cocoba-gottahaveyou

Title: Gotta Have You ( Chapter 14)| Author : 29Megumi (@0729yes) | Casts: Park Jinyoung (GOT7), Im Nayeon (Twice), Park Chanyeol (Exo) | Genre: Romance, school, fluff, drama | Duration: Chaptered (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)  (11) (12) (13)…. | Rating : G

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik saya megumi. sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh utama, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

A/N : semua cerita dalam fanfiction ini murni hasil pemikiran author sendiri. Dimohon jangan meng-copy-paste atau semacamnya tanpa izin ya, Gomawo ^^, semoga kalian suka sama fanfictionnya ( RCL)

.

.

.

.

***

.
.
.
.
.

How would it be ~ Original song by Standing Egg. 

Tahukah kau sekarang?
Sudahkah kau memperhatikan?
Pandanganku padamu perlahan berubah.

Seolah terlihat selalu bicara hal yang sama,
namun ada maksud yang tersembunyi.
Kata-kata yang tak mampu Ku ucapkan.
“Pergilah ke luar denganku”.

Bila Aku mencintaimu, apa jadinya?
Bila Aku menyatakan perasaan padamu, apa jadinya?
Akankah jadi lebih nyaman dari sekarang?

Bagaimana jika Aku menunggu sedikit lagi?
Tetap sebagai temanmu.
Aku akan menunggu, menunggu.
Seperti ini, seperti ini.

Begitu banyak yang ingin Ku katakan,
sebagai seorang kekasih, bukan teman.
Aku tak bisa mengendalikan pikiranku.
Aku hanya mengikuti kata hatiku.

Bila Aku mencintaimu, apa jadinya?
Bila Aku menyatakan perasaan padamu, apa jadinya?
Akankah jadi lebih bahagia dari sekarang?

Bagaimana jika Aku menunggu sedikit lagi?
Tetap sebagai temanmu.
Aku akan menunggu, menunggu.
Seperti ini.

Sekarang Aku akan mencurahkan perasaanku.
Aku tak ingin terus menyimpannya.
Bila Aku terus menyimpannya,
Ku pikir akan meledak.

Ku tutup mataku, namun Aku melihatmu.
Ku buka mataku, dan Aku hanya melihatmu.
Terperangkap seperti ini,
kaulah yang akan menyelamatkanku.

Bila Aku pergi sekarang, kau akan jadi seperti apa?
Bila kau menyesal, Aku akan berlari mendatangimu.
Jadi buka lenganmu dan peluk Aku erat, begitu saja.
Oh, begitu saja.

***

Chanyeol dan Nayeon saling terdiam. Sama-sama menyelam pada pikiran masing-masing. Irama serta nada sebuah lagu yang ringan nan indah membuat keduanya semakin mudah memahami rasa yang disampaikan sang penyanyi.

How would it be?

Chanyeol tertegun mendengar bait demi bait yang dilantunkan grup band yang mengadakan pertunjukan kecil ditepi pantai busan ini. Sesekali, dwimaniknya menatap lekat Nayeon yang berdiri disebelahnya. Gadis itu memejamkan mata menikmati suara merdu serta lirik sederhana nan menyentuh tersebut.

Apa yang akan terjadi jika aku mencintaimu?

Seperti sebait lirik lagu yang dibawakan, Chanyeol pun mengajukan pertanyaan yang sama persis. Apakah ia dan Nayeon akan sehangat ini jika dirinya mengatakan tentang perasaan sebenarnya? Tentang rasa cinta yang kian tumbuh setiap harinya? Akankah situasinya lebih baik dari pertemanan mereka sekarang?

How would it be?

Im Nayeon memejamkan matanya, ia menemukan Jinyoung dalam pikirannya. Lalu, ia kembali membuka matanya, dan yang terlihat tetap sama, ia kembali melihat Jinyoung diseberang sana.

Ku tutup mataku, namun Aku melihatmu.
Ku buka mataku, dan Aku hanya melihatmu.
Terperangkap seperti ini,

Seperti lirik lagu yang dilantunkan, ia Terperangkap akan cintanya yang begitu besar pada Jinyoung. Dan hanya Jinyoung yang bisa menyelamatkannya.

Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi tembamnya. Nayeon tak kuasa lagi. Kenapa suasana saat ini justru membuatnya makin merasa sakit. Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak tahu.

“Nayeon-ah”

Sebuah suara bass menyapa genderang telinganya. Ia tahu, itu Chanyeol oppa. Tapi ia tetap menunduk. Tak kuasa mengangkat kepalanya walau sebentar, tak mampu menahan sakitnya walau sebentar. Jinyoung terlalu dalam masuk kedalam relung hati seorang Im Nayeon.

Hingga, Chanyeol meraih Nayeon. Menarik gadis itu untuk masuk dalam dekapannya. Dekapan hangat Park Chanyeol yang diliputi rasa sayang begitu besar. Gadis itu kembali menangis disana.

“Berhentilah, itu semakin membuatmu sakit” bisik Chanyeol.

Nayeon masih menangis. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia menangis setelah mendengar berita Jinyoung dan Jisoo? . Chanyeol sudah menyuruhnya untuk mengkofirmasi dulu pada Jinyoung apa berita itu benar atau tidak. Tapi, Nayeon menolak. Nayeon terlalu takut, bahkan hanya untuk bertanya.

Lebih baik, ia tak mendengar apapun.

“Berhentilah Nayeon-ah”

Kembali bisikan itu terdengar lembut ditelinga Nayeon. Kini pun Chanyeol mengusap lembut surai hitam Nayeon. Menenangkan gadis itu dengan mendekapnya erat.

“Berhentilah, dan..

Chanyeol memejamkan mata menahan ucapannya,

“Lihatlah kearahku Nayeon” lanjutnya kemudian.

Nayeon tak menjawab. Ia mendengar dengan jelas. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ini semua terlalu mendadak, dan ia tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti sekarang.

“Aku menyukaimu” bisik Chanyeol lagi. Yang kini semakin mengeratkan pelukannya.

“Aku menyayangimu” ucapnya lagi.

Nayeon masih bergeming memejamkan mata dibalik dada bidang Chanyeol.

Chanyeol mendekatkan wajahnya ketelinga Nayeon.

“Dan aku sangat mencintaimu”

Kalimat yang keluar dari bibir Chanyeol itu akhirnya membuat Nayeon mendongak. Menampakkan wajahnya yang sembab dan air mata yang masih menggenang dipelupuknya.

Chanyeol menghapus air mata Nayeon. “Berhentilah” ujarnya.

Kedua manik mata mereka saling menatap. Chanyeol mencoba mengatakan pada Nayeon untuk berhenti dan percaya padanya. Dan Nayeon yang mencoba mencari kebenaran tentang perasaan yang baru saja diakui Chanyeol. Serta mencari keberanian, haruskah ia berhenti.

“Aku ada disini” ucap Chanyeol lagi.

***

“Bagaimana bisa sampai seperti ini?” Tanya Jinyoung memandang Jisoo yang tertidur diatas ranjang rumah sakit.

“Eomma Nya bilang, Noona terserempet motor saat baru saja keluar rumah” Jelas Jungkook.

“Ini aneh Hyung” ucap Doyoung.

Beberapa Hobae team sinematografi memang berkumpul diruang rawat Jisoo untuk menjenguknya. Dan ucapan Doyoung tadi membuat Jinyoung menoleh.

“Maksudmu aneh?” Tanya Jinyoung

“Aku pernah terserempet motor, tapi tidak separah ini, aku yakin orang itu sengaja ingin melukai Jisoo Noona”

“Jangan bercanda Doyoung-ah, ini bukan film” tukas Jungkook.

“Tapi aku serius, tadi malam juga, aku melihat Jisoo Noona bersama seseorang yang aku tidak kenal, dan kelihatannya mereka bertengkar, tatapan mereka seram sekali tadi malam” jelas Doyoung lagi.

“Tadi malam?” Tanya Jinyoung memastikan. Pasalnya, tadi malam pun ia masih bersama Jisoo.

“Iya, sekitar tiga puluh menit setelah kita bubar, aku balik lagi karena kunci rumahku tertinggal, aku mencarinya dan aku tidak sengaja melihat Jisoo Noona” Jelas nya.

“Dengan siapa ?” Tanya Jinyoung

“Aku tidak kenal hyung, yang pasti dia perempuan dan kurasa seusia dengan Jisoo Noona”

Obrolah mereka semakin lama semakin serius. Jungkook yang tadinya tak percaya pun mulai menanggapi ocehan Doyoung. Dan Jinyoung, ia merasa ada yang aneh juga, kenapa bisa bertepatan sekali kecelakaannya Jisoo dan syarat yang diajukan Chanyeol Hyung.

Jinyoung menepis pikiran buruk tentang sang kakak, ia kembali fokus pada Jisoo. Gadis itu memberikan sedikit gerakan tanda kesadarannya kembali. Jungkook yang juga melihat itu sangat antusias, lantas secepatnya menekan tombol pasien agar dokter cepat segera datang.

“Noona? Kau baik-baik saja?” Tanya Jungkook dan Doyoung khawatir

Jisoo mengangguk, kemudian manik matanya bertemu dengan Jinyoung. Jisoo seperti ingin mengatakan sesuatu pada Jinyoung, tapi kehadiran Jungkook dan Doyoung membuatnya harus mengunci rapat mulutnya. Lagi pula, kondisinya masih lemah karena Shock.

“Jisoo-ah, aku akan belikan sarapan untukmu, tunggu sebentar, Kalian berdua jaga dia” ujar Jinyoung .

Jungkook dan Doyoung mengangguk, lantas membiarkan Jinyoung melangkah keluar ruangan.

“Padahal kan Noona sudah dapat bubur dari rumah sakit, kenapa harus dibelikan sarapan lagi?” Tanya Doyoung bingung.

Jisoo tersenyum, “itu karena aku tidak suka bubur Doyoung-ah”

Doyoung mengangguk paham akhirnya, “wah.. jadi kalian benar-benar berkencan ya?”

Pertanyaan Doyoung tadi lantas disambut pelototan oleh Jisoo. “Tidak, kami tidak ada hubungan apa-apa, Jinyoung itu memang baik, tapi bukan berarti aku dan dia berkencan karena kami dekat”

“Noona jangan bohong”

“Berhenti Doyoung! Aw”

“Noona jangan banyak bergerak dulu, Yak Doyoung-ah kau keluar saja sana”

Setelah Jungkook menengahi, Doyoung diam seribu bahasa. Begitu juga dengan Jisoo. Kalau Jungkook sih, dia sudah tahu kalau Jisoo dan Jinyoung itu memang tidak ada hubungan apa-apa. Jungkook tahu, Jisoo itu gila pada Jaebum. Tapi Doyoung? oh laki-laki ini sangat polos menyerempet bodoh.

“Jungkook, Doyoung”

ucap Jisoo memecah keheningan sesaat tadi.

“Ne” jawab keduanya bersamaan

“Aku butuh bantuan kalian” ungkap Jisoo berbisik

“Noona, ingin memberikan misi rahasia ya?” Tanya Doyoung.
Jungkook menepuk jidat Doyoung.

“Lebih baik kau diam sampai Jisoo Noona selesai bicara, kalau tidak kusumpal mulutmu dengan kaus kaki ku”

Doyoung meringis mendengar kalimat itu dari Jungkook. Sementara Jisoo tersenyum hangat lalu kembali berbicara.

Biar bagaimanapun, ia harus menyelesaikan kesalah pahaman ini. Karena jika berlarut dan terlambat, bisa saja semuanya jadi kacau dan tak bisa dikembalikan.

***

Setelah mengantarkan Nayeon kembali kerumahnya. Chanyeol melajukan mobilnya kesuatu tempat. Bukan kerumahnya, bukan juga kekampusnya.

Pemuda itu beberapa kali menggumam kata aneh, ia merasa cemas dan tidak tenang. Sungguh, ia takut apakah yang ia lakukan ini salah atau tidak. Ia tidak tahu.

Setelah sampai didaerah Gangnam, Chanyeol memarkirkan mobilnya ditepi sebuah restoran ramyeon. Ia segera turun dan memasuki rumah makan itu. Pandangan matanya mencari seseorang disana, dan tak butuh waktu lama, sosok Jung Chaeyeon yang dicarinya sudah duduk manis dimeja yang tak jauh dari meja kasir.

“Kau datang?” Tanya Chaeyeon bahagia. Tentu saja, suasana hatinya sedang cerah sekarang. Ia baru saja menemukan celah untuk menerobos masuk kembali pada Jinyoung.

Chanyeol tak menjawab dan langsung duduk dikursi hadapan Chaeyeon. Ia menatap gadis itu jengah lalu menghembuskan napas. “Aku tidak pernah memintamu melakukan itu” tutur Chanyeol.

Chaeyeon tertawa meremehkan. “Oppa, kau itu terlalu lemah dan bodoh. Kau tahu? Bisa saja Jinyoung itu melesat langsung ke busan dan menarik Nayeon darimu kalau kau lengah seperti tadi”

“Tapi tidak dengan mencelakai orang lain Jung Chaeyeon!” Sarkas Chanyeol.

“Gadis itu baik-baik saja, aku hanya menggunakannya untuk mengalihkan perhatian Jinyoung”

“Kau gila”

“Tapi oppa diuntungkan kan dengan ide gila ku?”

Chanyeol terdiam. Ia memandang Chaeyeon tak habis pikir. Gadis itu benar-benar buta dan gila hanya karena hal yang dinamakan cinta. Chanyeol yakin, ada hal lain yang memang seharusnya diperbaiki dari Chaeyeon.

“Soal rumor itu, aku tahu itu hanya iseng dan ulah usil seseorang, aku tahu kalau Jisoo dan Jinyoung itu hanya berteman, dan kau tahu oppa?Jisoo membuatku tak perlu bersusah-susah membuat Nayeon berhenti mengejar Jinyoung, dan kau juga membantuku meyakinkan Nayeon”

“Diam, aku sama sekali tidak berniat membantumu”

“Ya, apapun itu tetap saja kan? Nayeon berhenti mengejar Jinyoung”

“Dan kau pikir, Jinyoung akan menerimamu begitu?”

“Soal Jinyoung, aku bisa mengurusnya”

Chanyeol tertawa mengejek, “hei Nona! Asal kau tahu, ketika kau sudah kehilangan kepercayaan orang lain, maka kau tidak akan pernah mendapatkan apa-apa lagi dari orang tersebut. Jinyoung tidak akan pernah menerimamu lagi, jadi sadarlah dan berhentilah”

“Tidak mau”

“Jung Cheyeon!”

“Karena Jinyoung, aku tak bisa hidup tenang, aku selalu merasa kehilangan dan membutuhkannya, jadi jangan harap aku akan berhenti, Jinyoung akan kembali padaku”

“Kau yang membuat dirimu sendiri tak bisa hidup tenang Chaeyeon-ah, satu-satunya hal yang harus kau lakukan itu adalah bersyukur, dengan apa yang kau miliki sekarang, bukannya mencari dan merebut paksa apa yang sudah kau buang”

Chaeyeon menggeram, “aku mengajak oppa bertemu untuk menawarkan kerja sama, bukan nasihat darimu”

Chanyeol tertawa lagi, “sampai kapanpun, aku tidak akan pernah termakan ide gilamu lagi, cukup dulu. Dan itu adalah hal terburuk yang pernah aku lakukan”

“Oppa!”

“Aku dan kau berbeda Chaeyeon, aku mencintai Nayeon itu tulus, kalau memang dia tidak mencintaiku maka aku akan menerimanya, berbeda dengan yang kau lakukan pada Jinyoung, kau bukan mencintainya, kau hanya terobsesi padanya”

***

Im Nayeon merapikan beberapa barang didalam kamarnya. Ia sudah putus asa, dan sepertinya ia harus menata semuanua dari awal. Gadis itu meletekkan seluruh barang yang berhubungan dengan Jinyounh kedalam sebuah kardus. Ia memutuskan untuk berhenti menyukai Jinyoung.

Jisoo adalah gadis yang baik dan juga pintar, sangat cocok dengan Jinyoung. Lagi pula, Chanyeol oppa? Nayeon menggelengkan kepalanya bingung dan pusing, ia masih tidak tahu harus bersikap bagaimana soal perasaan Chanyeol.

Ia bahkan tidak pernah membayangkan soal pengakuan Chanyeol tadi. Nayeon menghembuskan napas kasar, terakhir ia melirik boneka pokemon yang baru beberapa hari lalu diberikan Jinyoung. Gadis itu menunduk sedih, rasanya seperti mimpi buruk. Ia tidak pernah mempersiapkan diri kalau akhir dari rasa sukanya pada Jinyoung akan menjadi seperti ini.

“Nayeon?”

Seseorang menegur Nayeon dari balik pintu kamarnya. Nayeon menoleh dan tersenyum mendapati Jinhee eonninya muncul disana.

“Eonni?”

Jinhee tersenyum kemudian masuk kedalam, keningnya berkerut heran melihat apa yang tengah lakukan dengan beberapa barang yang dipegangnya.

“Ini mau diapakan?” Tanya Jinhee.

Nayeon menghembuskan napas, “aku akan membuangnya”

Jinhee menatap Nayeon, ia tahu kalau seluruh barang yang diletakkan didalam kardus itu adalah barang yang berhubungan dengan Park Jinyoung. Pemuda yang membuat masa SMA Nayeon begitu ceria. Jinhee memandang sedih, lantas ia memegang jemari Nayeon.

“Jangan dibuang, masa lalu itu bukan untuk dibuang, tapi disimpan untuk dijadikan pelajaran”

“Tidak eonni, masa lalu itu harus dibuang, lagipula pelajaran apa yang aku dapat dari tiga tahun mengejar Jinyoung”

“Pertama, kau jadi lebih cantik dan memperhatikan penampilan, kau tahu rasanya mencintai, kau tahu rasanya bahagia dan berdebar, kau juga tahu rasanya mengendalikan diri dari sakit hati. Seharusnya begitu”

“Eonni…”

“Jangan gegabah Nayeon-ah, apa yang kau lihat atau kau dengar itu belum tentu benar, Aku yakin Jinyoung tidak bermaksud melakukan itu”

“Aku tidak berani mengkonfirmasinya, aku takut”

Jinhee mengusap pundak Nayeon memberi semangat pada orang yang ia anggap adik itu. Jinhee tahu dengan pasti masalah Nayeon, karena Nayeon memang tak pernah menyembunyikan apapun padanya. Karena mereka sama-sama perempuan. Nayeon selalu percaya pada Jinhee.

Jinhee pun tak mau bicara banyak lagi. Yang bisa menyelamatkan Nayeon dari kondisi seperti ini ya Hanya Jinyoung. Ia pun meraih kotak yang dipegang Nayeon.

“Yasudah, lebih baik kau turun kebawah karena ada tamu yang mencarimu, biar ini aku yang bereskan”

“Tamu?”

“Katanya mereka hobae mu disekolah”

“Hobae siapa Eonni?”

“Katanya satu team sinematografi Nay”

Nayeon menganga, ia lupa kalau ia masih punya tanggung jawab untuk proses team sinematografi. Pasti semua orang khawatir karena ia mendadak menghilangkan diri. Nayeon pun segera keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk sampai diruang tamu.

“Jungkook? Doyoung?”

Kedua laki-laki yang merupakan hobae Nayeon itu menoleh. Jungkook tersenyum senang melihat Nayeon. Begitu juga Doyoung.

“Noona, kau baik-baik saja?” Tanya Jungkook

“Iya, maaf ya aku tidak ikut proses shoting”

“Tidak apa-apa Noona, Jisoo noona mengambil alih dengan baik kok” ucap Doyoung.

Mendengar nama Jisoo dan bagaimana Doyoung memujinya membuat Nayeon berkecil hati. Entahlah, ia hanya kembali teringat Jinyoung.

“Jinyoung hyung seharian mencarimu kemana-mana Noona, makanya Jisoo Noona mengambil alih sebagai pemimpin kami selama proses shoting” jelas Jungkook.

Tolong berikan cinta pada Jungkook. Entah bagaimana ucapan Jungkook itu sedikit membuat bunga bermekaran dihati Nayeon.

Tapi, tidak. Tidak boleh. Bisa saja kan, Jinyoung begitu karena disuruh Jaebum.

“Ah begitu ya, maaf ya aku merepotkan. Lalu, kenapa kalian kemari? Tidak shoting?”

Jungkook menggeleng, “aku ingin memberikan ini Noona”
Jungkook meletakkan selembar tiket drama musical boys over flower diatas meja kepada Nayeon.

“Itu apa?”

“Itu hadiah, Kami semua akan menonton disana, karena Noona juga bagian dari kami, makanya Noona juga harus datang”

Nayeon menatap ragu tiket tersebut, disatu sisi ia ingin menghargai kebaikan mereka yang sampai mau kerumahnya hanya untuk mengantar ini. Tapi disisi lain, ia takut kalau-kalau akan bertemu dengan Jisoo atau Jinyoung disana.

“Tapi..

“Tidak ada tapi-tapi Noona, pokoknya Noona harus datang. Kalau perlu kami jemput” ucap Doyoung

“Ayolah Noona, kapan lagi kami pergi dengan Noona cantik, ya ya ya Noona” rayu Jungkook.

Nayeon tertawa, “baiklah”

***

Park Chanyeol tak bisa berhenti bergumam menyanyikan lagu-lagu indah sejak tadi. Ia begitu bahagia, ini semua karena Ia yang berhasil menyatakan perasaannya pada Nayeon tadi pagi.

Meski terkadang, Chanyeol masih tak percaya diri. Tapi, ucapan Nayeon yang berkata ingin mencoba melihatnya itu sudah membuatnya sangat bahagia.

“Dia sudah pulang?”

Chanyeol terkejut, ia tidak tahu kalau Jinyoung baru saja masuk kedalam kamar mereka.

Chanyeol tahu apa yang dimaksud “dia” oleh Jinyoung.

“Sudah”

“Bagus”

Chanyeol mendengus, “dasar Bodoh!”

Sementara Jinyoung tak peduli justru kembali keluar kamar hendak pergi kesuatu tempat.

Chanyeol menghembuskan napas, ia tahu kemana Jinyoung akan pergi dan apa yang akan terjadi.

***

Nayeon mengeratkan genggamannya pada tas tali selempang yang ia gunakan. Ia gugup sekali sekarang, ia mau tidak mau harus datang ketempat dimana Jungkook bilang. Ia tidak mau mengecewakan teman yang lain, untuk itu ia tetap pergi.

Yang ia harap, ia akan kuat ketika melihat Jinyoung dan Jisoo.

Drttt

Sebuah pesan masuk sampai pada Nayeon.

“Noona, masuklah lebih dulu ya, mobil ku dan yang lain mogok, kau langsung duduk dikursi yangs sesuai dinomor tiket saja”

Begitu kiranya pesan dari Jungkook. Nayeon pun akhirnya melangkahkan kakinya. Suasana kursi penonton pementasan drama musical ini masih sepi.

“Nomor 22”

Ia segera mencari nomor kursi yang tertera ditiket yang diberikan Jungkook. Lalu duduk, dan menunggu disana.

Sementara ditempat lain Jinyoung terus mengomel pada Jisoo yang tak berhenti menariknya kesana kemari sejak tadi.

“Yak kim Jisoo!!”

“Jinyoung! Aku ingin nonton ini.. aku dapat dua tiket gratis jadi kita harus nonton”

“Kenapa harus aku?”

“Karena Jaebum tidak ada, kalau Jaebum ada juga aku mengajak dia”

“Kenapa bukan Jungkook?”

“Kalau aku menagajak Jungkook, bagaimana dengan Doyoung?dia akan mengamuk kalau tidak diajak, sementara aku hanya punya dua tiket”

Jinyoung memutar bola mata malas. Ia tidak begitu suka drama. Apalagi drama musical. Itu membosankan sungguh.

“Arghh”

Jinyoung menoleh mendengar rintihan Jisoo. “Wae? Kau masih sakit?”

“Tidak, perutku tidak beres, sepertinya aku harus ketoilet”

“Yasudah sana”

“Ini tiket untukmu, kau masuklah dulu, aku akan menyusul”

***

Nayeon menunggu dengan gugup, ia terus berpikir apa yang harus ia katakan jika Jisoo atau Jinyoung sudah datang. Maksudnya, apa yang harus ia bicarakan. Ia benar-benar tidak tahu.

Tiba-tiba seseorang duduk disebelah Nayeon. Nayeon pun menoleh. Dan dia sangat terkejut.

“Jinyoung?”

Jinyoung yang semula tidak menyadari keberadaan Nayeon itu juga terkejut. ‘Kenapa Nayeon ada disini?’ Pemuda itu lantas mengecek nomor tiket yang ada digenggamannya. Benar ini kursi nomor 21.

Nayeon kembali diam. Ia duduk dan mengalihkan pandang dari Jinyoung. Sementara Jinyoung?

Kalian tahu, ia bahagia. Sangat bahagia bisa melihat Nayeon. Tapi, pemuda itu tidak tahu harus berbuat apa.

How would it be ?

Apa yang akan terjadi, kalau ia melaksanakan apa yang hatinya inginkan?
Apa semuanya akan lebih baik?

Jinyoung tahu dan sadar dengan cepat kalau Jisoo sengaja melakukan ini.

“Kemana mereka ya ? Pementasannya sudah mau dimulai” ucap Nayeon gelisah.

Jinyoung memperhatikan Nayeon, gadis itu sama sekali tidak memandang kearahnya. Si kelinci itu sibuk melirik kesana kemari gelisah. Jinyoung merasa, sesuatu menghilang.

“Mereka tidak akan datang”

“Ne?”

Barulah Nayeon menoleh padanya.

Jinyoung memutar pandangan fokus kepada pementasan yang sudah dimulai. “Apa kau tidak merasa kalau ini semua hanya akal-akalan” ucapnya.

Nayeon berpikir keras, lantas ia mulai mengerti. Kemudian menunduk.

“Kalau begitu, aku pulang saja, tidak seharusnya aku disini”

Ucap Nayeon dan hendak bangkit.

Tapi, Jinyoung lebih cepat.

Pemuda itu cepat menahan lengan Nayeon dan menyuruh Nayeon duduk kembali.

“Siapa yang bilang?”

Nayeon yang terkejut karena sikap Jinyoung juga tatapan Jinyoung itu terdiam.

“Siapa yang bilang kau tidak pantas disini? Duduk saja dan nikmati pementasannya” ucap Jinyoung

“Tap..tapi..”

“Duduk saja Im Nayeon!”

Jinyoung menekan suaranya. Nayeon pun hanya terdiam. Kemudian menurut. Ia tidak pernah tidak menurut pada Jinyoung. Walau ia tidak mengerti apa maksud Jinyoung.
Sementara Jinyoung. Ia masih sibuk dengan pikirannya. Ia masih sibuk dengan hatinya. Untuk memutuskan apa yang ingin ia lakukan.

Tanpa sadar, Jinyoung menggenggam jemari Nayeon.

Aku rasa, aku akan bersikap egois sekarang’ batin Jinyoung.

***

“Oppa! Kenapa kau membiarkan mereka melakukan itu! Hentikan mereka”

“Jangan kau pikir kau bisa menghalangi mereka Chaeyeon!”

Chanyeol Oppa!”

“Aku akan bersaing sehat dengan Jinyoung”

Kau akan kalah Chanyeol Oppa. Kau tahu itu! Lihat saja jika malam ini mereka benar bersama. Aku tidak akan lembut lagi pada Nayeon” 

***

Semilir angin kota seoul dimalam hari membuat kedua insan yang berjalan beriringan ditepi jalan itu sesekali mengusap punggung tangan mereka.

Terlebih Nayeon yang juga berperang dalam suasana Gugupnya.

“Ada yang berubah” ujar Jinyoung

Nayeon menoleh, tapi tidak berucap apa-apa.

“Biasanya kau akan merengek ini dan itu ini dan itu, kenapa diam saja sejak tadi?”

Nayeon diam. Ia hanya tidak mau menggangu Jinyoung lagi.

“Aku tidak mau mengganggumu” ucap Nayeon

“Siapa yang merasa terganggu?”

“Ne?”

Jinyoung memandang Nayeon lekat-lekat. Dan tatapannya meneduh. Berbeda dari biasanya. Tidak sadarkah Nayeon kalau pandangan Jinyoung berubah. Tidak sadarkah Nayeon kalau Jinyoung gelisah.

“Jinyoung.. aku..

“Apa kau selalu selembab itu?”

“Ne?”

.
.
.
.
.
.

.
.
.
.
.

Chup

Jinyoung mendekat, menarik Nayeon dan mengecup bibir Nayeon malam itu. Terlepas dari apa yang terjadi setelahnya.  Jinyoung tidak peduli.

.
.
.
.
.

*To be Continue*

Iklan

4 tanggapan untuk “Gotta Have You #14 How would it be

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s