Me You

A fiction By 29Megumi ©2016

Main Cast :

Jungkook (BTS) X Nayeon (Twice) X Seungcheol (Svt)

.

Other Cast :

Park Jinyoung, Im Jaebum (GOT7) – and other.

.

.

Romance, Drama, Teen | Chaptered ( Prolog ) (Chapter 1) (Chapter 2) (Chapter 3) …… | PG-16

.

.

.

“Tak ada sejarahnya, ada kata ‘Dia’ diantara kata ‘Kita’ “

***

“Aku berhenti dari team fotografi”

“Hah?”

Katakan pada Jungkook untuk tidak menyentuh bibir lembab Nayeon sekarang Juga. Oh ayolah, apa ia baru saja bermimpi? Apa Nayeon benar-benar mengatakan keluar dari team fotografi? Tapi kenapa tiba-tiba? “Ke..kenapa?” Tanya Jungkook

Nayeon yang kini terus menunduk hanya menghembuskan napas dan mengeratkan genggaman tangannya pada Jungkook. “Aku hanya tidak ingin bertengkar denganmu” jawab gadi itu.

Kedua alis Jungkook saling bertaut bingung, “maksudmu Nay?”

“Bukannya sudah jelas beberapa terakhir ini kita selalu bertengkar, dan itu semua karena seungcheol opp- sunbae maksudku”

Jungkook mengulas senyum tipis, tangannya terurai mengusap puncak kepala Nayeon. “Hmm… aku akan mentraktirmu”

Im Nayeon mengangkat wajahnya, mempertemukan dwimanik cokelatnya dengan sepasang mata indah yang tersenyum teduh dihadapan. “Traktir?”

“Bukannya tadi kau bilang lapar?” Ujar Jungkook kemudian menarik Nayeon untuk segera berjalan meninggalkan sekolah.

Nayeon mengangguk-angguk, dibalik punggung Jungkook ia tersenyum hangat. Dan helaan napasnya menandakan kelegaannya karena ternyata semua baik-baik saja. Memang, Nayeon sedikit tidak suka dengan sikap Jungkook yang terlalu mengambil enteng setiap masalah, tapi mau bagaimana lagi. Biarlah Jungkook bersikap sesukanya.

Meski sebenarnya, kalau dipikir-pikir sikap Jungkook itu menjengkelkan juga. Masa setelah ia mengorbankan kegiatan pertamanya disekolah ia tidak menunjukkan reaksi yang lain? Maksudnya, misalnya memeluknya dan mengatakan terimakasih, atau perasaan sayang begitu? Dasar Jeon Jungkook!

***

 

Choi seungcheol memandang hamparan sungai han sore hari dengan tatapan kosong. ‘Dia menolak membantumu, tapi dia memberimu buku ini supaya kau dapat inspirasi memotret’ ucapan Noonanya terngiang terus menerus.

Nayeon tidak mau membantunya lagi. Seharusnya sekarang, ia disini bersama Nayeon. Saling melepas tawa dan memotret alam bersama. Seungcheol menghembuskan napas kesal.

Ia menatap acuh kamera nya. Kamera itu tidak menarik lagi.

“Hai teman”

Seungcheol mendelik keheranan melihat seseorang berdiri tegap didepanya. Memperhatikan wajah yang rasa-rasanya tidak asing itu dengan seksama. Sampai senyum nya tersungging “shin Wonho!”

“Aigoooo kau lama sekali mengenali ku hah”

Seungcheol bangun dari duduknya dan berhambur memeluk sang teman lama. Mereka melepas rindu. Sudah lama sekali Mereka tidak bertemu. Terakhir, yang Seungcheol ingat ia dan Wonho berkelahi didepan sekolah, tepat dihari kepindahannya ke Seoul.

“Bagaimana misimu?” Tanya Wonho yang sudah mendudukkan diri didekat Seungcheol.

“Misi apa?”

“Nayeon mu?”

Seungcheol tersenyum kecut “dia sudah punya pacar”

“Ouhh mengenaskan”

“Diam” Seungcheol benar-benar tengah malas membahas itu.

“Ahya.. aku tahu siapa pacarnya” ucap Wonho tersenyum sembari mengambil sekaleng minuman yang tergeletak disana lalu menengguknya.

Seungcheol menoleh heran seolah mempertanyakan dari mana Wonho tahu semua itu dan apa benar dia tahu siapa pacar Nayeon. “Jeon jungkook, salah satu anggota club taekwondo Jaebum” lanjut ucapan Wonho

“Darimana kau tahu?” Kata Seungcheol

“Sowon yang cari tahu, bukan aku”

“Siapa tadi katamu?”

“Sowon, dia masih menyukaimu, dan masih tidak terima kau pergi begitu saja setelah menolaknya dulu”

“Biarkan saja, aku tidak peduli”

“Tapi, dia punya rencana lain untuk Nayeon”

“Apa?”

“Sowon bukan  orang yang tinggal diam dan pasrah melihat pacarnya mengejar-ngejar pacar orang lain”

“Aku bukan Pacarnya!”

Wonho tertawa, ia seolah senang melihat ekspresi tidak suka dari seungcheol. Sementara pemuda Choi tersebut hanya mendengus kesal menatap tidak suka sang teman.

“Wonho?”

“Ya?”

“Sowon akan melakukan apa?”

“Euh?”

“Katakan pada gadis itu jangan pernah berani melakukan sesuatu dengan Nayeon! Karena aku tidak akan tinggal diam, satu lagi, aku rasa aku akan berhenti menyukainya”

“Hah? Semudah itu? Secepat itu?”

“Benar kata pemuda yang merebutnya dariku, mau sebagaimanapun aku berusaha,, Nayeon tetap pacarnya. Mungkin aku hanya perlu ke kuil dan berdoa supaya mereka cepat putus” Seungcheol tertawa hambar

Shin Wonho yang melihat itu hanya menggeleng dan menghembuskan napas. Lantas merangkul sang sobat karib memberi semangat lewat nya. “Datanglah padaku setiap kau butuh kawan. Bahuku selalu ada untukmu”

Seungcheol menepis rangkulan Wonho dan menatap tajam pemuda shin itu. “Menjijikan”

 

***

“Terimakasih sudah mengantarku pulang sunbae”

Jaebum mengangguk, ia memandangi sekitar rumah dahyun dengan seksama. Rumah itu besar sekali. Sepertinya dahyun berasal dari keluarga kaya. Tapi, apakah komplek perumahan elite selalu sepi seperti kuburan begini?

“Sepi ya rumahku?” Tanya dahyun memahami pikiran jaebum

“Ya, sedikit” tutur Jaebum jujur.

“Orang tuaku sibuk, dan aku anak tunggal” Dahyun mengangkat bahunya acuh. Ia memandang Jaebum yang masih sibuk melihat-lihat sekitar rumahnya. Ia sendiri mengikuti kemana saja Jaebum melihat, mencari tahu sebenarnnya apa yang sedang seniornya itu lakukan.

Jaebum mengangguk-angguk. “Lalu, kau dirumah sendirian?”

“Tidak, ada 2 pembantu ku dan satu satpamku”

“Tapi, kenapa kau tidak pernah terlihat naik mobil, maksudku, tidak diantar jemput” Jaebum sepertinya mulai penasaran. Hati-hati Jaebum, rasa penasaran itu adalah awalnya. Sial! Jaebum mendesis menyadari pertanyaannya terlalu sedikit pribadi.

“Awalnya karena aku sering membuntuti Jungkook sunbae, eh lama kelamaan jadi terbiasa naik bus, lebih seru” Dahyun tetap menjawab enteng.

“Tapi- Jaebum menoleh pada gang gelap yang tadi ia dan dahyun lewati untuk sampai kerumah dahyun. Gang itu sepi dan gelap kalau malam, lampu jalan nya mati. “kau tidak takut?” Lanjut pertanyaannya dan menoleh kepada Dahyun.

“Lampu itu sudah mati, aku sebenarnya suka takut setiap lewat situ, apalagi kemarin tetanggaku kerampokan”

Jaebum memandang Dahyun, “kau memang pulang selarut ini juga setiap hari?”

Dahyun tertawa “aku bukan Nayeon eonni yang pulang telat sedikit saja banyak yang mencari, aku sibuk banyak kegiatan les, ya sebenarnya itu alasan saja supaya sampai rumah sudah larut dan langsung tidur, jadi tidak merasa kesepian” jelas gadis itu.

Jaebum mendesah berat, ia benci sikap pahlawannya yang gentleman ini. Bahkan malaikat disebelah kanannya sudah menyuruhnya untuk segera memanjat tiang lampu itu dan membetulkan lampu yang mati, supaya Dahyun tidak takut atau cemas lagi. Tapi, setan disebelah kirinya menghasut lain, ‘memang dia siapamu? Biarkan saja’

“kenapa, Sunbae?” Dahyun menegur Jaebum yang sibuk dengan pikiran dan dua malaikat yang kini menghilang seperti debu.

“Ne?”

Dahyun tertawa, ia lantas membungkuk sedikit “aku masuk ya Sunbae, ini sudah terlalu malam, sampai jumpa besok”

Kim Dahyun mengayuhkan kakinya memutar dan memasuki rumah besar miliknya. Membiarkan Jaebum yang masih diam ditempatnya dengan sejuta kebimbangan.

Selepas punggung gadis itu lenyap dibalik pintu pagar. Jaebum menghela napas, kakinya memutar berbalik dan saat hendak melangkah. Ia kembali tertarik pada lampu jalan didepan sana. Sial! Sepertinya, ia tidak bisa mengacuhkan ini.

***

 

“Selamat pagi Im Nayeon”

“Selamat pagi Oppa”

Nayeon menyambar telur gulung favoritnya diatas meja makan. Merasakan gurihnya makanan itu dimulutnya, Nayeon sampai memejamkan mata dan tersenyum senang memuji masakan buatan Jaebum sang kakak.

“Oppa yang terbaik! Ini enak sekali”

Jaebum hanya tertawa, masih sibuk menengguk segelas susunya dan memainkan ponsel.

“Eo? Oppa? Tanganmu?”

Atensi Jaebum teralihkan mendengar pekikan Nayeon. Adiknya itu lantas berhambur kearahnya dan memegang tangan kanannya yang dibalut perban.

“Oppa, tanganmu kenapa? Kau cedera? Kau jatuh? Astaga kenapa bisa begini?”

Jaebum menggaruk tengkuknya tak gatal bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan, dia bilang kalau dia terjatuh selepas membetulkan lampu jalan didekat rumah Dahyun.

“Jangan-jangan…

“Jangan-jangan apa?”

Nayeon membekap mulutnya tak percaya dengan hal yang terlintas diotaknya. “Oppa tidak terluka karena percobaan bunuh diri kan? Oppa tidak mau bunuh diri kan?”

Jaebum meringis mendapati ucapan Nayeon. Lantas ia mengetuk kepala Nayeon, “bodoh! Kau pikir aku seburuk itu?”

Nayeon mengerucutkan bibirnya “lantas kenapa oppa sampai terluka dan diperban begitu? Oppa, patah hati itu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai bunuh diri, itu tidak baik”

“Heolll~~~ kau sudah bisa menceramahiku ya?”

Nayeon tersenyum, “hmm.. aku sudah besar”

Jaebum tertawa “apanya yang besar? Pikiranmu dan caramu bersikap masih bocah tahu”

“Cintaku pada Jungkook yang makin membesar haha” Nayeon tertawa.

Sementara Jaebum mendengus. “Jangan terlalu mencintai seseorang Nay, kau harus tahu orang yang sangat kau cintai itu berpotensi besar menyakitimu”

“Oppa jangan bicara begitu”

“Sudahlah, cepat habiskan sarapanmu, aku yang mengantarmu kesekolah hari ini”

“Euh? Kenapa? Jungkook?”

“Jungkook kutugaskan mengurus beberapa alat latihan untuk perlombaan, jadi dia tidak bisa mengantarmu”

“Astaga oppa tega sekali, kan mengurus itu bisa sepulang sekolah”

“dia harus berlatih tanding hari ini”

Nayeon terdiam, “jadi, Jungkook tidak masuk sekolah hari ini?”

“Aku sudah mengurus surat dispensasinya”

Seperti ada yang hilang, Rasanya Nayeon malas pergi kesekolah hari ini.

***

 

Lagi-lagi, kesepian itu melanda. Nayeon menidurkan kepalanya diatas meja. Menghembuskan napas pelan dan lambat laun memejamkan mata. Kelasnya sepi sekali hari ini, semuanya sibuk mengurus pekan olahraga yang sebentar lagi diadakan.

Sementara anak yang tidak pandai olahraga atau tidak punya club apa-apa ini bisa apa? Ya cuma menikmati kelas sunyi yang serasa milik sendiri.

Drrrtttttt Drrrrrttttttt

Nayeon terpaksa membuka matanya mendapat pesan masuk,

-Jangan menunggu ku ya Nay, kurasa senior-senior ini akan mengurungku dilapangan, padahal seungcheol itu tidak ada, kau bisa pulang sendiri kan?”-

Pesan dari Jinyoung itu membuat Nayeon menghembuskan napas berat. Pulang sendiri ya?

Ya mau bagaimana lagi, setelah mengetikkan beberapa pesan ketidak keberatannya untuk pulang sendiri. Nayeon memakai jas sekolahnya, meraih tas dan kemudian melangkah keluar kelas untuk pulang.

Saat hendak menyebrang kearah halte, Nayeon dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menariknya. Hampir ia berteriak karena takut, tapi saat dilihat rupanya yang menariknya barusan itu adalah Bae Ssaem, Nayeon pun mengelus dada tenang.

“Ssaem?”

“Nayeon, aku butuh bantuanmu”

“Maksud Ssaem? Tapi kalau soal–

Nayeon takut jika ia dipaksa lagi untuk mengikuti team fotografi dan membantu sampai perlombaan. Jujur, sebenarnya Nayeon sangat senang bisa ikut membantu dalam hal seperti itu, tapi ia sudah memutuskan. Lebih baik begini, Jungkook tidak perlu khawatir tentangnya dan bisa fokus dengan Taekwondo nya.

“Bukan.. bukan soal itu”

“Ye?”

“Seungcheol sakit, dia demam dan.. dan aku tidak bisa merawatnya karena mendadak diberi tugas kunjungan ke daegu, kau bisa membantu ku Nay?”

“Seungcheol sunbae sakit?”

Bae Ssaem mengangguk, lalu ia menggenggam tangan Nayeon dan memasang wajah penuh permohonan. “Untuk hari ini, aku mohon bantu aku rawat dia, dia itu adik sepupu ku satu-satu nya, aku tidak punya keluarga lagi selain dia, dia tidak akan pernah mau menyentuh makanan kalau sudah sakit begini, biasanya aku yang akan mengancam dan memasukkan makanan secara paksa kemulutnya, tapi aku tidak bisa, kau mau membantuku kan Nay? Sepenglihatanku, dia sangat menurut padamu”

“He? Aku?”

Nayeon gelagapan tak tahu harus jawab apa. Tapi melihat keseriusan ucapan guru nya itu. Ia pun mengangguk pelan “baiklah” tuturnya kemudian.

“Aahhh syukurlah, terimakasih Nayeon, kau memang gadis yang manis, ini ku beri alamat rumahku, dan oh ya, tolong bawakan jeruk ya, dia butuh yang asam-asam, maaf aku merepotkanmu”

Nayeon menerima beberapa lembar uang untuk membeli jeruk dan juga kertas berisi alamat rumah dari Bae Ssaem. Gadis itu mengangguk tersenyum “tidak apa-apa Ssaem, aku juga tidak sedang sibuk kok”

“Terimakasih Nayeon-ah”

***

Sesuai dengan yang diucapkan guru Bae, Nayeon membawa beberapa buah jeruk di kantung plastik yang ia genggam. Ia tersenyum hangat pada pelayan rumah dikediaman guru Bae. Nayeon diperlakukan dengan baik, sampai disana, gadis itu disambut hangat dan diantar ke kamar seungcheol.

“Terimakasih Nona sudah membantu kami, sebanyak apapun kami pelayan disini, tuan muda sangat menyusahkan kalau sudah sakit, oh tapi bukan berarti aku mengeluh, hanya saja dia sangat pemilih”

“Tuan? Muda?”

“Ya, Tuan Seungcheol”

Nayeon mengangguk paham, oh Nayeon lupa kalau seungcheol itu anak orang kaya. Ya, dia satu dari sekian laki-laki idaman disekolah. Jangan lupakan Dahyun yang suka mengoceh dan menyebut seungcheol pangeran perak nya.

Melepas semua pikirannya, Nayeon menatap pintu cukup besar dihadapan. Pelayan yang mengantarnya mengetuk pintu itu “Tuan muda, Ada temanmu yang datang”

Nayeon dan pelayan tersebut menunggu jawaban dari dalam sana. Tapi sepertinya tidak ada jawaban sampai beberapa detik berikutnya.

“Em.. kurasa kau masuk saja, Lagipula kan Nona Bae yang menyuruhmu datang, pintu ini tidak dikunci, kau bisa memanggilku didapur kalau butuh sesuatu”

“Ye? Aku? Masuk sendiri?”

“Ya, tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi kembali bekerja Nona”

Nayeon ditinggal sendiri oleh pelayan tadi. Ia pun akhirnya menyentuh gagang pintu dan memutarnya, benar saja. Pintu ini tidak dikunci.

Saat ia mendorong pintunya dan meloloskan diri memasuki kamar cukup megah itu. Nayeon langsung disambut dengan geraman Seungcheol. “Jangan mengangguku!! Suruh Wonho pulang!!”

“Won?ho?”

Seungcheol kaget, ia yang sebelumnya membungkus diri dengan selimut tebal lantas membuka selimutnya dan menatap Nayeon yang bergeming diambang pintu.

“Na?..Nayeon?”

Nayeon tersenyum, ia melangkah dengan ringan menuju seungcheol yang nampak jelek hari ini. Rambut acak-acakan, wajah kusam dan sedikit pucat, serta lingkar mata yang nampak jelas.

“Kau benar-benar sakit sunbae?” Ucap Nayeon setelah mengecek suhu tubuh seungcheol dengan menempelkan telapak tangannya didahi pemuda itu.

Yang entah bagaimana, tanpa Nayeon tahu pemuda itu serasa disambar jutaan volt listrik dan membuat otaknya lumpuh seketika. Sentuhan Nayeon itu, sangat hangat.

Seungcheol hanya diam dan melihat gerak-gerik Nayeon. Dari mulai gadis itu memerintahnya duduk dan menyandarkan diri, memarahinya karena tidak memakan makanannya serta memaksanya menyuap beberapa makanan yang sebenarnya enak itu justru terasa pahit dimulutnya.

“Pahit” ucap seungcheol mengutuk makanan yang baru saja ia telan dengan susah payah.

“Tentu saja sunbae! Kau itu sedang sakit, lidahmu tidak beres, makanya semuanya terasa pahit, tapi biar bagaimana juga tetap harus makan tahu!”

Seungcheol menggeleng saat Nayeon hendak menyuapinya lagi. “Tidak”

“Sunbae! Tiga atau empat suap lagi, setelah itu minum obatnya dan aku tidak akan memaksamu makan lagi”

“Itu pahit Nay”

“Tahan sebentar”

Seungcheol tak bisa menahan senyum dan rasa bahagianya melihat Nayeon ada disini mengunjungi dan bahkan merawatnya. Rasanya indah, Seungcheol tidak akan melupaka  hari ini.

Pemuda itu membuka lagi mulutnya perlahan, yang lantas disambut baik oleh Nayeon. Bahkan gadis itu mengusap rambutnya pelan setelah berhasil menyuapkan makanannya seperti anak kecil.

“Kau disuruh Noonaku?”

Nayeon mengangguk, dalam hati seungcheol bersorak senang dan sungguh ia akan memeluk Noonanya kalau Noonanya pulang nanti.

“Terimakasih” ucap Seungcheol kemudian.

“Cahh sekarang, minum obatnya. Ohya sunbae, aku bawakan jeruk juga untukmu, tunggu aku ambil didapur ya, tadi aku berikan pelayanmu soalnya” Nayeon berdiri dan melangkah keluar kamar.

“Rasanya lucu, astaga, kalau begini, mana bisa aku merelakanmu?” Batin Seungcheol memandangi punggung Nayeon yang lenyap dari balik pintu.

***

Latihan yang cukup melelahkan. Rasanya tubuh Jungkook retak semua, kalau bukan karena pemilik sasana taekwondo ini kakak dari kekasihnya, mungkin Jungkook sudah menolak mentah-mentah untuk menggantikannya di kompetisi nanti. Oh bahkan, ia masih harus mempersiapkan diri untuk kompetisi taekwondo antar sekolah.

Melihat seseorang yang sedang ia pikirkan dengan kesal justru asyik bercanda membuat Jungkook naik pitam. Tapi sekali lagi, orang itu adalah kakak dari kekasihnya, ia pun menghela napas pasrah tidak bisa menunjukkan kekesalannya.

Ahh memikirkan ini, kenapa perasaan merindukan Nayeon muncul? Apa ia sudah pulang sekolah?

Jungkook pun tak banyak membuang waktu, segera diambil ponselnya dan mengetikkan beberapa nomor lalu menelepon Nayeon.

Sembari menunggu sambungan teleponnya diangkat oleh Nayeon, Jungkook sibuk membersihkan keringatnya dengan handuk. Sampai suara tanda teleponnya telah tersambung membuatnya tersenyum senang.

“Hai Nay?” Sapa Jungkook langsung.

“Jungkook-aaahhh”

Pekikan Nayeon yang seperti biasa cukup menyakitkan telinga itu kini menjadi favoritnya. Teriakan manja yang hanya untuknya itu benar-benar memabukkan. Perlahan tapi pasti, Nayeon membuat Jungkook semakin gila karena perasaan yang terus menggunung.

“Kau sudah sampai rumah ?” Tanya Jungkook.

“…”

“Nay? Kau masih disana?”

“Euh?”

“Kenapa diam? Kau sudah sampai rumah?”

“Eu…it..iyaa”

“Syukurlah, Jinyoung mengantarmu?”

“Tidak”

“Apa?”

“Jinyoung sibuk dengan urusan basketnya”

“Maaf Nay”

“Kenapa harus minta maaf?”

“Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang”

“Ish seharusnya yang meminta maaf itu jaebum oppa! Dia sudah mensabotase mu sampai tidak punya waktu untukku”

Jungkook tertawa, gadis itu menggemaskan. Sial! Rasanya Jungkook ingin mencubit pipi itu sekarang.

“Aku merindukanmu”

Dan kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Jungkook.

“Aku juga, cepat selesaikan urusan pukul-pukulanmu itu ya, maaf aku tidak bisa mendukungmu lebih dari ini, kau tahu aku tidak suka melihat acara pukul-pukulan begitu”

“Ya.. ya.. aku tahu, kau sedang apa?”

“Aku? Mengupas jeruk?”

“Jeruk?”

“Emm.. aku sedang membuat jus jeruk”

“Aah.. pasti segar”

“Tentu”

“Aku mau”

“Nant… oh Jungkook sudah dulu ya, itu.. itu ada yang menelepon rumah, sampai nanti, semangat”

Tutt tutt tuttt

Jungkook mengeluh ketika panggilannya terputus begitu saja. Ia memandangi layar ponselnya yang sudah kembali ke screen awal. Wallpaper ponselnya kini menjadi perhatian seluruhnya. Gambar gadis kesayangannya yang menunduk cemberut dibawah perosotan bermain.

Ahh.. rasanya sudah lama ia dan Nayeon tidak bermain ketaman komplek. Semenjak masuk semester awal dan mulai sibuk dengan urusan sekolah, mereka sering melewatkan waktu kencan.

Jungkook memilih folder galeri diponselnya, menampakkan banyaknya foto Nayeon disana. Yang sudah pasti, diambil tanpa sepengatahuan Nayeo sendiri.

Jungkook terus menggeser layar ponselnya, memperhatikan satu persatu hasil jepretannya. Nayeon – Nayeon – dan Nayeon. Semua foto yang berhubungan dengan gadis itu.

“Jungkook! Ayo latihan lagi”

Seruan Jaebum membuat Jungkook cepat-cepat menaruh ponselnya dan berlari kembali kearena latihan.

***

“Jus jeruk tanpa es?”

“Karena kau sedang sakit, jadi jus jeruk itu tidak aku beri es”

“Ini namanya air jeruk”

“Ya kan sama-sama jeruk sunbae”

Seungcheol tertawa, gadis itu lucu sekali. Oh bahkan sebenarnya ia tidak begitu ingin membahas jeruk yang baru saja dibuatkan oleh gadis itu. Tapi, melihatnya tertarik dan menanggapi gurauanya. Ia pun jadi senang bermain-main.

“Mm… ini enak” puji seungcheol ketika air jeruk itu mengalir ditenggorokanya. Segar.

“Lidahmu tidak pahit lagi kan?” Tanya Nayeon

“Tidak, ini enak sekali”

“Sunbae sudah minum obatnya?”

Seungcheol mengangguk

“Kalau begitu, sunbae istirahat, aku..

“Nay?” Seungcheol menyela ucapan Nayeon. Ia yakin, Nayeon hendak mengajukan pernyataan untuk pulang. Ia tidak mau Nayeon pulang sekarang. Ini belum cukup.

“Bisa temani aku sampai Noonaku pulang? Aku.. aku butuh teman”

Nayeon kebingungan. Ia bahkan berbohong tadi pada Jungkook. Ia juga belum Izin pada kakaknya. Ini bagaimana?

“Bisa kan Nay?” Tanya seungcheol

Dan melihat kondisi seungcheol sekarang, Nayeon akhirnya mengangguk.

 

***

PROK PROK PROKKK

“wuahhh … lihat siapa ini? Im Jaebum?”

Suasana makan malam yang sebelumnya cukup menyenangkan diantara Mark, Jaebum, Jungkook dan beberapa anggota Club Taekwondo milik Jaebum berubah menjadi sedikit menegangkan kala suara yang menurut Jaebum tidak bersahabat itu mengganggu waktu minum mereka.

“Haiii Jaebum” sapa orang disana.

Jaebum menghela napas. Orang itu selalu saja mengganggunya.

“Eohh? Kakak tampan yang kemarin” seru Dahyun dan bahkan kini melempar asal handuk yang sebelumnya ingin ia berikan kepada Jungkook.

“Hai?” Sapa orang itu pada Dahyun.

Jungkook meringis melihat sikap dahyun. Astaga, kenapa Juga Jimin bisa menyukai Dahyun yang mata nya berubah hijau setiap lihat laki-laki tampan.

“Apa yang membawamu kemari?” Tanya mark yang menghampiri orang itu lalu mengulurkan tangan menyambut kedatangannya “sudah lama sekali ya, Wonho?”

Orang yang disebut Wonho itu tersenyum senang dan menyambut uluran tangan Mark. “Heii LA boy”

Mark tertawa “kau tidak berubah ya Wonho”

“Tentu, dan Jaebum juga tidak berubah, masih menatapku sengit begitu. Oh ayolah Jaebum, aku tidak melakukan apa-apa pada Nayeon waktu itu”

Jaebum mendengus “tetap saja kau membuatnya pulang tengah malam dengan luka dikakinya bodoh!”

Rupanya kejadian beberapa tahun lalu saat Nayeon masih Smp. Membuat Jaebum sedikit sering tersulut emosi jika melihat si palyboy Wonho. Ia takut jika adiknya yang sangat polos itu dikerjai oleh Wonho, sampai suatu hari ketakutannya terjadi, Wonho menculik Nayeon dari sekolahnya dan mengajak Nayeon bermain seharian sampai tengah malam. Masih beruntung ia tidak membunuh mantan temannya itu.

“Nayeon?” Jungkook merasa perlu bersuara sekarang. Kekasihnya disebut-sebut disini.

“Nugu?” Tanya Wonho

“ dia pacar Nayeon” ujar Mark

“Benarkah? Wahh… rasanya ada yang aneh”

“Maksudmu?” Tanya Jungkook. Ia memicingkan matanya menatap laki-laki dihadapan yang kini sudah seenaknya duduk dan mengambil beberapa makanan diatas meja mereka. Semenjak muncul Choi Seungcheol yang ternyata adalah seseorang dari masa lalu Nayeon, membuat Jungkook sedikit lebih over protektif pada gadisnya. Ia merutuk diri sendiri yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Nayeon.

Lalu pria ini siapa? Bukan mantan Nayeon yang pasti, Jungkook masih ingat jika Nayeon pernah bilang, kalau dirinya adalah yang pertama untuk Nayeon.

“kau benar pacar Nayeon?” Tanya Wonho

“jangan bicarakan adikku disini!” tukas Jaebum.

“benar, kan ada aku, kenapa harus Nayeon eonni terus yang disebut-sebut” gerutu Dahyun.

Wonho tersenyum, “bukan begitu maksudku Jaebum, hanya saja, aku tidak percaya jika dia pacar Nayeon. Setahuku, Nayeon memiliki hubungan dengan temanku”

“maksudmu?” Jaebum menatap Tanya penuh meminta penjelasan pada Wonho.

“yaaa… setahuku begitu, buktinya hari ini Nayeon sedang dirumah temanku. Dia merawat temanku yang sakit”

“apa?” Jungkook tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi ia meyakinkan diri untuk percaya, bukankah tadi saat ditelpon Nayeon bilang sudah dirumah? Percaya pada Nayeon, Jeon Jungkook.

“jangan bicara yang macam-macam soal adikku” bantah Jaebum

Wonho bersorak dalam hati, okey ia akan membantu sobatnya itu mendapatkan Nayeon. Setidaknya, dengan seungcheol yang hanya fokus pada Nayeon, Sowon-nya tidak akan mengharapkan sahabatnya itu lagi.

            Wonho meraih ponsel dari saku celananya, ia tersenyum sendiri melihat bagaimana seungcheol antusias dan bahkan memotret Nayeon diam-diam dan mengirimkan padanya, Wonho membuka foto dimana Nayeon terlihat tengah sibuk membuat jus jeruk, dan ia menyodorkan ponselnya pada Jaebum. “ini Nayeon kan?” Tanya nya.

            Jaebum merebut ponsel Wonho dengan cepat, ia melihat foto yang terpampang disana cukup terkejut.

            “kata seungcheol, Nayeon sedang membuat jus jeruk untuk nya, kurasa sekarang dia masih dirumah seungcheol”

            “seungcheol?” Jungkook naik pitam, Nayeon berbohong?

            Pemuda Jeon itu makin berapi kala melihat sekilas foto dari ponsel yang digenggam Jaebum, ia lantas berdiri cepat dan tak lupa menarik Dahyun dari sana,

            “YAKKK! SUNBAE” Protes Dahyun

            Jungkook menarik Dahyun keluar rumah makan ini, Jaebum melihat itu hanya menghembuskan napas dan melempar ponsel yang ia pegang kembali pada Wonho. “ayo mark, kita pulang” serunya kemudian.

***

            “apa tidak sebaiknya aku antar?” choi seungcheol terus bertanya begitu sepanjang mengantar Nayeon sampai kedepan gerbang rumahnya. Saat mereka sudah didepan gerbang, Seungcheol menghembuskan napas khawatir, ini sudah malam. Akan berbahaya jika Nayeon pulang sendiri.

            “tidak perlu Sunbae, Bae Ssaem kan sudah memanggil taxi untukku, sebaiknya sunbae masuk saja sana, nanti kedinginan”

            Bukannya menurut, Seungcheol justru melepas jaketnya, dan ia pakaikan kepada Nayeon, “aku tidak apa-apa, kau yang seharusnya memakai pakaian lebih tebal”

            “tapi—

            “sudah Nay, pakai saja”

            “baiklah”

            “kemana Taxi itu? Kenapa belum datang”

            “mungkin sebentar lagi”

            “ohya Nay, terimakasih ya”

            “untuk?”

            “Untuk hari ini”

            Nayeon tak berkutik kala Seungcheol tiba-tiba menariknya kedalam pelukan hangat pemuda itu. Ia hanya diam tak tahu harus berbuat, tak membalas dan tak menolak. Nayeon membiarkan saja seungcheol memeluknya.

            “kau hangat Nay”

            “Sunb…~

            “IM NAYEON!!”

            Suara siapa itu?

            Nayeon melepas pelukan Seungcheol dan menoleh kesumber suara, betapa terkejutnya Nayeon melihat Jungkook disana.

            “Jung..Jungkook?”

To Be Continued

Happy Monday ^^

Mian ya kalau makin kesini makin gak jelas :V

 

 

Iklan

5 tanggapan untuk “Me You #4

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s