung menghela napas, ia meraih ponselnya dan menunjukkan ada 20 pesan belum terbaca dari Nayeon. Chanyeol terperangah, Nayeon benar-benar tidak bisa membenci Jinyoung. Ia iri, sungguh.

“Kenapa tidak kau baca?” Chanyeol meraih snack udang yang ada dipelukan Jinyoung.

“Aku takut”

Uhukk

Chanyeol tersedak mendengar jawaban Jinyoung. Ia menoleh dan menuntut penjelasan, tidak biasanya Jinyoung seperti ini. Heol.. yang benar saja, Jinyoung takut Nayeon?

“Aku takut dia menyuruhku kembali pada Chaeyeon”

Mendengar penuturan itu membuat Chanyeol yang semula berniat menertawai Jinyoung tidak jadi ia laksanakan. Ia paham betul perasaan adiknya, tidak bisakah setiap orang itu menghargai perasaan orang lain? Tidak banyak yang tahu bagaimana perasaan Jinyoung, tapi Chanyeol sangat tahu, bagaimana Jinyoung selalu terganggu dengan sikap Chaeyeon yang masih bergantung ini itu padanya. Ia tidak membenci Chaeyeon, hanya saja menurutnya seharusnya tidak seperti itu. Mereka telah berakhir. Untuk itu, Chanyeol bisa bersikap dewasa tentang perasaannya pada Nayeon.

Jinyoung sulit mengungkapkan perasaannya, entah itu lewat kata atau lewat tindakan, dia sama bodohnya. Berbeda dengan Chanyeol yang lebih mudah meluapkannya, lebih mudah memahami dirinya sendiri.

“Jinyoung-ah, kau sudah jelaskan itu pada Nayeon?”

Jinyoung mengangguk,

“Coba baca pesannya”

Jinyoung memicingkan matanya kearah Chanyeol tidak setuju. Tak lama Ponsel Jinyoung bergetar. Nayeon menelponnya.

Jinyoung lantas bangkit dan menjauh dari Chanyeol. Tentu saja Chanyeol langsung paham siapa yang menghubungi adiknya itu.

“Kenapa tidak baca pesanku?”

“Aku tidak tahu”

“Cepat baca Jinyoung-ah”

“Mm”

Pip

Jinyoung mematikan sambungan telepon. Ia menghembuskan napas berar, kemudian jemarinya bermain membuka pesan dari Nayeon.

From: INY

“Jinyoung-ahh”

“Selamat pagi”

“Sudah bangun?”

“Aku ingin bicara”

“Jinyoung!”

“Youngieeeee 😚😚😚😚”

Jinyoung tersenyum kecil, ia semakin lihai menscroll pesan dari Nayeon.

“Kau masih punya 3 hutang kencan ya ingat itu!”

“Aku tidak akan membahasnya, jangan cueki aku!”

“Jinyoung kau tahu? Aku lebih suka kau membaca pesanku walau tidak dibalas juga tidak apa-apa, aku kuat”

“Bodoh” desis Jinyoung

“Aku ingin kencan”

“Stamp ke 8 : kencan dimusim semi”

“Ya kau mau ya ? 😉😉”

“Jinyoung kau sudah dengar dari Jisoo belum kalau pekan ini Jungkook akan mengadakan pesta dirumahnya? Bagaimana kalau kita kesana saja? Belum tahu sih diundang atau tidak, ya? Kencan musim seminya kita tunda dulu”

Jinyoung melotot membacanya. “Ish”

“Jinyoung ?”

“Aku telfon ya?”

“Jinyoung?”

“Jadi bagaimana? Pekan ini kita kerumah Jungkook atau kencan?”

“Jinyoung! Aku merindukanmu 🙈”

Jinyoung menghela napas lega, ia pikir Nayeon akan bicara macam-macam dan menjauhinya. Ia tahu, ini sangat sulit untuk Nayeon, ia juga tahu, gadis itu bukan gadis yang egois. Jinyoung yakin, ada hal lain yang menjadi pilihan Nayeon tentang hubungan rumit mereka.

Jinyoung segera menelpon Nayeon, tak butuh waktu lama, panggilannya diterima oleh sang gadis.

“Jam 7, tempatnya terserah padamu”

Ujar Jinyoung dan langsung mematikan panggilannya.

***

“Kau melakukannya dengan baik, ini minum untukmu”

Jisoo memberikan Nayeon sebuah minuman jeruk kesukaannya. Nayeon meraih itu dan tersenyum hangat.

“Terimakasih, Jisoo-ah” ucap Nayeon

“Apa katanya?”

Jisoo mendudukkan diri diruang kosong sisi Nayeon duduk.

“Kami akan berkencan”

Jisoo tertawa senang, “Jinyoung itu..

“Sulit berekspresi” sela Nayeon

Lagi-lagi, gadis Kim itu tertawa. “Ya ya.. kau memang tahu segalanya soal Jinyoung”

Nayeon hanya mengangguk bangga dan tetap menunjukkan senyum terindahnya. Ia merasa lebih lega, walau sebenarnya ini belum berakhir. Ia masih tidak tahu, apakah akhirnya ia bisa bersama Jinyoung atau tidak.

Semoga saja, dengan begini. Semuanya bisa terselesaikan. Nayeon berharap, rencananya akan berhasil

“Jisoo”

“Mm?”

“Kenapa kau bisa mengerti sekali soal perasaan laki-laki, ah maksudku, ketika kau berkata kalau aku menyuruh Jinyoung kembali pada Chaeyeon itu akan menyakiti Jinyoung. Kenapa kau bisa bicara begitu?”

Jisoo terdiam, “kau tahu Nayeon? Aku pernah merasa sakit yang sangat luar biasa, ketika orang yang kusuka menyuruhku menyukai orang lain, itu kejam. Itu permintaam terkejam yang pernah ada. Memangnya siapa dia bisa menyuruhku semaunya? Mengatur perasaanku? Aku sendiri bahkan tidak pernah tahu kalau aku akan menyukainya, aku tidak bisa mengatur perasaanku sendiri dan aku merasa kecewa ketika orang lain mencoba mengatur perasaanku”

Nayeon mengerti, suka atau tidak suka Jinyoung padanya pun. Jinyoung pasti merasa terluka jika ia menyuruhnya kembali pada sesuatu yang tidak ia inginkan.

Itu sangat egois.

“Dan alhasil, aku jadi takut suka kepada seseorang. Aku selalu menyembunyikan perasaanku, tidak berani mengatakan apapun” lirih Jisoo

Nayeon tersenyum, “Jaebum ya?”

“Ne?”

***To Be continued***

Iklan

One comment

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s