Bad Day

A ficlet by 29megumi

Special cast

Kim Soeun (Actrees) X Song Jaerim (Actor) X Lee Junho (2PM) X Lee Yoobi (Actrees)

Sad, Romance, Friendship | Ficlet | PG-16

Apa belum terlambat untuk Soeun meminta kembali jatah perasaan Junho yang dulu?

***

 

“Maaf, aku tidak bisa”

Bulir-bulir cairan bening itu perlahan keluar dari pelupuk mata seorang Kim Soeun. Gadis itu tidak sanggup lagi menahannya. Ini sudah terlampau sakit, matanya terasa perih, seperih hatinya kini mendengar kata perkata yang terlontar dari sang kekasih.

Pandangan gadis itu mulai mengabur karena tertutupi genangan air mata, meski begitu, gadis itu tak berniat mengalihkan pandang sedikitpun dari manik mata hazel laki-laki dihadapannya.

“Kita berakhir”

Bahu Soeun melemas, air mata itu kini dengan lancar mengalir, menumpahkan segala rasa sakit yang tertahan. Satu kata yang mampu mematahkan perasaannya, mematahkan keteguhan hatinya, dan mematahkan kesan dingin yang selama ini disandangnya.

Tubuh tegap dan mumpuni dihadapan Soeun pun sudah berbalik, hendak melangkah pergi, tanpa peduli akibat dari satu kata laknat yang diucap

“Kenapa?” Akhirnya, pertanyaan itu keluar dari bibir mungil Soeun.

Laki-laki itu menghentikan langkah, tanpa berbalik pria itu menjawab “aku bosan”

Dan segera setelah itu, Pria itu benar-benar melangkah pergi tanpa menoleh sedikitpun.

Sementara Soeun sudah terduduk lemas dan mulai terisak, semakin ia memikirkan kejadian ini, semakin ia merasa tersakiti.

Bagaimana bisa sebuah hubungan yang dilalui lebih dari dua tahun bisa berakhir hanya karena kata ‘bosan’ ? Bagaimana bisa kenangan indah yang dibangun bertahun tahun bisa hancur hanya karena rasa ‘bosan’ ?

Jika pun memang pertemuan beriringan dengan perpisahan, Soeun tidak mau perpisahan yang seperti ini. Ia sudah amat sangat menyayangi Jaerim. Ya, Song Jaerim. Si pria yang ‘bosan’ padanya.

Tidak bisa kah, kematian yang memisahkan cinta saat? Tidak bisa kah, usia saja yang memisahkan cinta diantara kita?

Soeun makin menangis tersedu, isakannya bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Tak peduli, jika beberapa orang yang lewat menatap aneh. Gadis itu bahkan merasa, jika ia hanya sendiri dan penuh kehampaan didunia.

Bagaimana selanjutnya ia bisa hidup tanpa Jaerim? Masa depannya yang sudah ia khayalkan selama ini pupus tak tersisa, bahkan ia sampai merelakan laki-laki yang mencintainya dulu, semua demi Jaerim. Lalu apa lagi yang ia punya sekarang?

***

“Semuanya berakhir?” Lirih Soeun

“Kata akhir tidak harus disikapi seperti ini, kau terlihat menyedihkan, bangunlah”

Soeun menoleh, sepasang kaki berdiri disampingnya. Gadis itu perlahan mengadahkan kepala untuk melihat siapa yang baru saja berucap,

Mata Soeun membola, bibirnya bergetar ketika senyum termanis yang dahulu selalu mengiringi hidupnya, hadir kembali disaat ia berada diambang kehancuran.

“Junn..hooo?” Lirih Soeun.

Senyum hangat kembali Soeun terima, membuat gadis itu segera bangkit dan memeluk erat Junho. Masa lalunya yang kembali.

Soeun menumpahkan seluruh rasa sakitnya dalam pelukan Junho, gadis itu memeluk Junho erat dan sangat erat. Mengatakan pada Junho kalau ia sedang sakit dan rapuh, mengatakan pada Junho kalau ia hampir mati karena perasaanya.

“Uljimmaaaaa.” Tangan Junho terulur membalas pelukan Soeun, mengusap punggung kepala gadis itu, menekan gadis itu akan semakin erat padanya.

“Kau bodoh”

Soeun menangis, ya, dia terima pernyataan itu. Ia memang bodoh, bodoh karena dengan mudahnya terjebak dalam rayuan Jaerim. Sampai-sampai meninggalkan Junho yang selalu menunggunya.

Junho merenggangkan pelukannya, “kau ini kenapa ? Menangis tidak menyembuhkan hatimu” Junho menghapus jejak air mata Soeun dengan jemarinya.

Laki-laki bermata sipit itu mendekatkan wajahnya, menangkup wajah Soeun, lalu meniup lembut kedua mata Soeun.

“Jangan menangis, pria itu tidak pantas ditangisi”

“Aku tidak menangisinya”

“Lalu?”

“Aku menangis, karena menyadari aku bodoh”

Junho tertawa, “akhirnya kau mengaku bodoh juga”

“Yaaa.. Lee Junho”

Soeun menatap tak terima, dan Junho malah tertawa. “Kalau begitu, jangan pikirkan yang macam-macam kim Soeun”

“Kau bisa membaca pikiran?”

“Tidak”

“Lalu? Dari mana kau tahu apa yang ku pikirkan”

“Semua yang diputuskan cintanya begitu saja, apalagi hanya karena alasan kecil, pasti berpikiran tentang mengapa? Dan bagaimana bisa alasan putus itu ada didunia ini?,, tapi setidaknya kau harus tahu menyikapi itu semua”

“Kau paham sekali” Soeun menunduk, menghapus air matanya, ajaib, kini Soeun sudah merasa sedikit lebih tenang.

“Itu yang kurasakan, saat kau tidak kunjung menerimaku dan malah pergi bersama Jaerim”

Bagai tertohok besi panas, Soeun terbatuk, ia kemudian menatap mata Junho penuh rasa bersalah dan menyesal.

“Jun…”

“Sudahlah lupakan, toh aku sudah baik-baik saja”

“Kau tidak marah padaku?”

“Kau tahu dengan benar kalau aku tidak bisa marah padamu”

Soeun mengulas sedikit senyum, hatinya menghangat. Ia menatap Junho, ia terlalu bodoh menyia-nyia kan Junho dulu, kenapa ia bahkan baru menyadari jika Junho seribu kali lipat lebih tampan dibanding Jaerim?

Apa belum terlambat untuk Soeun meminta kembali jatah perasaan Junho yang dulu?

“Junho…”

“Ya”

“Aku..-,

“Wahh kau sudah tidak sedih lagi? Daebakk.. ternyata aku itu berguna ya?”

Soeun terkekeh, ia juga heran pada dirinya sendiri. Kenapa pula ia dengan mudahnya melupakan sakit hatinya pada Jaerim

“Junho..”

“Junho oppaaaa”

Soeun dan Junho sama-sama menoleh, pada suara lain yang memanggil Junho selain Soeun.

Seorang gadis manis berlari kecil menghampiri tempat mereka berada. Soeun bingung, ia bahkan tidak mengenal gadis itu, lantas Soeun menoleh pada Junho. Dan ia melihat, Junho tersenyum hangat pada gadis tadi.

“Kau sudah menunggu lama? Huhh bosku tega sekali, waktu pulang ku diundur”

Gadis tadi sudah berada ditengah-tengah mereka, mengadu manja pada Junho. Membuat alis Soeun saling bertaut menimbulkan tanya,

“Tidak terlalu lama, aku tidak masalah menunggu gadis manis sepertimu sayang”

Junho menjawir hidung gadis tadi, mata Soeun menatap tak percaya. Apa ini? Apa maksudnya ini?

“Eohhh.. eonni nugu?” Nampaknya gadis tadi baru menyadari keberadaan Soeun.

Soeun tak menjawab, ia sudah cukup shock dengan panggilan sayang Junho untuk gadis itu,

“Ah.. aku lupa, Yoobi-ahh. Kenalkan, ini Soeun. Teman lamaku”

“Jinjjah? Wahh.. senang bertemu denganmu, salam kenal, aku Lee Yoobi”

“Dia pacarku” imbuh Junho dan merangkul Yoobi.

Soeun masih membeku ditempatnya, kenapa hari ini kejadian kejam terus berdatangan padanya, ia dibuat jatuh akan perasaanya karena alasan klasik, dan kemudian dibuat lagi bangkit karena kehadiran masa lalu, lalu kembali dilemparkan pada kenyataan, jika masa lalu ternyata hanyalah masa lalu.

Hari ini, adalah hari paling buruk yang terjadi pada Soeun.

Hari dimana ia tidak bisa menggapai masa depannya, juga tidak bisa kembali pada masa lalunya.

Lantas, adakah yang salah akan dirinya? Kenapa semu ini bisa terjadi padanya? Berbagai pertanyaan muncul dibenak Kim Soeun, tapi otak pintar yang sudah menghantarkannya menjadi jaksa ternama itu pun tak mampu mencari jawabannya.

                Rasanya mau menangis, bukan! Malah soeun sudah menangis dalam diam. Terlebih ketika Junho kembali membuka suara, menjawab segala Tanya dan rasa sakit yang ia rasakan.

            “besok-besok, kau harus menghargai mereka yang menyayangimu ya”

            Katanya sebelum benar-benar pergi dengan gadis yang ia bilang pacarnya.

Fin

Iklan

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s