Gotta have you #3 

.

JinYoung (GOT7) X Nayeon (Twice) 

.

.

Romnce, school life, drama | Chapter | PG 16 

.

.

.

¤¤ “sebentar lagi, aku akan mendapatkan cinta Jinyoung oppa”¤¤ 

.

.

Rasanya aneh, benda lembab itu saling menyentuh. Hanya menyentuh. Tidak lebih dari itu. Tapi, akibatnya sangat fatal untuk Jinyoung dan Nayeon. Mereka sama-sama diam terkejut. Nayeon terkejut karena perbuatan mendadak Jinyoung, dan Jinyoung juga terkejut kenapa ia bisa melakukan hal itu. 
Jinyoung menjauh, perlahan ia menormalkan jarak nya dan Nayeon. Bisa dilihat oleh kedua manik matanya, si gadis super bawel itu diam. Kaku seperti batu. 

“Jinyoung-aaahhh” 

Lirihan kecil Nayeon, membuat Park Jinyoung sadar bahwa dirinya baru saja melakukan satu kesalahan. Berani sekali dia melakukan itu pada Nayeon? Astaga! 

“Naa..yyy” 

Semuanya begitu cepat, Nayeon tidak pernah berpikir jika Jinyoung akan melakukan itu padanya. Astaga, ini ciuman pertamanya? Bahkan ia tidak pernah menyangka kalau first kiss itu akan terjadi seperti ini. 

Tak ada apapun yang bisa dilakukan Nayeon selain menatap bingung juga terkejut pada Jinyoung. Kini, Bus yang seharusnya mereka tumpangi pun sudah pergi. Hanya tinggal mereka berdua dibawah halte disore hari awal bulan september. 

“Nay, aku- 

Nayeon menatap Jinyoung yang kesulitan bicara. 

Apa? Apa yang ingin dikatakan Jinyoung? 

Apa dia akan mengakui perasaannya? 

Atau meminta maaf? 

Berhubung pengalaman ditolak Nayeon jauh lebih banyak ketimbang diterimanya. Ia pun memejamkan mata kuat-kuat dan meyakinkan diri kalau yang tadi hanyalah kecelakaan dan dirinya tidak boleh berharap lebih akan hal itu. 

Nayeonpun memutuskan mengalihkan pandang, ia menolak mendengar pernyataan Jinyoung. Melihat itu, lantas saja Jinyoung kembali mengunci rapat mulutnya. 

Terbesit rasa tidak enak hati pada Nayeon, Jinyoung melirik gadis yang menyukainya itu berulang kali. 

“Ehmmm… dingin ya” ungkap Jinyoung memulai percakapan memutus suasana canggung diantaranya dan Nayeon

“Eoohhh” balas Nayeon masih dengan sejuta kegugupan dalam dirinya. 

Dan sore itu, diawal bulan september. Untuk pertama kalinya, Park Jinyoung memulai percakapan kepada Nayeon. 
*** 
“Halo? Oppa maaf tadi teleponnya terputus” 


“Tidak apa, tadi kau bersama siapa?” 


“Ohh. Itu, it.. aku tidak mau bahas itu” 


“Yasudah, kau sudah sampai rumah? Pulang dengan siapa?”


“Ak..akuu.. juga tidak mau bahas itu, oppa sudah dulu ya” 
Tutt tutt tutt 

Sambungan telepon terputus, Park Chanyeol menjauh kan ponsel dari telinganya. Si pemuda Park itu menghembuskan napas kecewa. 
“Kenapa dengannya?” 
Chanyeol mengacak rambut frustasi, ia pun melempar ponselnya sembarang. Dan beranjak mencari air didalam lemari es. 
“Aku pulang” 
Chanyeol melirik sang adik yang berjalan melewatinya menuju tangga ke lantai dua. 
“Ya ya!” 
Jinyoung menghembuskan napas, ia menoleh pada chanyeol dan membungkuk memberi salam. Lalu, kembali lagi menuju kamarnya. Chanyeol berdenyit aneh. Sejak kapan adiknya sampai sebegitu sopannya? Pasti ada yang rusak pada otak Jinyoung. 
Segera saja Chanyeol meraih ponsel dan menuju kamarnya. Yang juga kamar Jinyoung. Sesampainya disana, Park Jinyoung sudah terduduk lemas dengan wajah kusam diatas ranjang adalah pemandangan yang disuguhkan.

“Kenapa denganmu?” Tegur Chanyeol.

Jinyoung memandang Chanyeol, pandangan itu seperti adik yang sedang mengadu pada kakaknya. Tatapan yang tentu saja membuat chanyeol makin penasaran. 
“Kau? Hei kenapa?” 
“Hyung” rengek Jinyoung
“Jelaskan” chanyeol mendudukkan diri didepan Jinyoung. Ia menarik kursi belajar dan memposisikan dengan tepat dihadapan adiknya itu.

Mereka pun saling menatap serius, Chanyeol yang sudah sangat penasaran, dan Jinyoung yang kesulitan membuka suara untuk mengatakan masalahnya. 

Hingga beberapa detik berlalu, Jinyoung menelan ludah kuat-kuat dan membuka suara. “Aku, aku menciumnya” 
Sontak chanyeol membelalak. Kata-kata adiknya ini tidak dimengerti. “Maksudmu?” 
Jinyoung menghembuskan napas, ia menunduk dan membaringkan tubuh keranjang menenangkan diri. “Aku menciumnya, gadis yang mengejarku selama tiga tahun itu” 
“YAKKK!” Chanyeol melempari Jinyoung dengan bantal. 
“Hyung!” 
“Kalau kau tidak menyukainya. Jangan berbuat yang lebih seperti itu, kau akan kena batunya nanti” 
Jinyoung memicingkan matanya, “aku tidak seperti mu hyung” 
“Kau menyindirku?” 
“Masa bodo, sekarang bagaimana denganku? Aku melakukan kesalahan, kalau sampai dia berpikir lebih dan mengharap yang aneh-aneh bagaimana?” 
“Jangan terlalu percaya diri” 
“Setidaknya, aku bertanya pada ahlinya” 

Chanyeol kesal, pembicaraan ini lama-lama membuat dadanya sesak karena rasa bersalah. Masa lalu yang ia seharusnya lupakan. “Jangan bertanya apa-apa padaku soal itu, kau tahu dengan jelas aku kalah dalam kasus seperti ini” 
Chanyeol berdiri. Ia menggeser kasar kursi yang sebelumnya ia duduki, melangkah keluar kamar setelah ia memastikan kalau ia sudah menyiram kepala adiknya dengan air dingin. 
“Yakk!” 
*** 
Masa lalu itu, bukan hanya sekedar kenangan. Masa lalu juga, bukan hanya untuk dijadikan pelajaran. Bisa jadi, masa lalu itu lah masa depanmu. 

Dulu, Chaeyeon tidak seperti sekarang. Duduk sendirian dicafe tepi jalan, menikmati udara pagi bersama aroma mocca favoritnya. Disebelahnya, hanya terdapat tas, bukan teman atau pacar. Dan digenggamannya bukan lagi tangan hangat orang yang dicintai, melainkan ponsel tempatnya melarikam diri. 

Jung Chaeyeon menarik napas dalam-dalam, lalu menghempaskan udara nya perlahan. Ototnya sedikit lebih mengendur, tidak lagi tegang seperti beberapa saat lalu. 

“Kunci nya adalah, syukuri hidupmu dan biarkan semuanya berjalan dengan sendiri” 

Perkataan salah seorang teman nya membuat sudut bibir chaeyeon terangkat, menimbulkan kurva berbentuk senyuman terlukis diwajahnya. Kata-kata bagai magis itu, adalah satu hal yang menjadi kekuatan untuknya belakangan ini. Teman yang, ia sendiri tidak tahu seperti apa rupanya tapi yang pasti, teman yang bisa membantunya walau hanya dengan kata-kata yang diucapkan. 

Begitulah kisah manis berteman didunia maya. 

Terlalu percaya? 

Entahlah, yang Chaeyeon tahu, tidak ada salahnya mendengarkan orang yang berkata benar sekalipun orang tersebut tidak benar bukan? Manusia itu terlahir tidak untuk menjadi jahat, hanya terkadang persepsi dan penyakit hati terlalu berkuasa. 

“Jung Chaeyeon?” 

Chaeyeon mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang sudah berdiri didepannya. Bola mata Chaeyeon lantas melebar, seseorang yang barusan menyapanya adalah Orang yang sama dengan yang bersama Jinyoung kemarin. 

Lalu, kenapa orang itu menegurnya? Apa dia mengenalnya? Eh tunggu, bukakah ia disini juga menunggu seseorang, menunggu teman dunia mayanya. Lalu jangan-jangan? “Im Nayeon?” 

Orang yang sudah mendudukkan diri tanpa rasa canggung dikursi kosong depannya itu lantas tersenyum ceria. “Ahaa kau mengenaliku, ya kau benar, aku Im Nayeon, malaikatmu” 

Chaeyeon bak ditampar kuat-kuat. Apa ini yang namanya kebetulan? Kenapa kebetulan yang terjadi padanya selalu kebetulan yang tidak menyenangkan. Dulu, suatu kebetulan juga yang melibatkan hubungan rumit antara dirinya, chanyeol dan jinyoung. Lalu sekarang? 

“Chayeon-ahh… kau sudah menghabiskan kopi mu? Huuhhh maaf aku terlalu lama datangnya ya?” 

Kalau memang benar Im nayeon teman curhatnya itu ternyata adalah gadis yang bersama Jinyoung kemarin. Berarti, lalu bagaimana dengan rencananya? 

Chaeyeon memandang Nayeon, Memaksakan seulas senyum terbaiknya, lalu menggeleng “tidak, aku saja yang terlalu haus, makanya langsung habis” ucapnya menanggapi pertanyaan Nayeon.

“Aahhh.. benarkah?” 

“Ya, memang tempatmu jauh dari cafe ini ya? Maaf ya aku hanya tahu tempat ini saja, tidak banyak waktu yang kuhabiskan dikorea dulu” Chayeon mencoba terlihat biasa, biarg bagaimanapun, bukankah Nayeon itu temannya? Terlepas dari kenyataan bahwa gadis itu adalah gadis yang dicium Jinyoung kemarin.

“Tidak kok, hanya ada masalah kecil, sayang sekali, korea itu juga sangat bagus, aku bisa mengajakmu berkeliling kalau kau mau” 

Rambut hitam sebahu yang bergelombang, poni kuda yang tak beraturan serta gigi kelinci yang unik, senyum Nayeon pun tak luput dari perhatian Chaeyeon. ‘Apa Jinyoung menyukai Nayeon? Dia cantik’  batinnya.

“Chaeyeon?” Nayeon mengibaskan tangannya didepan wajah chayeon. Mengembalikan gadis itu dari lamunan nya. 

“Benarkah? Euh tapi apa tidak mengganggumu dengan pacarmu?” Ungkap Chaeyeon kemudian.

“Ne? Pacar? Pacar apanya, aku kan sudah bilang padamu kalau aku mengejarnya hampir tiga tahun tapi tidak dapat juga” 

Mereka bertemu didunia, diforum tertentu yang membuat keduanya saling bercerita dan merasa cocok satu sama lain. Begitu banyak hal yang Nayeon ceritakan kepada chaeyeon. Termasuk tentang kisahnya dan Junyoung.

Tapi, Chaeyeon tidak pernah tahu dan tidak pernah berpikir, kalau Jinyoung yang disukai Nayeon itu adalah Jinyoung yang sama dengan Jinyoung masa lalaunya yang sedang ia usahakan untuk mendapatkan kembali.

“Iyakah? Bukannya kau- Chaeyeon teringat tentang adegan menyesakkan kemarin, tapi Nayeon menyela ucapannya 

“Apa?” Nayeon menjadi sedikit salah tingkah, pipinya memerah dan wajahnya tak kuasa menahan malu. “Berhenti membicarakanku, kita lanjutkan saja tentang rencanamu datang kekorea, bagaimana? Kau sudah siap?” 

Chaeyeon tertawa “jangan mengalihkan pembicaraan nabongse”

 

“Aiguuu jangan sebut pane name ku begitu” 

“Wae? Memang tidak boleh?” 

“Aku itu banyak fans nya, kalau sampai orang tahu yang menghebohkan wattie itu tulisanku aku akan jadi terkenal dan aku tidak mau” 

Chaeyeon dan Nayeon bertemu disitus wattie. Tempat biasa orang menuliskan sebuah cerita, pesan atau kesan dan bisa saling berdiskusi.

“Heolll~~ percaya dirimu tinggi sekali Nay” 

“Tentu saja” 

“Pantas saja mengejar cinta selama tiga tahun tanpa balasan pun tak malu” 

“Yakkkkk! Karena kau temanku kumaafkan kau bicara begitu” 

Chaeyeon tertegun, senyumnya sedikit luntur. Dirinya yang terhanyut akan suasana ceria yang dibawa Nayeon kembali pada kenyataan. 

Apa tadi Nayeon bilang teman ? 

Jadi Nayeon menganggapnya teman? 

“Chaeyeon-ah? Chaeyeon-ah?” 

“Ya?” 

Chayeon tersadar dari lamunannya, 

“Sepertinya kau masih lelah ya? Kalau begitu, besok saja kita lanjutkan, lebih baik istirahat lalu persiapkan rencana awalmu untuk mendapatkan kembali mantan pacarmu itu” 

“Apa… kau akan membantu ku, nay?” Chaeyeon bertanya ragu-ragu. 

“Tentu saja, itu gunanya teman, kau tahu meski kita hanya saling mengenal lewat dunia maya, tapi kau sudah seperti teman baikku bahkan saudariku” 

Chayeon mengulas senyum mendengar jawaban Nayeon yang tentu saja masih diselingi tawa ceria gadis itu. 

“Walau aku meminta orang yang kau kejar selama tiga tahun itu? Apa kau akan masih membantuku Nay? Apa karena aku temanmu, kau bisa juga melepaskan dia untukku?” Batin Chayeon. 

“Ah tidak, itu terlalu jahat”  Batinnya lagi kemudian. 
***
“Oppa, aku menyukaimu sungguh” 

“Chaeyeon-ah” 

“Aku.. aku sebenarnya tidak menyukai Jinyoung seperti yang orang tahu, aku.. aku menerimanya karena ku pikir dengan begitu aku bisa lebih dekat denganmu” 

“Hentikan Chaeyeon” 

“Oppa, aku tahu kau juga menyukaiku, kau mengatakan itu, aku yakin” 

“Iya, aku memang menyukaimu, tapi aku menghapus semuanya saat aku tahu kalau kau adalah pacar adikku” 

“Oppa, bukankah tidak apa-apa selama Jinyoung tidak tahu? Oppa apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan ku selama ini berpura-pura menyukai Jinyoung dan bertingkah sebagai pacarnya? Oppa ini juga menyiksaku” 

“Lalu kenapa kau lakukan itu? Itu salahmu” 

“Salahku? Lalu aku harus menunggu oppa yang tidak berani mendekatiku karena aku masih anak-anak? Lalu haruskah aku membiarkan oppa berdekatan dengan eonni-eonni kecentilan disekolahmu? Aku mengambil jalan ini karena kau! Karena aku ingin dekat denganmu! Karena aku ingin mendengar kalau kau menyukaiku” 

“Sudahlah chaeyeon—” 

“Oppa” 
ARGHHHHHHH 

Park Chanyeol berteriak kencang dan membanting stir mobilnya asal hingga menepi. Ia memukul stir kemudi dan menenggelamkan diri disana, kepalanya sakit. 

Kenapa ingatan itu tidak bisa dihapusnya ? 

“Bodoh chan! Kau bodoh! Seharusnya kau tidan ikuti permainan gila gadis itu dulu!” 

Pikiran lain mengganggunya. Chanyeol menarik napas dan mengatur nya. Ini tidak wajar, ini gila. 
*** 
Kenapa? 

Ini tidak wajar? 

Kenapa jantungnya berdegup kencang seperti ini? 

Ahh mungkin hanya karena perasaan bersalah.

Ya, hanya perasaan bersalah. 

“Ada apa?” Suaranya menyapa lebih dulu, Jinyoung mengangkat wajahnya dan menatap lekat dwimanik cokelat milik Nayeon. Sudah hampir sepuluh menit sejak ia menarik Nayeon kedalam ruang club Sinematografi ini berdua saja. Ia tak bisa bicara apapun untuk memulai konversasi dan menjalankan tujuannya, untungnya saja, gadis itu memulai lebih dulu. 
“Aku ingin bicara” jinyoung mengatasi perasaan anehnya dengan sempurna. 

“Kalau kau ingin bicara soal- 

“Aku minta maaf” buru-buru Jinyoung menyela ucapan Nayeon.

Im Nayeon membungkam mulutnya rapat-rapat saat ucapannya dipotong oleh Jinyoung. “A..a..apa?” Tanyanya terbata-bata. 

“Aku minta maaf, seharusnya aku tidak melakukan itu padamu, seharusnya aku- 

“Ahh, jadi minta maaf ya?” 

Kali ini, giliran Jinyoung yang menutup rapat mulutnya yang baru akan melontarkan jutaan alasan untuk membersihkan namanya karena ia yang berani mencium Nayeon. 

Jinyoung membulatkan matanya terkejut, satu tetes air mata baru saja terjatuh dihadapannya. Berasal dari kantung mata yang sudah berlinang dan bola mata yang memerah. 

“Nay?” JinYoung mencoba menenangkan Nayeon. Kenapa Nayeon harus menangis? “Maksudku aku–”

“Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya bergurau sempat berpikir bahwa kau memilih mengakui perasaanmu dibanding minta maaf” 

“Perasaan?” 

“Aku terlalu.. ah sudahlah Jinyoung-ah.. aku sedikit tidak enak badan” 

“Ne? Tapi, Nay?” 

“Aku bilang aku tidak enak badan Jinyoung!” 

Park Jinyoung terkejut, Nayeon berteriak dan kemudian berjongkok menangis sesenggukan. Gadis itu tidak bisa meredam isakannya, kalau saja ruangan sinematografi ini tidak dilindungi dinding yang kedap suara, mungkin seluruh orang disekolah sudah mengerubunginya dan menuduh Jinyoung yang tidak-tidak. 

Terlepas dari itu semua, Jinyoung mencoba mendekatkan diri pada Nayeon. Jemarinya terangkat hendak menggapai Nayeon, mungkin sentuhan dibahu gadis itu sedikit bisa menenangkan. 

Dan Jinyoung melakukannya. 

Tapi, bukannya mereda, tangisan Nayeon justru semakin kencang. Jinyoung lantas menyingkirkan tangannya dari bahu Nayeon. Ia menggaruk tengkuknya kebingungan. 

“Nay, kau kenapa? Apa aku salah? Kenapa menangis?” 

“Aku bilang.. aku tidak enak badan Jinyoung bodoh” 

“Lalu kenapa menangis hah? Kenapa mengataiku bodoh?” 

Nayeon memicingkan matanya tajam kepada Jinyoung. Mulut pemuda itu memang perlu bangku sekolah lebih lama lagi. Hei, apa pantas memprotes kata-kata seperti itu disaat orang sedang menangis? 

Jinyoung merogoh sesuatu dalam saku seragamnya, dan ia menemukan cokelat disana. Sempat bingung kenapa bisa ada cokelat disakunya, tapi Jinyoung tak ambil pusing dan memberikan cokelat itu pada Nayeon. 

“Kau mau cokelat?” 

Nayeon melihat cokelat yang ada digenggaman jinyoung. “Kau pikir aku anak kecil?” 
*** 
“Junior!” Teriak Nayeon

“Jinyoung!” Koreksi Jinyoung

Im Nayeon mengerucutkan bibirnya, ia mengangkat bahu santai tak menanggapi tatapan mata Jinyoung yang melotot. Ya, begitulah reaksi Jinyoung setiap ia menyebut nya ‘Junior’ . Padahal kan, itu panggilan sayang. 

“Ehm” 

Deheman Jaebum membuat Nayeon menoleh dan tersenyum hangat “hey Brother” ucapnya mengangkat tangan dan Jaebum menepuk balas tangannya. 

“Hello sister” 

Jaebum tak luput dari tawa bahagia, ia senang melihat Nayeon seceria ini. Bertingkah seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru, Nayeon tak merasa lelah meski sudah bergerak kesana-kemari membantu team sinematografi. 

Hari ini, adalah jadwal mereka merekam kegiatan club sekolah diaula, karena kebetulan hari ini diadakan pertandingan persahabatan team basket. Jadi, banyak yang harus didokumentasikan. Apalagi, hal seperti ini bisa menambah baik citra sekolah. 

Jinyoung menghembuskan napas nya memandang bergantian Im Bro-Sis itu yang menjebaknya dalam situasi ini. 
“Jadi, kau sudah memperbolehkan Nayeon menjadi anggota resmi club kita?” Bisik Jaebum pada Jinyoung. 

“Tidak” 

Jaebum mengerutkan kening, “lalu? Bukankah dokumentasi pertandingan basket bukan bagian dari projek?” 

Jinyoung menghembuskan napas malas, “kalau saja anak kelas dua tidak sedang tour keluar, aku tidak akan memintanya membantu” 

Jaebum ber-oh ria menanggapi itu, ia memang ketua club, tapi karena dirinya sedang disibukkan oleh olimpiade matematika, Jinyoung mengambil alih sementara. 

“Baguslah, jaga Nayeon ku ya, aku tidak bisa banyak mengawasinya selama olimpiade” 

Jinyoung menatap Jaebum serius. Lantas Jaebum menatap balik, “apa aku salah bicara?” Tanya Jaebum. 

“Apa urusannya kau tidak bisa menjaga Nayeon denganku?” 

Jaebum mendecih kesal, “Jangan sampai aku meninjumu disini Jinyoung! Kau tahu dia sampai tidak tidur menyiapkan catatan untukmu selama kau tidak masuk, anggap saja ini balas budi” 

“Kalian sedang bicara apa?” Nayeon muncul ditengah-tengah keduanya. Ia meletkkan kamera PD nya ke lantai dan memijat punggung. 

“Yak!! Kau menyuruhnya membawa ini?” Protes Jaebum. 

“Wae? Dia yang mau” 

“Tidak apa-apa Jaebum-ah” 

Jaebum mendengus, ia merangkul Jinyoung kuat-kuat. “Kau itu laki-laki bawa sendiri alat berat begitu!” 

Jinyoung memutar bola mata malas “Nayeonmu hanya membawanya dari ujung pintu sana sampai disini, yang membawa dari ruangan itu adalah sekumpulan anak kelas satu yang katanya fans saudaramu itu!” 

“Oho… dia populer rupanya” 

“Dia cantik, itu wajar” 

Jaebum terkejut, ia memandang Jinyoung. Begitu juga Nayeon yang tentu saja mendengar kata-kata Jinyoung barusan. 

“Oppa, apa dia baru saja bilang kalau aku cantik?” Bisik Nayeon pada Jaebum. 

“Eoh..” Jaebum mengangguk. 

Jinyoung menyadarinya, dan ia sedikit salah tingkah. Lantas ia berdehem menetralkan perasaanya lalu menoleh pada Nayeon. “Misi pertamaku selesai kan, kuharap sembilan misi selanjutnya cepat selesai juga” 

Nayeon menghembuskan napas, “yakk! Kau curang” 

Jinyoung tersenyum lalu meninggalkan Jaebum dan Nayeon. 

“Curang? Misi? Ada apa sih?” Tanya Jaebum selepas kepergian jinyoung. 

Nayeon menghembuskan napas, “oppa, kita lihat saja sebentar lagi, aku bisa mendapatkan cinta Jinyoung!” 

Nayeon berlari kecil kemudian mengikuti Jinyoung. Jaebum menggelengkan kepalanya, “anak itu” 
*** 
“Yakk .. mana bisa itu bagian dari misi, aku kan tidak bilang- 

“Poin ketiga, memuji Nayeon sebanyak mungkin, itu bagian dari sepuluh keinginanmu kan?” 

Nayeon mengerucutkan bibirnya, “iya sih, tapi kan- 

“Jinyoung! Nayeon!” 

Park Jinyoung dan Im Nayeon menoleh. Keduanya terkejut, bukan karena rambut baru Bambam yang aneh disana. Tapi karena seseorang yang berada disebelah Bambam. 

“Chayeon?” 

Jinyoung lebih terkejut lagi, kala Nayeon menyebut nama orang itu. 

“Kau mengenalnya?” Tanya Jinyoung. 

“Ne, dia temanku” 

Nayeon kemudian berlari menghampiri chaeyeon dan memeluknya. “Chaeyeon-ahh kau ? Kau disini?” 

Chaeyeon tersenyum, “aku akan sekolah disini Nay” 

“Benarkah? Waaahhhh pasti seru” 

“Nay, kau kenal teman secantik ini kenapa tidak bilang padaku sih?” Seru Bambam. 

Nayeon mendengus, “yak! Kau bisa bertemu boncel ini bagaimana ceritanya?” 

Bambam mengajukan protes, ia memelototi Nayeon kesal. Chaeyeon tertawa, “tadi, aku sedang mengurus pendaftaranku, lalu dia mengajakku berkeliling” 

Nayeon memukul lengan Bambam. “Modus” 

“Aww yak!” 

“Nayeon! Kita tidak banyak waktu” 

Suara Jinyoung menginterupsi, Nayeon menggigit bibirnya dan tersenyum, lalu kemudian ia menoleh pada Jinyoung. “Kau ini, sapa dulu temanku baru kita kembali” 

Chaeyeon menatap Jinyoung sendu, ia tidak bisa menutupi perasaanya yang membuncah. 

“Nay!” 

“Sebentar Jinyoung, sini” Nayeon menarik lengan chaeyeon mendekat kearah Jinyoung. 

“Chaeyeon, kenalkan ini Jinyoung, yang aku ceritakan itu”

Jinyoung menoleh malas, semetara chaeyeon tersenyum dan mengulurka tangan. “Sudah lama ya, Jinyoung” 

Nayeon terkejut, Jinyoung juga. “Kalian, saling kenal?” Tanya Nayeon kebingungan. 

Jinyoung memandang Chayeon heran, apa maksudnya gadis itu mengaku saling mengenal dengannya. Ya memang, tapi sungguh sikapnya itu membuatnya tak tahan. 

Lantas, Jinyoung meraih tangan Nayeon dan menariknya. 

“Sudah Nay ayo!” 

“Yak Jinyoung-ah” 

Chaeyeon tertawa miris, “dia dan Nayeon? Aku?” Lirihnya. Yang tentu membuat Bambam yang berada disebelahnya kebingungan. 

“Kenap aku tidak suka ya melihatnya” liih chaeyeon lagi. 

“Mwo?” 

Tanp sadar kalau masih ada bambam disana. 

To Be Continued
Happy Reading, mohon maaf kalau masih banyak Typo dan kalau ada yang kurang suka dengan couple ku ini. Ini hanya untuk kesenangan, tidak bermaksud menyinggung atau sebagainya. 

Mind to review, Thank you~~~ 

Iklan

21 tanggapan untuk “Gotta Have You #3 

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s