Gotta Have You #15 Confession

cocoba-gottahaveyou

Title: Gotta Have You ( Chapter 15)| Author : 29Megumi (@0729yes) | Casts: Park Jinyoung (GOT7), Im Nayeon (Twice), Park Chanyeol (Exo) | Genre: Romance, school, fluff, drama | Duration: Chaptered (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)  (11) (12) (13) (14) …. | Rating : G

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik saya megumi. sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh utama, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

A/N : semua cerita dalam fanfiction ini murni hasil pemikiran author sendiri. Dimohon jangan meng-copy-paste atau semacamnya tanpa izin ya, Gomawo ^^, semoga kalian suka sama fanfictionnya ( RCL)

.
.
.
.

Awalnya hanya menyentuh. Bibir Jinyoung bertemu bibir lembab Nayeon. Pemuda itu tidak menutup matanya, dijarak yang sedekat ini, ia bisa melihat bagaimana terkejutnya Nayeon. Dwimanik mereka saling menatap.

Jinyoung menjauhkan dirinya sedikit, Nayeon bernafas lega lalu menunduk. Tapi kemudian, ia kembali terkejut ketika Jinyoung menarik tengkuknya, membuatnya melihat Jinyoung dan..

“Apa aku terlambat?” Ucap Jinyoung dengan suara yang amat pelan.

Jarak mereka terlalu dekat, Nayeon tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan tidak dapat berpikir sekarang, ia tidak tahu Jinyoung berkata apa atau bagaimana menjawabnya. Ia juga tidak tahu, apa yang sedang dilakukan Jinyoung sekarang.

Yang jelas,

Bibir mereka kembali bertemu.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jinyoung mengecupi bibir Nayeon berkali-kali. Kecupan ringan yang membuat Hati Nayeon berdesir hebat, gadis itu mungkin saja sudah kehilangan keseimbangan kalau Jinyoung tidak mendekapnya.

Nayeon memejamkan matanya, Jinyoung kembali meraup bibirnya dan memainkannya. Sentuhan yang sangat berbeda. Bahkan pemuda itu menggigit kecil Bibir Nayeon yang tak melakukan apa-apa sejak tadi. Lantas, Nayeon membuka mulutnya, lalu Jinyoung dengan leluasa memainkan bibir Nayeon dengan bibirnya.

Nayeon mengeratkan genggamannya pada kerah jaket Jinyoung. Ia tidak membalas ciuman Jinyoung. Ia hanya diam dan memejamkan matanya, sungguh ini seperti mimpi.

Hal pertama yang selalu Nayeon bayangkan ketika ia dan Jinyoung menjadi sepasang kekasih adalah. ‘Kiss on the street’ dan kini, mereka benar-benar melakukannya.

Tapi entah kenapa, Nayeon merasa ini salah. Nayeon merasa tidak seharusnya terjadi seperti ini. Ia pun mencoba mendorong Jinyoung. Yang tentu saja, Jinyoung melepas tautan bibir mereka kemudian.

Walau tautan bibir mereka terlepas, tapi jarak mereka masih sama. Masih dalam posisi Jinyoung yang mendekap Nayeon.

“Jinyoung-ahh” Lirih Nayeon seraya menunduk.

Air matanya menggenang. Tak tahu bagaimana rasanya sakit sekali. Ia merasa seperti melakukan hal salah pada laki-laki yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih.

Jinyoung menunduk memperhatikan Nayeon, ia mengusap air mata Nayeon dan membawa Nayeon untuk menatapnya.

“Lepaskan aku, aku akan melupakan soal yang tadi dan, aku takut ada yang melihat kita, Jisoo pasti sakit hati nanti” gumam Nayeon.

Jinyoung menaikkan alisnya heran, ia baru ingat kalau ia dan Jisoo tengah terkena rumor aneh. Jinyoung menghela napas, ternyata benar. Nayeon sudah mendengar itu dan menghilang seharian karenanya.

“Jadi kau menghilang karena itu?”

“Jinyoung lepaskan aku, nanti..

Belum selesai Nayeon bicara, Jinyoung sudah melepas dekapannya. Dan Nayeon kecewa, aneh, padahal dia yang meminta tapi dia juga yang sedih ketika ucapannya dituruti.

Lagi pula kan seharusnya Jinyoung menahannya seperti didrama-drama

.

Ish, Park Jinyoung!

“Kau seharusnya bertanya dulu, jangan membuat keputusan sendiri, kau benar-benar ceroboh dan bodoh” ucap Jinyoung seraya mengacak lembut poni Nayeon.

Nayeon mengangkat wajahnya, menatap tanya Jinyoung.

“Aku dan Jisoo hanya berteman, asal kau tahu yang menjebak kita tadi itu juga dia” jelas Jinyoung.

Nayeon tak tahu harus berkata apa, ia menatap terkejut kearah Jinyoung menuntut penjelasan lebih. Sebenarnya ia sangat senang, tapi Nayeon terlalu takut untuk berharap lagi.

Melihat Nayeon tak jawab apa-apa soal penjelasannya, Jinyoung mendengus. Sungguh, ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Rasanya sangat aneh. Ini bukan seperti dirinya yang biasa.

“Kau tidak perlu berbohong Jinyoung, aku tidak akan bilang apa-apa pada Jaebum, dia tidak akan marah padamu” ucap Nayeon.

Jinyoung memandangi Nayeon tak habis pikir, apa gadis itu menyerah? Apa gadis itu merubah pikiran dan hatinya secepat itu. Apa yang baru saja ia bilang? Jinyoung kesal bukan main menahan perasaannya. Ia tidak suka Nayeon terus menganggapnya begitu. Padahal apa yang ia katakan itu semuanya kebenaran.

“Aku tidak bohong! Kau tahu ? Aku tidak bisa tenang karena kau tidak bisa dihubungi seharian, aku mencarimu kemana-mana dan tahunya kau malah berdua dengan chanyeol hyung! Hah! Aku tahu sekarang kenapa kau berubah, kau sudah dirayu nya kan? Kau memang sudah tidak menyukaiku lagi kan ? Makanya kau mengelak ucapanku dan berpikir sesukamu” tukas Jinyoung dengan tegas.

Nayeon tak percaya, ini pertama kalinya Jinyoung bicara sepanjang itu, apalagi yang dibicarakan adalah tentang mereka.

“Jinyoung-ahh”

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jisoo, kalau kau masih tidak percaya juga, terserah padamu!” Ucap Jinyoung lagi penuh penegasan.

“Bukan begitu, tapi..

“Kau benar-benar jahat Im Nayeon. Selalu melakukan apapun yang kau mau, berpikir sesuka hatimu, tidak pernah peduli dengan orang lain, tidak mau mendengar orang lain, kau egois”

“Apa?”

“Kau egois!”

Nayeon kesal, kenapa Jinyoung malah membentaknya? Kenapa Jinyoung malah marah padanya? Dan kenapa Jinyoung malah menyebutnya egois?

“Bukannya kau yang egois? Kau selalu menolakku, aku melakukan apapun sebisaku supaya kau melihatku, tapi apa? Kau tidak pernah bersikap hangat padaku, kau selalu..

“Dengan semua yang aku lakukan kau bilang begitu?” Jinyoung menyela ucapan Nayeon.

Nayeon menutup rapat mulutnya,

“Aku selalu mau kau bawa kesana dan kesini, aku selalu bersedia setiap kau minta ini dan itu, aku bahkan tidak pernah menghindarimu walau kau terus menggangguku, dan kau bilang aku yang egois? Im Nayeon! Apa–

“Lalu kenapa kau tidak juga bilang cinta padaku!!!! Kenapa kau biarkan aku menunggu?” Teriak Nayeon

Kini giliran Nayeon yang menyela ucapan Jinyoung. Jinyoung terdiam, ini masalahnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa.

“Karena aku tahu, Chanyeol hyung menyukaimu” lirih Jinyoung

Nayeon menatap nanar pada Jinyoung. Ia ingin menangis sekarang,

“Dan setelah aku pikir-pikir, kau memang lebih baik dengan dia, dia selalu setia menjagamu, dia hangat padamu, dia perhatian padamu dan dia tidak pernah membuatmu menangis. Sementara aku, satu-satunya hal yang kulakukan hanya membuatmu menangis, seperti sekarang” ucap Jinyoung.

Jinyoung tidak tahu lagi harus bicara apa, semua perasaanya sudah keluar sejak tadi. Ia menatap Nayeon yang semakin jadi menangis. Ia tidak bisa melihat Nayeon begitu, rasanya sakit.

“Baiklah, aku pergi” ujar Jinyoung. Dan pemuda itu, berbalik untuk pergi. Bahkan ia sudah melangkah perlahan menjauhi Nayeon yang tak bisa berhenti menangis.

Nayeon menggigit bibir bawahnya melihat punggung Jinyoung! ‘Dasar Jinyoung kurang ajar, setelah menciumku dan berkata hal yang ambigu, sekarang pergi begitu saja’

BUGGHG

“Argghh”

Jinyoung meringis, sesuatu menghantam kepalanya, ia menoleh, dan ternyata sebuah sepatu berhak tergeletak di sebelahnya. Ia pun menatap Nayeon.

“KALAU AKU MENANGIS SEHARUSNYA KAU MEMELUKKU!! BUKANNYA KABUR!!”

***

Semilir angin yang berhembus disepanjang seoul malam itu benar-benar menusuk sampai ketulang. Tidak hanya ketulang. Tapi juga sampai kehati yang terdalam. Menusuk sampai rasanya seperti tertikam benda tajam.

Dan Jung Chaeyeon tak berhenti menangis sambil berlari. Air matanya jatuh tak tertahankan, ia melihat semuanya. Melihat bagaimana Jinyoung mencium Nayeon. Sungguh, itu sangat menyakitkan dan Chaeyeon tak sanggup lagi.

Gadis itu berhenti diatas jembatan layang. Ia tak sadar sudah berjalan sejauh ini, ia menatap nanar pemandangn kota seoul yang sejujurnya indah sekali malam ini. Yang sialnya, membuat ia kembali mengingat Jinyoung.

Chaeyeon sudah mencoba menahan Jinyoung, mencoba menarik Jinyoung kembali, melupakan semua rasa malunya, melupakan rasa sayangnya sebagai sahabat untuk Nayeon, melupakan rasa kemanusiaannya untuk melukai Jisoo. Tapi kenapa Jinyoung tetap pergi? Bahkan sebelum ia mencoba bicara dengan Jinyoung.

Chaeyeon tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan selain menangis, ia butuh Jinyoung, sungguh ia sangat mencintai Jinyoung.

“Aku mencintai Nayeon tulus, kalau kau namanya bukan cinta, kau hanya terobsesi pada Jinyoung”

Ucapan Chanyeol tadi pagi itu benar-benar menusuknya. Gadis itu meraih ponselnya, ia menghubungi Chanyeol.

“Oppaa…” lirih Chaeyeon.

Chanyeol tidak menjawab walau ia menerima panggilan itu.

“Oppa, aku rasanya ingin mati” ucap Chaeyeon lagi.

“Oppa”

“Oppa, kenapa cinta tidak pernah berpihak padaku?”

“Oppa, rasanya sakitt…”

“Aku ingin mati”

“Dimana Kau?” Barulah suara Chanyeol terdengar.

“Kenapa? Kenapa tidak ada satupun yang menyayangiku, apa yang harus aku lakukan supaya kalian menyayangiku, apa aku tidak pantas untuk disayangi? Untuk dicintai?”

“Jung Chaeyeon! Cepat jawab dimana kau sekarang?”

“Kenapa? Kau akan kesini? Tidak kan?kau selalu menyuruhku berhenti, menyuruhku pergi. Baik, aku akan pergi, sesuai kemauanmu”

“YAKK JUNG CHAEYEON”

Chaeyeon mematikan panggilannya, ia pun membiarkan ponselnya tergelatak diatas aspal yang dingin. Dirinya melangkah mendekat pembatas jembatan. Angin semilir menyapu anak rambutnya serta air mata yang tak bisa berhenti mengalir.

Ia tidak sanggup lagi, ia butuh Jinyoung.

***

“Kau tahu Jinyoung?”

“Hmm”

“Hal kedua yang aku ingin lakukan ketika memiliki kekasih adalah, berjalan dengan aku berada dipunggungnya. Seperti sekarang, punggungmu nyaman sekali”

Jinyoung terkekeh, ia membenarkan posisi Nayeon dipunggungnya lalu kembali berjalan. Nayeon sendiri mengeratkan pegangannya pada pundak dan leher Jinyoung, gadis itu bahkan menyenderkan kepalanya nyaman di pundak Jinyoung.

“Kenapa kau sebut yang kedua?” Tanya Jinyoung.

“Karena yang pertama sudah lebih dulu kau lakukan tadi”

“Apa?”

“Yang tadi Jinyoung…

“Yang apa?”

“Ishh”

Jinyoung tertawa, rasanya menyenangkan sekali. Ia menyesal kenapa baru melakukannya sekarang. Kenapa tidak sejak lama ia menyadari perasaannya dan memulainya dengan Nayeon.

Mengakui perasaannya pada Nayeon adalah hal yang paling membuat jantungnya berdetak cepat. Sangat berbeda ketika dulu ia melakukan itu untuk Chaeyeon.

“Cah.. sampai”

Jinyoung menurunkan Nayeon ketika mereka sampai didepan rumah besar Nayeon. Nayeon mengerucutkan bibirnya, kenapa cepat sekali sampai rumah, rasanya baru sebentar ia merasakan kehangatan Jinyoung. Dan masih seperti mimpi kalau mengingat pengakuan Jinyoung soal perasaannya tadi.

“Masuklah” ucap Jinyoung yang melihat Nayeon hanya diam saja.

“Jinyoung-ah, apa itu artinya kita..

Nayeon menggantungkan kalimatnya, Jinyoung menautkan alisnya bingung menunggu kelanjutan kalimat Nayeon.

“Kita.. aku dan kau…itu… maksudnya, apa sekarang kita itu..” lanjut Nayeon kebingungan memilih kata apa.

“Sepasang kekasih?” Tebak Jinyoung

Nayeon mengangguk antusias dan tersenyum. Jinyoung menghela napasnya, ia kemudian menatap Nayeon dan memegang pundak Nayeon.

“Aku rasa belum, yang aku ingin, hanya kau tahu soal perasaanku, Nayeon-ah, biar bagaimanapun, chanyeol hyung pasti tersakiti, aku akan bicara lebih dulu dengannya, sementara itu kita jalani saja tiga permintaan terakhir yang belum kau utarakan, setelahnya kita akan berakhir sebagai sepasang kekasih atau tidak, itu semua soal waktu”

Nayeon mengangguk paham, ia juga masih bingung dengan perasaan Chanyeol dan bagaimana mengungkapkan jawabannya untuk chanyeol.

“Tapi kau tidak bohong kan?”

“Bohong?”

“Bohong kalau kau juga menyukaiku”

“Ahh.. apa aku harus menciummu lagi disini supaya kau percaya?”

Nayeon tersipu malu mendengar ucapan Jinyoung.

“DALAM MIMPIMU PARK JINYOUNG!!!!”

Jinyoung dan Nayeon terkejut, mereka sama-sama menoleh dan mendapat Jaebum yang sudah berkacak pinggang didepan pintu pagar.

Jinyoung melepas genggamannya pada pundak Nayeon dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Oppa? Kapan kau sampai” ucap Nayeon antusias.

“Tidak usah sok peduli! Masuk sekarang Im Nayeon! Atau kulaporkan Harabeoji kalau kau sudah mulai membangkang sekarang”

“Yakkk!” Teriak Nayeon kesal dan menunjukkan wajah garangnya pada Jaebum

“Masuklah Nay” seru Jinyoung.

Nayeon menoleh dan tersenyum menampakkan wajah malaikatnya pada Jinyoung. “Okey”

Gadis Im itu lantas melangkahkan kaki masuk, Jaebum tak percaya adik kembar nya itu bisa memiliki kepribadian ganda. Bagaimana bisa ia kasar pada kakaknya sendiri lalu berubah lembut pada orang lain ?

Jaebum menoleh pada Jinyoung.

“Bagaimana olimpiademu?” Tanya Jinyoung

“Kau tentu tahu, aku pasti menang”

Jinyoung mengangguk, entah kenapa ia merasa canggung dengan Jaebum.

“Aku ingin bicara denganmu” ucap Jaebum

“Ye?”

“Soal chaeyeon”

“Chaeyeon?”

***

“Bodoh! Gadis Bodoh! Apa yang kau lakukan hah?”

Chanyeol memaki Chaeyeon terus menerus. Ia baru saja berhasil menarik chaeyeon yang akan menjatuhkan diri dari jembatan layang. Kini, gadis itu menangis terduduk.

“Cinta itu boleh, tapi jangan sampai membodohi diri begini chaeyeon!”

“Jangan memarahiku” teriak Chaeyeon

“Bagaiman aku tidak marah?! Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau mati! Bagaiamana dengan ibumu? Kau tidak memikirkan itu?! Jung chaeyeon! Seharusnya kau belajar yang baik dan membalas kerja keras ibumu! Bukannya mati hanya karena cinta! Jika kau kehilanga Jinyoung, maka kau hanya harus mencari dan mendapat cinta yang lainnya bukan seperti ini!”

“Oppaaa berhentii”

Teriakan chaeyeon menurun dan suaranya amat bergertar merasa tak sanggup mendengar ocehan Chanyeol yang benar semuanya. Ia menutup telinganya kuat-kuat, tubuhnya bergetar takut, sungguh tadi itu benar-benar menakutkan.

Grepp

Chanyeol memeluk Chaeyeon. Ia tahu, chaeyeon itu baik, hanya beberapa hal yang sulit dimengerti darinya.

“Waeyeo? Kenapa kau memelukku? Kenapa kau disini?”

“Bukankah kalau wanita menangis itu sudah seharusnya dipeluk? Kau tahu Chaeyeon-ah, aku melakukan hal yang sama pada Nayeon juga saat dia menangis. Dan menyedihkannya, kalian berdua menangis karena orang yang sama”

“Kenapa kau bisa sesantai ini? Apa kau tidak takut kalau Jinyoung dan Nayeon akan benar-benar bersama?”

“Ya, aku takut”

Chaeyeon menatap chanyeol, dan pemuda jangkung itu melukis senyum yang meneduhkan.

“Tapi, aku juga percaya, kalau setiap orang itu sudah ditentukan jodoh dan takdirnya, kalau memang Nayeon akan menjadi kekasih Jinyoung. Itu tandanya, aku harus kembali menunggu waktu mempertemukanku dengan jodohku, bukankah begitu?”

Chaeyeon terdiam, ia tidak tahu sebegitu sempurnanya perasaan dan pemikiran Chanyeol.

“Tidak usah terpesona padaku! Laki-laki itu melakukan sesuatu dengan pikirannya, beda dengan perempuan yang hanya mementingkan perasaan. Lihatlah kau sekarang! Kau salah mengartikan perasaanmu Chaeyeon-ah”

Chaeyeon mengalihkan pandang, “oppa, aku lemas”

Chanyeol membolakan matanya kala bebannya bertambah, chaeyeon tak sadarkan diri seketika. Tentu saja chanyeol panik, ia mengecek suhu tubuh chaeyeon dan gadis itu benar-benar dingin. Dengan cepat, chanyeol membawa chaeyeon kemobilnya dan segera kerumah sakit.

***

To: Jinyoungie ❤
“Selamat pagi 😙”

Nayeon mengetikkan sebuah pesan chat yang ia kirimkan untuk Jinyoung. Pesan singkat yang memang sudah menjadi kebiasaannya. Hanya kemarin ia tidak melakukan itu karena merasa putus asa.

Nayeon memandangi ponselnya antusias, ia penasaran apakah Jinyoung akan membalasnya atau hanya membacanya saja seperti yang biasa laki-laki itu lakukan. Tapi seharusnya, sekarang ia membalasnya karena ia sendiri sudah mengakui perasaannya pada Nayeon.

Manik mata Nayeon berbinar kala pesan chat yang ia sampaikan sudah dibaca Jinyoung. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri gugup apa Jinyoung akan membalasnya atau tidak.

Satu menit

Dua menit

Tiga menit

Empat menit

Lima menit

Jinyoung tak kunjung membalas. Nayeon frustasi. Dasar Park jinyoung!!!!!..

Nayeon rasanya ingin melempar ponselnya ke lantai karena kesal. Tapi saat ponselnya sudah ia layangkan keatas, ponsel itu bergetar. Ternyata sebuah panggilan video masuk dari Jinyoung. Nayeon kelabakan, oh ia belum pakai bedak sekarang, wajahnya masih polos tanpa apapun.

Karena tak tahu lagi, Nayeon menutup wajahnya dari bawah mata sampai kedagu dengan bantal lalu mengangkat panggilan itu.

Nayeon hampir pingsan melihat wajah Jinyoung. Wajah bangun tidur laki-laki itu yang sangat tampan.

“Mulai sekarang, ucapkan selamat pagi dengan memperlihatkan wajahmu, kalau cuma pesan aku tidak akan balas”

Nayeon tersipu malu, ia mengangguk dan tak menjawab apa-apa.

“Kenapa dengan wajahmu?” Tanya jinyoung merasa aneh melihat Nayeon terus berusaha menutupi wajahnya.

“Tidak apa-apa” ucap Nayeon.

Jinyoung terlihat mengangguk saja, pemuda itu bangkit dari ranjangnya dan berjalan entah kemana, tapi masih mengaktifkan video call nya dengan Nayeon.

“Jinyoung-ah.. kau baru bangun?”

“Ya”

“Kau selalu bangun terlambat ya?”

“Aku selalu bangun tiap kau membombardirku dengan pesanmu”

“Benarkah?”

Jinyoung mengangguk, “kau itu alarmku”

Nayeon merasa pipinya memanas. Ah sungguh ia ingin berlari dan memeluk Jinyoung sekarang.

“Dan emoticon kiss mu itu selalu membuatku merasa heran”

“Maksudnya?”

“Kenapa kau hobi sekali memberiku emoticon kiss itu tapi ketika aku cium kau bahkan tak membalas ciumanku”

“Yakkkkk! Jangan bahas itu”

Jinyoung tertawa. Wajah Nayeon benar-benar merah sekarang.

“Itu kan karena aku tidak tahu bagaimaa melakukannya” ucap nayeon dengan sura kecil, nyaris seperti bisikan.

Jinyoung terdiam mendengar jawaban Nayeon. Ia tersenyum lalu memajukan wajahnya mendekati kamera.

“Kau tenang saja, aku aka mengajarkanmu nanti”

Nayeon membelalakkan matanya. “YAKK DASAR MESUM!!! SUDAH MANDI SANA…”

Pip

Nayeon mematikan panggilan video tersebut. Ini tidak tertolong, ia benar-benar malu. Tapi sangat bahagia.

To : Jinyoungie ❤
“Jangan lupa jemput aku 😜”

Memasuki bulan april, cuaca dikorea Jauh lebih cerah, mungkin karena sudah memasuki musim semi. Seiring dan sesuai dengan suasana hati Nayeon. Kalian tahu? Ia sangat-sangat bahagia, bahkan walau ia dan Jinyoung belum resmi berkencan. Mengetahui Jinyoung menyukainya saja itu sudah sangat membahagiakan.

“Eonniiiiii…” Nayeon berteriak dirumah besarnya. Mencari-cari keberadaan Jinhee,

“Ada apa Nayeon-ah?” Tanya Jinhee yang muncul dari balik pantry dapur.

“Eonni, kau letakkan dimana kotak yang kemarin?”

“Kotak?”

“Iyaa. Yang kardus yang aku berikan itu”

“Ah… itu”

“Eonni tidak membuangnya kan?”

“Tidak, aku taruh itu digudang”

“Okeyy”

Nayeon melangkahkan kakinya riang. Ia segera berlari kecil menuju gudang sembari bersenandung tak jelas. Jaebum yang baru keluar kamarnya itu melihat tingkah adiknya dengan geleng-geleng kepala. Ia memasuki area ruang makan dan mengambil rotinya.

“Noona, Nayeon habis kepentok dimana? Ada apa dengan sikapnya?” Tanya Jaebum pada Jinhee yang tengah menyiapkan sarapan.

“Sepertinya, Nayeon kembali pada Jinyoung.. ahh cinta pertama memang begitu”

Jaebum mendengus, Jinyoung lagi. Jinyoung lagi.

“Lalu kemana dia? Bukannya ikut sarapan?” Tanya Jaebum lagi.

“Kemarin dia mengemas semua barang yang berhubungan dengan Jinyoung dan menyuruhku membuangnya. Tapi aku tidak membuangnya karena aku tahu Nayeon akan mencarinya lagi, aku meletakkan itu digudang, dan benarkan sekarang Nayeon mencarinya lagi” jelas Jinhee

Jaebum mengangguk paham dan kembali menyantap sepotong roti lagi dengan lahap. Saat kunyahannya sedang asyik, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dan matanya membelakak terkejut.

“Apa Noona bilang tadi nayeon pergi ke gudang?”

“Ne, wae?”

“Astaga”

Jaebum secepat kilat berlarian kearah gudang menyusul Nayeon. Ia lupa kalau ia meletakkan kotak pemberian Chaeyeon digudang. Kalau sampai Nayeon melihatnya, bisa-bisa adiknya itu sedih lagi. Astaga, bahkan baru semalam ia melihat adiknya begitu bahagia.

***

“Kau semalaman disini Hyung?”

Jinyoung menemukan Chanyeol tertidur dikursi sebelah ranjang Chaeyeon dirawat. Tadi pagi, ibu chaeyeon menelepon Jinyoung dan mengatakan kalau Chaeyeon dirawat dirumah sakit. Ibu chaeyeon meminta Jinyoung untuk datang menjenguk, walau sebenarnya malas, tapi jinyoung takut menyakiti ibu chaeyeon apabila tidak menurutinya.

Dan ia cukup terkejut melihat keberadaan chanyeol disana. Chaeyeon masih terlelap dengan selang infuse ditangannya.

Chanyeol tersadar dari tidurnya, ia menggerakkan tubuhnya merasa pegal. Ia mendengar suara Jinyoung, dan terbangun.

“Kau datang?” Katanya dengan suara parau.

Jinyoung menatap chanyeol penuh selidik, “kenapa kau bisa ada disini?”

Chanyeol mengernyit, “lalu kenapa kau ada disini?”

“Kalau aku, sudah jelas ibu chaeyeon memintaku menjenguk anaknya”

“Ah.. kalau begitu, aku sudah jelas aku yang membawanya kesini”

“Kau yang membawanya?”

Chanyeol mengangguk, ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati nakas meraih segelas air lalu meneguknya.

“Dia hampir bunuh diri kemarin”

“Mwo?”

“Dia menangis meraung memanggil namamu”

“Gadis gila” tutur Jinyoung

“Tapi kau pernah menyukainya”

“Kau juga Hyung!”

Chanyeol terkekeh, ia memperhatikan Jinyoung yang siap dengan seragam sekolahnya. “Kau pergi saja, biar aku yang menjaganya”

Jinyoung menatap chanyeol, “benarkah?”

Chanyeol mengangguk, “aku bisa mengatasinya, sudah sana pergi dan perlakukan Nayeon dengan baik”

“Hyung?”

“Apa?”

“Aku ingin bicara sesuatu padamu”

“Soal kau yang sudah mengakui perasaanmu pada Nayeon?”

“Ye?”

“Kau bodoh jinyoung! Dari awal aku juga sudah bisa menebak kalau kau punya perasaan yang sama dengan Nayeon”

Jinyoung menunduk, “maaf Hyung”

Chanyeol tersenyum getir, “rasanya memang sakit, tapi aku senang kau mengatakan terus terang padaku, kau tumbuh jadi laki-laki yang gentle ya ternyata”

Jinyoung tertawa, “kita bicarakan lagi nanti, aku harus pergi menjemputnya, sampai jumpa hyung, tolong jaga dia agar tidak mengganggu ya”

“Aish.. anak itu!”

Chanyeol menghembuskan napas melihat punggung Jinyoung yang sudah tak terlihat lagi kala pintu kamar rawat kembali tertutup. Sejujurnya ia sedih, sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi? Bukankah lebih menyakitkan nantinya kalau kau mendapat orang yang kau cintai tapi orang itu hanya memikirkan orang lain?

Chanyeol memikirkan itu sejak seharian kemarin bersama Nayeon. Tidak mengenal waktu, Nayeon selalu memikirkan Jinyoung. Apapun yang gadis itu lakukan yang ada dihati dan pikirannya hanya Park Jinyoung. Chanyeol tahu dan cukup sadar diri untuk bertindak lebih, keputusannya mengatakan cinta pada Nayeon pun bukan untuk mendapatkan balasan dari Nayeon.

Sejujurnya, ia hanya melakukan itu untuk menggertak Jinyoung. Chanyeol tahu Nayeon akan menurutinya dan mencoba apa yang ia ucapkan, jika begitu, maka pasti Jinyoung akan bertindak cepat. Seperti sekarang, akhirnya adiknya yang dingin dan keras kepala itu mau mengakui perasaannya.

Dasar park bodoh!.

Chanyeol menoleh pada chaeyeon, ia menghembuskan napas lagi. “Akan sangat berat untuk kita berdua chaeyeon-ah” gumamnya.

***

“NAYEON”

Nayeon terkejut mendengar teriakan Jaebum. Dirinya yang baru saja hendak membuka pintu gudang itu lantas menoleh.

“Oppa! Kau mengagetkanku!”

“Apa yang kau lakukan?” Tanya jaebum mengatur napasnya.

“Aku ingin mengambil barangku ada apa?”

“Barang? Kenapa digudang?”

“Karena Jinhee eonni menaruhnya digudang”

Nayeon menggelengkan kepala heran dengan sikap Jaebum. Ia kembali hendak membuka pintu tapi ditahan lagi oleh Jaebum.

“Nayeon! Kakek pulang” ucap Jaebum mencoba mengalihkan perhatian Nayeon agar tidak jadi pergi kegudang

Nayeon menoleh, “ya terus? Sudah sana aku ingin mengambil barangku”

Jaebum menghalangi pintu gudang.

“Oppa!”

“Ah.. itu.. aku menang olimpiade kemarin”

Nayeon memutar bola mata malas, “aku tahu kau pasti menang, sudah oppa pergi dari situ aku mau masuk”

“Kakek…

“Oppa!”

“Jangan masuk kedalam!”

“Waeyeo?”

“Pokoknya Jangan!!”

.
.
.
.

To be continued
.
.

Selalu makasih banget buat yang msih setia baca, vote dan komen 😙😙😙😙😙😙😙😙😙 I LOVE YOUUUUUUUU

Thankseu gaessss 🙆🙆🙆

So cute couple 😘 jinyeon 😄

So cute couple 😘 jinyeon 😄

Iklan

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s