(Ficlet) Precious Love

image

“You Dont know, how much i regret letting you go”

.
.
.

Im Nayeon (Twice) x Park Jinyoung (Got7)
A stroy by 29Megumi

Romance, school life, AU | Ficlet | G

.
.
.

***

“Comeback to me, forgive me”

Jika satu kata maaf selalu bisa menyelesaikan masalah, mungkin Park Jinyoung tidak akan melakukan hal bodoh ini terus menerus hanya untuk meminta gadisnya kembali.

“Kau tidak bosan? Memang dia pernah membalas surat-surat mu itu?”

Jinyoung menggeleng, tapi tidak membuat jemarinya berhenti menulis dua kalimat yang selalu ia sampaikan setiap hari untuk gadisnya.

Mark saja sampai bosan, mungkin juga tukang pos bosan mengirim surat ketempat yang sama setiap hari.

“Ayo”

Jinyoung bangkit dari duduknya, melipat selembar kertas berwarna peach ditangan kemudian meletakkan nya pada kotak pos dijalan. Begitu selalu kegiatannya setiap pagi sebelum pergi kuliah.

“Yakk Jinyoung-ah, memangnya apa yang terjadi antaramu dengan nayeon sih? Sampai sebegini melow dramanya” mark mengekori jinyoung sembari melontarkan pertanyaan tanpa melewati proses penyaringan.

Mendapati sahabatnya itu mendadak berhenti melangkah, berdiam diri tak mengucap apa-apa. Mark membungkam mulutnya dan merutuk diri sendiri. Pandai sekali kau membuat mood jinyoung buruk mark.

***

Rambut ikal sebahu yang dikuncir dua menyamping, poni yang mengembang juga hiasan bandana tipis diatas kepala membuat Im Nayeon makin-makin terlihat manis dibanding biasanya. Kaca mata tebal jadul yang dikenakannya pun tak mengurangi sedikitpun wajah nayeon yang cantik. Tetap membuatnya sempurna dan berbeda.

Selama hampir tujuh belas tahun selama hidup, nayeon tak pernah merubah gaya berdandannya. Dan Jinyoung yang sudah hampir setengah hidupnya bersama-sama dengan nayeon pun tak pernah merasa bosan atau memprotes sahabatnya itu.

“Nay, aku ingin bicara sesuatu”

“Sebentar ya, ini belum selesai”

Tapi, setebal apapun kaca mata nayeon. Tetap saja otaknya tak mampu mengimbangi Jinyoung. Mengerjakan sepuluh soal matematika saja sampai menghabiskan waktu dua jam.

Jinyoung menghela napas, menelengkupkan kepalanya diatas meja dan menunggu nayeon pun tak masalah.

Bosan menunggu, jinyoung meraih kotak pensil nayeon, memainkan isinya mengetuk-ngetuk diatas meja.

“Masih lama?”

“Sebentar, satu nomor lagi” nayeon membenarkan letak kaca matanya dan menajamkan fokus pada lembaran soal yang dipegang.

“Sini, aku bantu”

“Tidak”

“Dasar pala batu”

“Stttr diam!”

“Aku haus, kau mau minum?”

Nayeon mengangguk,

“jus durian?”

Nayeon meletakkan kasar kertas yang dipegangnya. Lama-lama jengkel juga dengan sikap jinyoung yang bawelnya melebihi ahjumma ahjuma penjual ikan dipasar.

“Boleh saja, kalau kau bersedia pulang menggendongku”

“Oho… kutinggal saja disini kalau kau pingsan karena bau durian”

“Yakkkkkkk!”

Jinyoung lebih dulu berlari dan tertawa terbahak-bahak. Si Im itu memang menggemaskan.

***

Satu kenangan yang sedikit membuat Jinyoung malas berlama-lama didalam perpustakaan. Nayeon terlalu mendominasi pikirannya. Terlalu kejam menghujam perasaannya. Makin sering berada ditempat yang biasa ia habiskan waktu dengan nayeon, makin rasa bersalah menghampirinya.

Andai saja waktu itu, ia bisa menghargai sedikit lebih perasaan nayeon yang nyatanya sangat-sangat penting untuknya. Mungkin, semua kesepian ini tidak akan terjadi diusia nya yang menginjak duapuluh satu tahun.

“Mark,  bisa cepat sedikit”

“Sebentar”

Jinyoung menggerutu, rasanya sesak disini. Tanpa pamit, jinyoung lantas melangkah keluar perpustakaan dan memilih menunggu diluar. Masa bodo dengan teriakan mark yang membuat seluruh pasang mata menatap mereka aneh.

“Yakkkk kau ini kenapa sih”

Mark mengejar jinyoung.

“Park Jinyoung! Hei!”

***

“Jinyoung-aaahhhhhhh”

“Yaakkk Park Jinyoung!”

“Heiiiiii junior!”

“Nay stop berhenti memanggilku begitu!”

Nayeon menyunggingkan cengiran khasnya, “siapa suruh dipanggil tidak menyahut”

“Aku sibuk tahu!”

“Sibuk memetik-metik ini”

Nayeon memainkan senar-senar gitar yang dipegang jinyoung.

“Yakkk!”

Mengerucutkan bibirnya, nayeon memasang aegyeo yang sukses menggelitik perut jinyoung.

“Jinyoung-ah, aku mau bertanya sesuatu”

“Apa?”

Dan karena aegyeo anehnya itu, jinyoung lantas dengan mudah mengalihkan perhatian untuk nayeon.

“Eumm.. kau tahu kan aku menyukaimu?”

Jinyoung tertawa, “nay, berhenti melucon begitu”

“Aku serius tahu!”

“Ya ya ya, baiklah”

“Hanya itu?”

“Lalu?”

Nayeon menghembuskan napas kesal, apa kurang pengakuannya selama ini? Apa masih dianggap candaan?

“Memangnya selama ini, aku terlihat bercanda ya?”

Jinyoung tertawa, laki-laki itu meletakkan gitarnya, kemudian menggeser kursinya lebih mendekat dengan nayeon.

“Dengar ya Im Nayeon ku sayang-”

Jinyoung mengusap-usap poni nayeon lembut, berbicara lembut dan menatap lembut. Nayeon sampai kehabisan napas dan gugupnya bukan main.

“Kita ini berteman sejak kecil, dan aku sudah tau kalau kau menyukaiku, kalau kau tidak menyukaiku mana mungkin kita bisa berteman sampai sekarang”

Nayeon mengerutkan keningnya “bukan itu yang aku maksud”

Jinyoung mencubit gemas pipi nayeon. “Kau ini lucu”

Setelahnya, Jinyoung bangkit dan hendak pergi masuk kedalam rumah. Bukan apa-apa, sebenarnya Jinyoung tahu kemana arah pembicaraan nayeon. Dan jujur, ia tidak mau membahas itu. Perasaannya sendiri saja belum jelas. Dan ia juga tidak mau kehilangan nayeon nantinya.

“Kalau aku bilang, aku menyukaimu sebagai laki-laki bagaimana ? Rasa suka seorang perempuan terhadap laki-laki, seperti rasa suka eomma ku pada appa ku”

Jinyoung memejamkan matanya, kenapa nayeon mudah sekali bilang suka sih?

“Kau sepertinya lelah, ayo ku antar pulang”

Mengalihkan pembicaraan, jinyoung mengenakan jaketnya untuk nayeon. Lantas menuntun nayeon mengikutinya.

***

“Ada surat”

Nayeon berlari dari dapur, menuju segerombolan wanita-wanita yang sibuk memeriksa hadiah mereka masing-masing diruang tamu.

“Mana suratnya?”

“Sudah ku letakkan manis dikamarmu eonni sayang”

***

“Jinyoung”

“Ya?”

Tidak seperti biasanya, gerakan nayeon yang menyentuh ujung kemeja jinyoung dari samping ini. Terlihat seperti gadis itu seakan tengah mengaduh dan menangis. Terakhir kali nayeon melakukan ini, ketika mereka masih sekolah dasar dimana nayeon menangis akan kepergian ibu jinyoung kesurga.

Jinyoung tak berani menoleh, ia takut jika nayeon menangis. Dan alasannya itu karena dirinya.

Isakan isakan kecil mulai terdengar, jinyoung menarik napas dalam dan mencoba berbalik badan perlahan. Benar saja, nayeonnya tengah sibuk menahan isakan.

“Ke..ke..kenapa menangis?”

“Apa aku tidak boleh menyukaimu?”

“Nayeon-ah, ini mulai tidak lucu”

Hembusan napas nayeon dan merenggangnya genggaman nayeon terhadap kemeja jinyoung. Memberi isyarat pahit.

“Maaf”

“Nay, aku-

“Tapi aku sangat menyukaimu, aku menyukaimu, aku menyayangimu, aku tidak pernah melihat laki-laki lain, aku, aku hanya menyukaimu, bukan sebagai jinyoung temanku”

***

Seseorang pernah berkata, penyesalan itu selalu hadir dibelakang. Dan seseorang lain pernah menimpali, dari pada menyesali, lebih baik perbaiki diri.

Jinyoung paham betul bagaimana rasanya sebuah penyesalan itu. Setiap hari kau bagai diteror rasa salah akan ini dan itu. Dan merutuki kebodohan sendiri, bertanya seperti petikan lagu apakah waktu dapat berputar kembali?

Tapi sampai sekarang, Jinyoung sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya. Ia sudah meminta maaf, dan bahkan dengan percaya dirinya meminta gadis itu kembali. Padahal, sudah jelas didepan mata, mereka berdua berada ditempat berbeda walau dalam satu teritori yang sama.

“Ini untukmu, semoga bisa membantu”

Kedatangan mark dan secarik kertas tipis yang melayang didepan wajahnya, Jinyoung bingung tak mengerti.

“Itu tiket fansign, besok jam empat sore”
“Fansign?”

“Ouhhh aku bahkan merelakan tiket Gratisan bertemu Myoui Mina ku sayang hanya untukmu bung! Cepat simpan itu sebelum aku berubah pikiran”

***

“Aku lulus”

“Ya,”

“Kau tidak mau bilang, aku juga?”

Setelah malam itu, Jinyoung menghindar. Nayeon tahu karena semua nampak begitu jelas. Kau tahu seperti apa rasanya?

Nayeon ingin memuntahkan seluruh air mata dan berteriak sampai tenggorokan keluar dari sarang untuk melampiaskan betapa sakit merasakan sikap jinyoung padanya.

Menghindar saat berpapasan, bicara seperlunya, tak saling mengabari pesan satu sama lain, tidak lagi bersama setiap waktu. Terkadang, nayeon berpikir, apakah perasaan suka nya salah? Apakah suka yang berarti cinta yang dimilikinya untuk jinyoung itu salah?

Jinyoung tersenyum, lalu mengalihkan perhatiannya pada seisi kelas dan teman-teman lain yang sedang merayakan kelulusan. Ia diacuhkan, lagi.

Nayeon menghembuskan napas lelah, bersamaan dengan itu, satu tekat membulat dihati dan pikirannya.

Gadis itu membalikkan tubuh, mengejar jinyoung dan mengikutinya.

“Jinyoung-ah”

Tidak didengar. Jinyoung sibuk bersenda gurau. Begitu pun yang lainnya, wajar saja sebenarnya, nayeon sikaca mata itu tidak pernah dilihat siapapun disekolah.

“Jinyoung”

“Aku pergi, Jinyoung-ah”

Nayeon meneteskan air matanya, mengusapnya dan berbalik pergi. Setidakknya ,, ia sudah pamit.

***

“Eonni, itu dia itu dia”

“Mina, diam” nayeon mengerucutkan bibirnya kesal. Tidak tahu ya, kalau bagian memakai lip balm itu yang terpenting untuk nayeon.

“uuuu.. fans tampan itu?” Jungyeon menanggapi mina yang sibuk menatap pemandangan luar van dengan mata berbinar-binar.

“Ya, ahhh sudah kuduga dia pasti datang, aku masih menyimpan bandana bunga darinya”

“Heoll… eonni sedang jatuh cinta” suara chaeyeong menggelegar nyaring menggelitik tawa wanita-wanita titisan bidadari songo yang sedang melejit namanya dikorea.

“Eoh, nayeon eonni, lihat ada buket bunga besar atas namamu!  Wahh daebak”

Nayeon melihat kearah mina menunjuk, walau tidak begitu jelas. Tapi, nayeon mampu membaca kalimat yang mengeliling buket itu.

“Comeback to me, forgive me”

***

Ratusan orang berkumpul, saling berebut posisi menjadi yang terdepan. Mungkin, jinyoung lah yang paling kaku sekarang. Sesaat setelah ia meletakan buket bunga didepan pintu masuk, ia tidak tahu jika manusia-manusia yang harus ia lewati untuk bisa sampai di posisi depan adalah mereka laki-laki yang cukup memiliki badan bagus.

“Mark, bagaimana bisa kau melewati mereka biasanya?”

Mark mengedikkan bahu, “mana aku tahu, selalu ada jalan menuju myoui mina ku”

“Selalu ada jalan ya?”

“Ya, dan menulis surat terus menerus tanpa mencoba mendatangi itu namanya pengecut”

“Apa?”

“Sudah sana, aku pulang, semangat Jinyoung! Semoga baby bunny mu mengenalmu ya”

Mark melambaikan tangan dan berjalan keluar. Jinyoung tersenyum cerah. Menggenggam satu buket bunga kecil ditangan erat, dan berdoa.

“Ya, semoga”

Fin

Iklan

4 comments

  1. Hahahhha makanya jgn gtu lol
    Ini nay cuman suka apa cinta
    Harus nya dia blg cinta baru deh junior nya mau ..ato malu krn cewek yg ngungkapin duluan hahahahhaha

    Pendek amet saeng

    Disukai oleh 1 orang

Good Readers? Leave U'r comment yaa ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s