Gotta Have You #13 Jinyoung – Jisoo ?

cocoba-gottahaveyou

Title: Gotta Have You ( Chapter 13)| Author : 29Megumi (@0729yes) | Casts: Park Jinyoung (GOT7), Im Nayeon (Twice), Park Chanyeol (Exo) | Genre: Romance, school, fluff, drama | Duration: Chaptered (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)  (11) (12) …. | Rating : G

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik saya megumi. sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh utama, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

A/N : semua cerita dalam fanfiction ini murni hasil pemikiran author sendiri. Dimohon jangan meng-copy-paste atau semacamnya tanpa izin ya, Gomawo ^^, semoga kalian suka sama fanfictionnya ( RCL)

.

.

.

.

***

.
.
.
.
.

Im Nayeon berlarian cepat menuju tempat dimana team Sinematografi berkumpul untuk segera berangkat melakukan pengambilan gambar. Gadis Im itu menampakkan raut wajah cemasnya.

Sesaat setelah ia menyerahkan surat dispensasi kepada guru piket, dirinya mendengar kabar yang membuat hatinya bak ditusuk panah beracun.

Mereka bilang, Jinyoung dan Jisoo berkencan?

Satu dari sekian banyak hal yang Nayeon takuti didunia ini adalah berita seperti itu.

Ia tahu, kalau penantian dan perjuangannya menunjukkan rasa suka pada Jinyoung memang hanya memiliki dua opsi akhir. Jinyoung yang menerimanya, Atau Jinyoung yang menolaknya dengan mengencani gadis lain.

BUGHH

“argh”

Nayeon meringis ketika tak sengaja tubuhya oleng dan tersungkur. Gadis itu merutuk kakinya sendiri yang lemah.

Berlari seperti ini saja jatuh terus. Tak peduli dengan segores luka yang mengeluarkan darah di lutut dan bagian betis kakinya. Nayeon tetap berdiri dan berlari kembali. Kini bahkan ia menangis, entah itu karena rasa sakit dihatinya atau luka perih dikakinya.

Gadis itu mulai kesulitan mengatur napasnya. Ia begitu terengah-engah dan rasanya jantungnya semakin berdegup tak karuan.

Bukan karena dirinya merasa gugup akan Jinyoung seperti biasa, tapi karena takut akan sebuah berita yang ia harap itu semua tidak benar. Ia takut tidak sanggup menerimanya atau bahkan ia bingung harus bereaksi seperti apa. Rasanya, terlalu cepat.

Saat hampir sampai diujung lorong yang terhubung dengan halaman sekolah tempat dimana Bus terparkir. Mendadak Nayeon menghentikan langkahnya, Ia terdiam beberapa saat. Masih dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir dan rasa sesak yang makin menjadi. Ia terlalu takut untuk bergabung dengan yang lain.

Setelah sekian menit, ia terdiam.

Gadis itu akhirnya mengangkat kepala, menggigit bibir bawahnya getir, lalu berbalik arah. Kakinya melangkah perlahan kembali kedalam sekolah. Selangkah demi selangkah mengurungkan niat bergabung dengan mereka yang tengah bersenda gurau disana.

***

“Jaebuh-am?”

Im Jaebum bergumam asal menjawab telepon dari Jinyoung, kini ia tengah berada di Jepang dan fokus mempersiapkan tes olimpiadenya yang akan dimulai beberama menit lagi.

“Apa Nayeon menghubungimu?”

Pergerakan mata Jaebum yang serius meniti rumus keluarga sin costa dan lainnya itu mendadak berhenti. Seketika ia fokus pada suara Jinyoung diseberang sana.

“Apa maksudmu? Bukannya seharusnya Nayeon ikut pengambilan gambar dengan team?” seru Jaebum menunjukkan nada kekhawatiran disana.

“ak..aku tidak tahu, dia tidak muncul saat kami akan berangkat, ku cari keseluruh penjuru sekolah juga tidak ketemu, chaeyeon juga tidak tahu dimana Nayeon”

Jaebum membelalakkan matanya mendengar penuturan Jinyoung, ia menutup bukunya dan berdiri. “Katakan dengan Jelas Jinyoung! Lalu kau meninggalkannya? Kau sudah mengeceknya dirumah?” nada Jaebum mulai tersulut

“Tentu aku dan team meninggalkannya, kami sudah dikejar dateline, tapi sebelum itu aku mengecek dulu kerumahmu dan dia juga tidak ada”

Jaebum menggeram kesal, “Park Jinyoung!”

“Aku sudah mencoba mencarinya, aku juga menyerahkan segalanya tentang team pada Jisoo, sekarang aku masih ada didepan rumahmu. Changsung hyung dan seluruh pengawal mu juga sudah mulai mencari Nayeon, ponselnya tidak aktif, astaga,, kemana adikmu itu?”

Jaebum bergerak gelisah kesana kemari, ia dengan sepihak menutup sambungan telepon dan menghembuskan napas kasar. Pasti ada sesuatu yang terjadi, tidak mungkin saudara kembarnya itu pergi tanpa pamit. Apalagi meninggalkan Kegiatan team yang jelas-jelas sangat dinantinya. Ini tidak masuk akal, atau Jangan-jangan, Nayeon Diculik?

Dwimanik Jaebum membelalak membayangkan apa yang baru saja ia pikirkan. Tiba-tiba ingatan tentang kejadian penculikan ketika ia dan Nayeon masih kecil terngiang kembali. Oh itu mengerikan. Tapi, setahunya Nayeon tidak begitu menonjol sebagai cucu kakek, seharusnya mereka menculiknya bukan Nayeon, karena dirinya lah yang mulai aktif diurusan bisnis keluarga.

Jaebum mendengus kesal, menjadi keturunan keluarga kaya tidak selamanya menyenangkan. Hal-hal seperti ini pasti akan terjadi.

Euh? Atau Jangan-jangan, Nayeon menemukan kotak dari chaeyeon yang berisi kenangan masa lalu chaeyeon dan Jinyoung dikamarnya?

Lagi-lagi Jaebum membelalakkan mata kala hal lain terbesit dipikirannya. Ia segera membuka ponselny dan menekan speed dial nomor 1. -Nayeon

Tut

Tut

Tut

Jaebum menggigit bibirnya cemas, panggilannya tak kunjung diangkat Nayeon. Tapi Jaebum beruntung karena Nayeon tak mematikan ponselnya.

Jaebum beralih ke aplikasi chat, ia mencoba mengetik beberapa kalimat. Tapi belum sempat ia mengirim, chat masuk datang dari Nayeon.

“Jaebum. Jangan ganggu aku dulu, aku baik-baik saja, aku menginap dirumah bibi Jung di busan, Aku akan kembali lusa”

Jaebum mengerutkan alisnya heran, tapi ia lega. Ternyata Nayeon baik-baik saja. Ia pun mengetikkan balasan untuk Nayeon.

“Setidaknya angkat telefon ku dulu sekali”

Lantas, Jaebum kembali mencoba menghubungi Nayeon. Dan tak perlu menunggu lama, panggilannya sudah tersambung.

“Bagaimana Olimpiademu?”

Suara Nayeon bergema disana, Jaebum menghela napas. Ternyata Nayeon baik-baik saja, atau paling tidak Nayeon tidak diculik.

“Bodoh! Kenapa kau pergi tanpa pamit? Kau membuatku panik, aku akan memulai Tes lagi setelah ini”

“Maaf ya, ini juga mendadak. Aku saja pergi kebusan tanpa beri tahu Bibi Jung, kau tenang saja Jaebum, aku baik-baik saja kok”

“Aku tidak percaya, apa ada sesuatu ? Nayeon, katakan padaku”

“Tidak ada”

“Lalu kenapa kau tiba-tiba pergi begini?”

“Hanya ingin menyendiri”

“Tapi itu bukan sifatmu”

“Seseorang kan bisa berubah Jaebum Oppa”

“Nay, katakan padaku, aku akan mendengarkannya.. kita kan kembar, aku pasti bisa mengerti perasaanmu”

“Aku baik-baik saja, sudah sana lanjutkan perjuanganmu. Kudoakan kau menang okey? Dan lagi meski kita kembar, aku itu perempuan dan kau laki-laki, tidak mungkin kau bisa paham perasaanku! Sudah ku tutup ya, selamat berjuang saudaraku!”

Pip

“Euh? Nay? Nayeon?”

Jaebum mendengus ketika Nayeon mematikan sambungan teleponnya.

***

“Sudah?”

Nayeon menoleh, ia mendapati Chanyeol yang duduk disampingnya dan memberikannya susu cokelat hangat. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Chanyeol dan menerima susu yang dibawa untuknya.

“Terimakasih oppa”

“Sama-sama”

Chanyeol mengacak surai hitam Nayeon gemas. Kini, ia dan Nayeon tengah berada ditepi danau di busan. Danau yang terletak tak jauh dari rumah bibi Jung.

“Sebenarnya, kenapa kau menangis seperti tadi disubway? Kau membuatku khawatir adik kecil, kupikir sesuatu yang buruk terjadi padamu” tanya Chanyeol

Nayeon tersenyum, ia memamerkan gigi kelincinya pada Chanyeol. “Aku hanya sedih oppa, juga bingung, entah kenapa rasanya sakit sekali”

“Sakit?”

Nayeon mengangguk, “hatiku sakit, dan juga sesak, entahlah aku tidak bisa mendekskripsikannya, makanya aku menangis, cuma itu yang bisa aku lakukan, aku tidak berhak protes, apalagi melarang”

Chanyeol mengerutkan keningnya bingung, ia tengah mencoba memahami maksud perkataan Nayeon. Tapi, tetap saja ia tidak bisa menebak apapun.

“Maksudmu apa?” Tanya Chanyeol akhirnya.

“Aku malu ceritanya, pada Jaebum saja tidak berani” ujar Nayeon.

“Katakan saja Nayeon-ah”

Ungkap Chanyeol lembut dan mengusap punggung tangan Nayeon menenangkan. Tapi, Nayeon menggeleng. Ia tidak mau membahasnya, nanti sakit itu datang lagi dan ia pasti menangis lagi.

“Lalu, aku harus apa supaya kau kembali lagi?”

“Kembali?”

“Dari tadi kau senyum. Tapi aku benci senyum itu Im Nayeon, itu bukan senyum yang biasanya kau tunjukkan”

Nayeon mengerucutkan bibirnya, Chanyeol itu orang paling peka yang pernah ia temui. Satu hal lagi yang sangat berbanding terbalik dengan Jinyoung. Kenapa sih, ia tidak suka pada Chanyeol saja? Kenapa hatinya tidak mau berubah padahal ada Chanyeol yang jelas-jelas selalu ada disampingnya.

Nayeon menatap Chanyeol dengan sendu. Dan Chanyeol tentu membalas tatapan itu. Ia lantas mencoba mengalihkan Nayeon dengan meraih gitar yang sempat ia pinjam tadi, setidaknya untuk berhenti membuat Nayeon ingat akan masalahnya. Tak apa jika Nayeon tak mau bercerita, tapi ia akan tetap mencoba menghibur Nayeon.

“Bagaimana kalau kita bernyanyi saja?” Tanya Chanyeol.

Nayeon mengerutkan keningnya, “memangnya oppa bisa main gitar?”

“Yak! Aku ini jagonya tahu”

“Uuuu… kau sudah belajar sok keren seperti Myungsoo sunbae ya?”

Chanyel tertawa, ya memang akhir-akhir ini skill bermusiknya lebih berkembang. Semasa ia tak tahu harus berbuat apa disaat perasaannya bertambah besar pada Nayeon tapi kenyataan mempersempit kesempatan bersama Nayeon, Chanyeol memang menyibukkan diri dengan bermusik. Seperti saran Myungsoo. Orang yang mengenalkannya pada Nayeon.

“Kau bisa bernyanyi?” Tanya Chanyeol mengejek.

“Tentu saja! Waktu aku TK, aku ini anggota paduan suara tahu” ujar Nayeon dengan bangga.

Jawaban yang kembali menggelitik perut Chanyeol untuk tertawa. Karena Nayeon banyak membuatnya tertawa, itu adalah salah satu alasan ia mulai menyukai gadis yang usianya dua tahun dibawahnya itu.

“Ohya? Baiklah, kita lihat sebagus mana suaramu, kita mulai ya..”

Nayeon bersemangat, ia memperhatikan dan mendengarkan dengan baik petikan demi petikan nada yang mulai dimainkan Chanyeol.

“Dreamnya Suzy-Baekhyun?” Tanya Nayeon menyadari nada yang dimainkan Chanyeol.

Pemuda Park itu mengangguk. Lantas Chanyeol mulai menyanyikan part awal lagu tersebut dan Nayeon mengikuti seiring dengan nada yang terus terputar. Chanyeol tertegun, ia tidak tahu kalau suara Nayeon selembut itu, suaranya saja sudah sangat ia sukai. Apalagi yang lainnya. Chanyeol suka semua yang ada pada Nayeon.

Haruskah, ia menyatakannya sekarang?

Haruskah, ia menyatakannya sekarang?

***

“Untukmu”

Jinyoung menangkap sebotol air mineral yang dilempar Jisoo padanya. Segera saja Jinyoung meneguk isinya sampai habis. Ia sangat lelah, asal kalian tahu sejak tadi pemuda itu tak bisa tenang karena khawatir akan keadaan Nayeon dan bingung pergi kemana gadis itu. Ia baru saja sampai dilokasi pengambilan gambar beberapa menit lalu, tepat ketika Jisoo sudah membubarkan team karena proses shoting hari ini sudah selesai.

Jisoo hanya bersedekap dihadapan Jinyoung, memandang temannya yang menyedihkan itu.

Merasa diperhatikan dengan lekat, Jinyoung menyudahi minumnya. Dan berdehem merasa bersalah akan tatapan Jisoo yang tajam padanya. Pasti Jisoo marah, karena dia sibuk mencari Nayeon dan meninggalkan proses shoting.

“Maaf untuk hari ini, besok aku tetap ikut proses shoting. Jangan menatapku begitu” ujar Jinyoung.

Jisoo mendengus. “Aku memang marah padamu, tapi bukan karena itu”

“Lalu?”

“Kenapa kau tidak mengkonfirmasi soal hubungan konyol yang dibicarakan semua orang? Oh ayolah Jinyoung! Jelas-jelas aku bukan pacarmu” Tegas Jisoo menekan setiap kalimatnya.

Jinyoung memutar bola mata malas, “tidak penting”

“Itu penting! Bagi perempuan status itu penting! Aku yakin, Nayeon sudah mendengar soal kita makanya dia pergi”

Jinyoung terdiam mendengar ucapan Jisoo, jujur sedari tadi ia tidak sampai berpikir kesana. Ia pure khawatir kalau Nayeon masih sakit dan terjadi hal buruk lain. Dwimanik Jinyoung bergerak gelisah, apa iya Nayeon menghilang hari ini karena itu?

“Aku tahu kau suka padanya. Jadi stop bersikap gengsi Park Jinyoung!” Tukas Jisoo

“Aku tidak menyukainya” Koreksi Jinyoung

“Mungkin Nayeon bisa dibohongi, tapi aku Tidak. Aku tahu kau suka padanya, kenapa sih kau susah sekali bilang padanya, bukannya jadi lebih mudah dan kalian bisa pacaran? Sesimple itu Park Jinyoung. Kenapa kau dan Nayeon membuatnya rumit?”

“Kau tidak mengerti Jisoo-ah”

“Aku mengerti”

Jinyoung tetawa kecil, “kau memang pandai, tapi soal perasaan tidak bisa kau laksanakan dengan kepandaianmu itu, hati yang bicara, bukan otak atau logika” Jelas Jinyoung.

Pemuda Park itu mengacak surai hitam Jisoo kemudian berdiri dan melangkah pergi.

“Pulanglah, ini sudah larut, besok aku akan ikut proses shoting, kau tenang saja” Ujar Jinyoung sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Jisoo.

Gadis Kim itu terdiam. Ia kesal, Jinyoung itu tidak tahu yang sebenarnya. Rumor aneh ini bisa saja membuat Jaebum menjaga jarak dengannya. Tidak tahukah Jinyoung kalau selama ini ia mencoba untuk lebih pintar itu karena agar bisa bergaul dengan Jaebum?

Bagaimana kalau Jaebum tahu soal rumor kencannya dengan Jinyoung? Bisa-bisa Jaebum tak mau lagi kenal dengannya karena secara tidak langsung Jaebum akan berpikir kalau ia telah menyakiti kembarannya, Im Nayeon.

Lagipula, Jisoo bisa membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Nayeon sekarang. Sungguh, ia merasa tidak enak. Sial, kenapa social media sekarang sangat menyeramkan.

Ishh…

Jisoo akhirnya berdiri juga dan hendak pergi. Tapi seseorang menghentikan langkahnya. Menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.

“Kau yang namanya Kim jisoo?”

***

Mentari pagi bersinar cukup cerah, Nayeon menggeliat pelan. Ia terbangun dengan cepat dari biasanya. Itu jelas karena memang semalam ia tidak tidur dengan tenang. Nayeon menoleh kesebelahnya, puteri Bibi Jung tengah tertidur pulas disampingnya.

Nayeon pun bergerak perlahan untuk bangun dan membersihkan diri. Sebisa mungkin tidak membuat pergerakan yang dapat membangunkan Yerin. -Nama puteri Jung Ahjumma-

Melihat pancaran sinar matahari yang terang dari balik selah bilik jendela. Nayeon merasa tertarik, ia lantas menuju keluar rumah. Dan saat ia membuka pintu, udara sejuk khas pagi hari pedesaan menyambutnya.

Ini benar-benar menyejukkan.

Pemandangan pun sangat indah, segera Nayeon meraih ponsel dan membidik pemandangan pagi hari didepannya. Bukankah sangat sayang kalau moment seindah ini tak diabadikan.

Nayeon berdecak kagum dan berbangga diri melihat hasil jepretannya. Segera saja ia ingin membagi kebahagiaan pagi ini kepada Jinyoung.

Euh?

Gerakan lihai jemari Nayeon yang sudah membuka chat room personalnya dan Jinyoung itu terhenti.

Ia lupa, kalau seharusnya ia berhenti menghubungi Jinyoung. Berhenti menggangu Jinyoung dengan pesan-pesannya.

Pasti, sudah ada Jisoo yang mengucapkan selamat pagi pada Jinyoung.

Nayeon menunduk. Matanya memanas lagi. Mencoba mengalihkan perhatian, Nayeon mengadahkan kepalanya menahan air mata yang hendak jatuh. Saat ia bergerak kesana kemari mengusap air matanya. Ia melihat sebuah mobil yang ia kenali.

“Bukankah itu mobil chanyeol oppa? Kenapa dia masih disini?”

Nayeon melangkah mendekat kearah mobil. Benar saja, itu mobil chanyeol. Dan pemuda itu ada didalam mobilnya tengah tertidur.

Gadis itu tersenyum, Chanyeol tidur dengan tenang meski dalam keadaan duduk, wajahnya lucu. Lucu sekali. Lantas Nayeon memutar langkah dan masuk kedalam mobil.

“Oppa?”

Gadis itu menusuk-nusuk pipi Chanyeol, mencoba membangunkannya. Tapi, tak ada pergerakan dari Chanyeol.

“Oppa?”

“Ehmm”

Chanyeol mulai menggeliat pelan, tapi bukannya bangun. Pemuda itu justru membalikkan badan.

“Ishh.. oppa”

Nayeon menepuk pipi Chanyeol. Alhasil, pemuda itu terbangun dengan kaget. Dan..

Klik

“Yak! Im Nayeon!”

Nayeon berhasil memotret wajah bantal Chanyeol ketika bangun tidur. Sungguh, itu lucu sekali. Chanyeol protes, ia mencoba meraih ponsel Nayeon.

“Kemarikan ponselmu!”

“Tidak” Nayeon menjulurkan lidahnya mengejek. “Ini lucu tahu Oppa” ucap Nayeon.

“Ohh Ayolah Nay!! Itu pasti jelek sekali”

Chanyeol masih mencoba meraih ponsel Nayeon.

“Oppa hentikan! Jangan menggelitikku”

“Makanya berikan ponsel itu”

“Tidak mau… oppaaaaaa jangan menggelitik ku”

“Kembalikan Nay”

Nayeon tak bisa berhenti tertawa, Chanyeol tahu kelemahannya. Pemuda park itu mengusik punggung Nayeon dan menggerakkan jemarinya usil dileher Nayeon. Letak dimana gadis itu tak bisa menahan tawa karena geli.

“Oppaa… baiklah .. ha…hh”

Chanyeol berhenti mengerjai Nayeon, ia lantas merebut paksa ponsel Nayeon dan menghapus foto yang baru saja diambil Nayeon.

Gadis itu tengah mengatur napasnya dan merapikan surai rambutnya yang berantakan karena ulah usil Chanyeol.

“Oppaa! Besok-besok jangan mengusik rambutku.. jadi berantakan kan, ishh”

Chanyeol hanya terkekeh, “tapi tetap cantik kok, lihat? Ahahaha lucu Nay.. apalagi kalau poninya seperti ini”

Bukannya berhenti. Chanyeol justru kembali mengacak-acak surai Hitam Nayeon.

“CHANYEOL OPPPPAAAAA!!!”

Nayeon berteriak kesal, ia mendorong Chanyeol kuat-kuat sampai membuat chanyeol terhentak kepintu mobil. Dan membuat beberapa barang Chanyeol yang berada didashboard berserakan.

“Arghhh Yak Nayeon-ah… kau ini kuat juga ya kecil-kecil”

Chanyeol memegangi punggungnya kesakitan. Sementara Nayeon mendengus kesal, ia kemudian tak sengaja melihat barang Chanyeol yang jatuh berserakan. Ketika Chanyeol merapikan beberapa barangnya. Ia pun ikut merapikan membantu Chanyeol.

“Uwahhh”

Nayeon berseru senang melihat sebuah foto anak kecil tak sengaja jatuh juga. Itu pasti foto kecil Chanyeol.

“Aaaa lucunyaa…..”

“Yak kembalikan”

“Ini oppa ya? Wahh lucu sekali serius.. wajahmu itu loh, haha”

Chanyeol hanya terkekeh, ia merasa senang melihat Nayeon senang.

“Park Chanyeol-Park Jinyoung?”

Sebuah pertanyaan Nayeon membuat Nayeon menoleh kaget.

“Ini adik oppa?” Tanya Nayeon bingung. “Wah, namanya sama dengan Jinyoung ya” gumam Nayeon kecil.

Chanyeol terdiam. Ia tak berniat meraih foto itu atau pun mengelak. Pemuda itu menunduk, lalu memejamkan mata kuat-kuat.

Sementara Nayeon kebingungan, ia merasa tidak asing dengan wajah laki-laki yang ada disebelah foto chanyeol itu. Ia merasa, bocah itu mirip dengan Jinyoung. Tapi,

“Jinyoung itu adikku”

Nayeon menoleh terkejut, “maksudmu oppa?”

“Park Jinyoung yang kau kenal, dan Park Jinyoung adikku itu adalah orang yang sama”

“Apa?”

***

Park Jinyoung membanting tasnya asal. Ia tak bisa mengendalikan emosinya. Ia tidak tahu dan ia tidak mengerti. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Sepanjang malam pikirannya tak tenang hanya karena sebuah pesan singkat dari sang kakak.

“Kau melepasnya, dan aku akan menangkapnya. Jinyoung, kalau sampai besok pagi kau tidak datang, aku akn membuatnya benar-benar lupa padamu Jinyoung. kuharap kita bersaing sehat”

“Sial”

Jinyoung kebingungan, terlebih, ia tak menerima satu pesan pun dari Nayeon pagi ini. Padahal biasanya Nayeon selalu mengabarinya.

Jinyoung memegangi kunci motornya gelisah. Ia tahu dimana Nayeon sekarang, tapi apa iya dia harus pergi kesana dan merebutnya dari chanyeol? Tapi, bukankah itu lebih baik? Bukankah ia yang ingin Nayeon berhenti mengejarnya?

Kenapa perasaannya jadi Bimbang? Sebenarnya bagaimana perasaanya pada Nayeon?

Jinyoung memejamkan matanya, ia mencoba membuat pilihan yang tepat. Tapi belum sempat ia memilih, sebuah panggilan masuk mengusiknya.

‘Jungkook Calling’

Jinyoung segera mengangkat ponselnya.

“Hyungggg”

“Aishhhh Yak!” Jinyoung kesal dengan suara nyaring Jungkook.

“Hyung cepat kerumah sakit, Jisoo Noona kecelakaan”

“Mwooooooo????”

***

Perasaan seseorang itu bisa saja berubah setiap saat. Entahlah, Nayeon terus diam sejak tadi. Ia tidak marah pada Chanyeol yang menutupi kenyataan tentang hubungan darahnya dan Jinyoung.

Tapi entah kenapa, Nayeon merasa sakit. Padahal ia sempat berpikir untuk menyukai Chanyeol karena segala kebaikan pemuda itu. Tapi, setelah tahu kalau Chanyeol adalah kakak Jinyoung. Rasanya aneh.

Kini, gadis itu tengah menunggu Chanyeol yang sedang membeli sarapan untuk mereka.

Dan setiap Nayeon sendiri, ia selalu ingat akan Jinyoung. Sedang apa Jinyoung sekarang?

Drttt..

Sebuah pesan masuk, membuat Nayeon mengalihkan pandang pada ponselnya. Ia kemudian terdiam melihat isinya.

From : Jung Chaeyeon.

Nayeon-ah 😭 apa ini benar? Sebenarnya gadis itu siapa Jinyoung? Nay, kau baik-baik sajakan?

Nayeon-ah 😭 apa ini benar? Sebenarnya gadis itu siapa Jinyoung? Nay, kau baik-baik sajakan?

Nayeon merasa sesuatu menusuk hatinya. Bahkan Jinyoung tidak memikirkannya dan tersenyum cerah untuk orang lain. Lalu kenapa ia jutru disini terluka sendiri?

Nayeon baru tahu, kalau mencintai itu bisa semenyakitkan ini.

Rasanya sakit sekali, walau hanya melihat senyum itu untuk gadis lain. Seperti seluruh pasokan udara lenyap begitu saja.

“Jadi, benar ya, mereka berkencan?”

.
.
.
.

To be continue

😭😭😭 aku baper sama jisoo 😢
Maaf ya ceritanya makin gaje

Thanks masih setia nunggu FF aku, makasih untuk vote sama komennya 😙😙😙😙😙😙😙😙 aku berusaha buat yang nextnya lebih bagus.
Salam Jinyeon ~

Iklan

5 comments

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s